Menurut Anne Cassey ada beberapa hal di dunia ini yang ia anggap mustahil. Salah satunya hidupnya tanpa musik dan tidak ada keributan di rumahnya.
Anne menggendong tasnya, memakai earphone miliknya, setta memasukkan headphone cadangan ke dalam tas lalu menyetel musik sekeras-kerasnya.
Seperti biasa, pantulannya terlihat menyedihkan. Ah, tidak. Dirinyalah yang memang menyedihkan.
"Semangat!" Anne berjalan memegang gagang pintu kamarnya dengan sedikit menghela nafas. Bahkan dari dalam kamar pertengkaran kedua orang itu benar-benar tidak bisa ditoleransi.
"Gue kerja! Engga kaya lu!" Ayahnya berteriak dengan logatnya yang khas itu.
"Terus, kamu pikir aku engga kerja?! Aku kerja!" Ibu yang tetap saja tidak bisa mengoreksi diri, Kiana Purnama.
Sejak kapan ini dimulai? Mungkin sejak ia lahir?
"Pulang sama cowo gitu lu bilang kerja?!"
Anne hanya melirik mereka sebentar lalu pergi dengan tenang.
Krek.
Earphone-nya ditarik. "Lu juga! Masih pagi bukannya sekolah!" Ini Ayahnya, Brandon Cassey.
"Mata ayah buta?" Anne menjawab dengan santai. Tumbuh dilungkangan seperti ini membuatnya terbiasa.
Brandon menatapnya dengan marah, tangannya sudah naik ke atas siap untuk menampar anak tunggalnya.
Anne hanya diam menunggu tamparan yang ia yakini tak akan datang. Ayahnya itu takkan berani menamparnya yang akan bersekolah. Bisa-bisa harga dirinya sebagai 'Ayah' hancur.
"Udahan dulu ributnya, Anne udah bikinin nasi goreng di belakang. Bibi datengnya jam delapan, jangan diberantakin berlebihan rumahnya."
Benar-benar tak ada emosi di dalamnya, Anne hanya berucap seperti yang ia lakukan sehari-hari. Anne menyodorkan tangannya dengan santai. "Uang jajan?"
Meski sering bertengkar, hidupnya jauh dari kata kekurangan uang. Kedua orang tuanya yang bekerja itu menghasilkan lebih dari cukup.
"Kartu kamu bulan ini udah diisi sama Bunda. Nih uang cash-nya." Bundanya itu mengeluarkan uang kembaran seratus ribu dengan santai. Lalu pergi meninggalkan ia dan ayahnya menuju meja makan.
Awal bulan memang indah sekali, meski uangnya selalu sisa tetap saja isi kartunya semakin bertambah.
Anne menatap ayahnya lalu salim dan pergi seperti biasa menggunakan jasa ojek online kesayangan para warga.
-
Anne berjalan santai sepanjan korridor sekolahnya, ia bukan anak populer jadi jauhkan bayangan kalian dari dirinya lewat bagai superstar ayu nan cantik.
Aku datang kursi kesayangan!
Anne membatin senang. Meja yang seharusnya untuk dua orang itu hanya miliknya, kursi disampingnya selalu kosong, serta ia ada di paling belakang pojok kanan dekat jendela. Sungguh tempat duduk yang didambakan orang-orang.
Setelah berhasil duduk, Anne menaruh tasnya di kursi samping yang kosong. Mengeluarkan handphone-nya serta buku tulis untuk mengerjakan tugas yang tak sempat ia selesaikan.
Dengan santai lagu milik girlgrup yang sedang berada di puncaknya itu terdengar di telinganya. Suaranya yang cukup keras membuatnya terasa berada di konser.
Anne mengerjakan tugasnya dengan hati-hati sampai seseorang tiba-tiba menepuk bahu kanannya.
Santai, ini bukan pem-bully-an. Meski mereka menjauhinya karena memang ia yang memasang tembok sendiri, mereka tak pernah men-bully seperti apa yang terjadi di kisah-kisah televisi.
"Gue udah tugas yang itu, mau liat?" Jason, si wakil ketua kelas santai yang kerjaannya tidak jelas. Karena ia hanya wakil tentu saja.
"Engga usah ini juga udah pen kelar, Jas. Makasih udah nawarin." Jason hanya menggangguk lalu pergi. Murid lain pun tidak terlalu peduli juga, menurut mereka Anne selalu seperti itu, memasang tembok sehingga tak ada yang berbicara dengannya.
Selesai mengerjakan tugas, Anne memasukkan lagi bukunya dengan santai.
Dimatikan musik yang sedang ia putar itu dan beralih ke salah satu game yang ada di ponselnya.
Mobile Legends.
Meski ia bukan seseorang yang jago main dan terkadang mengesalkan bertemu tim yang kasar, tapi tak ia pungkiri memainkan game ini cukup mengasikkan.
Anne mengecek jam terlebih dahulu sebelum memaikannya, jika sudah mulai ia tak akan bisa keluar kecuali game-nya sudah selesai.
Anne tertawa kecil dengan ponsel di tangannya, muka seriusnya pun tak dapat ia pungkiri sangat terlihat, alisnya pun berkerut.
Ayo dong, dikit lagi menang.
Anne terus memainkannya hingham tanpa sadar bel berbunyi dan guru sebentar lagi akan masuk.
Ia mempercepat permainannya serta menyuruh teman satu timnnya untuk tetap maju dan mempercepat kemenangan.
Ga lucu banget kalau afk padahal bentar lagi menang.
Anne berdoa guru bahasa Indonesia-nya itu ngaret seperti biasa sehingga ia bisa menyelesaikan permainannya dengan tenang.
Setelah permainannya selesai, Anne berganti aplikasi dan membuka Wattpad, tak ada cerita yang benar-benar bisa ia bagikan disana. Rata-rata isinya adalah novel terjemahan. Seperti novel Jepang, China, dan Korea. Kebanyakan dari mereka juga bertema fantasi dengan sedikit bumbu romantis atau ada yang sedikit fantasi dengan banyak romantis, yang pasti hampir semuanya adalah reinkarnasi, time travel, atau isekai.
Hingga saat ini, jika seseorang bertanya novel korea bertema fantasi yang bagus apa, maka Anne akan menjawab Trash of The Count's Family. Novel itu benar-benar memiliki tempat tersendiri di hatinya meski ia baru membaca sekitar 400 chapter. Novel itu juga masih on-going dan hingga saat ini sudah memiliki lebih dari 600 chapter, gila bukan? Ceritanya benar-benar worth it untuk dibaca marathon hingga lupa tidur.
Lupakan novelnya, lima menit telah berlalu sejak Anne membuka aplikasi orange itu. Guru Bahasa Indonesia yang bernama Siti itu pun masuk dengan tas dan buku di lengannya, tidak lupa ponsel dalam genggamannya dengan santai seakan ia memasuki kelas tidak telat sama sekali.
"Hari ini akan ada ulangan Bahasa Indonesia ya, kalian udah belajar bukan?"
Hah? Sejak kapan Bu Siti memberi tahu ada ulangan? Sepertinya tidak, anak kelas ini pasti sudah ramai semalam di grup line kelas jika hari ini benar-benar akan ulangan.
"Maaf ibu, ibu belum memberi tahu bahwa hari ini ada ulangan." Kevin, si ketua kelas kebanggaan kita pun berdiri, murid lain pun menatapnya bagai pahlawan pagi hari yang cerah.
"Loh? Ini kelas berapa emang? Perasaan ibu udah kasih tahu loh hari ini ulangan ke XII MPA 3. Kalian XI MIPA 3 kan?"
Dan terjadi lagi, gurunya salah mengenali kelas.
"Bukan bu, hehe. Kita XI MIPA 6." Kevin tertawa canggung dengan kesal sekaligus lega.
"Loh emang? Yaudah maafin ibu ya. Kelas kalian di pertemuan selanjutnya akan ada ulangan Bahasa Indonesia."
"Baik bu, terimakasih." Kevin pun duduk kembali dengan tenang, begitu pula murid sekelas termasuk Anne yang menghela nafas lega. Meski kita sehari-hari berbahasa Indonesia, mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang sangat berbeda. Ulangannya pun tak main-main, rasanya Anne pun ingin menenggelamkan diri.
Pembelajaran pun mulai sebagaimananya.
YOU ARE READING
Quietly Harmony
Teen FictionAnne Cassey, perempuan pendiam yang selalu duduk sendirian tanpa teman. Hari-harinya di sekolah tenang dan tentram tanpa gangguan walau orang-orang menganggapnya manusia aneh yang hidup dalam dunia khayalan. Semuanya tenang sampai Marcelio Savian da...
