Bab 1- Sekolah, Martabak, dan Kedai

360 170 450
                                        

Ini lembar pertama perjalanan hidupku.

***

Dari hari sebelumnya, akhir-akhir ini sekolahku tengah di gemparkan permainan unik yang bisa di mainkan hanya menggunakan kertas. Kertas? Iya kertas, kita menulis beberapa nama orang di kertas itu. Lalu melakukan cara-cara yang menjadi jalan permainan ini, nanti akan ada satu orang yang dijadikan sebagai kekasih kita. Hanya untuk bersenang-senang. Camkan itu!

"Gin,"

"Iya?"

"Pengen ke Magic Shop deh."

"Magic Shop? Tempat apa tuh?"

"Tempat paaaaaling nyaman," Ghaida merentangkan tangannya dihadapanku. Ah, hampir saja aku lupa memperkenalkannya pada kalian. 

Ghaida Ana Putri Kaniraras. Ghaida, gadis cantik yang memiliki seratus persen darah Jawa itu adalah teman kecilku. Ah tidak, jangan berpikir kami sudah berteman sejak orok, itu salah. Aku menganggapnya teman kecil karena sifatnya yang kadang kala membuat dirinya tidak ingat sudah berumur 17 tahun. Kami baru saja berteman sejak satu tahun yang lalu. Tepatnya, saat bencana alam besar melanda kota kelahiran Ghaida. 

Sangat-sangat menyedihkan. Para kesayangan Ghaida harus bertemu lebih cepat oleh Sang Maha Pencipta secara bersamaan. Kebetulan saat itu, aku dan ibuku menemukan Ghaida tengah duduk di atas pohon mangga memainkan kakinya yang mungil nan putih itu sembari menatap orang-orang yang berlalu lalang sedang mencari korban meninggal dan luka gempa bumi saat itu. Heran, kenapa tidak seorang pun yang menegur Ghaida yang saat itu duduk di pohon mangga, meliriknya saja sepertinya tidak ada. Awalnya, sempat aku pikir Ghaida adalah hantu. Haha, konyol sekali bukan?

Keputusan akhir, aku dan ibuku membawanya pulang ke rumah. Bahkan sampai saat ini aku dan Ghaida tidur di ranjang yang sama. 

"Magic Shop itu tempat paling tersembunyi dimana kita bisa istirahat dengan enak, dan ga akan ada yang ganggu kita." Ucap Ghaida.

"Ohh, maksud kamu alam kubur?" 

"Heh! astagfirullahalazim Gina," Ghaida berdiri dan langsung menatapku horor.

"A-apa? Ada yang salah emangnya?"

"Ya kalo ada di dunia, coba aja kamu naik ojol ke, ke mana tuh? Magic Shop ya?" Sambungku. Oh astaga, sepertinya aku salah bicara lagi. 

"Huuup..fyuhhh. Gina,"

"Iya?" 

"Magic Shop itu memang ada, tapi sayangnya gak nyata."

***

Pulang sekolah, dengan tiba-tibanya aku dipanggil Bu Kasih ke kantor. Oh astaga sepertinya ini kabar buruk bagiku. Bu Kasih dulu terkenal dengan kesederhaannya dibanding dengan guru lain, tapi lihat dia sekarang, make up tebal, jilbab dengan punuk unta sepuluh centimeter, sepatu tinggi hitam dan dipadu dengan warna emas dibagian belakangnya. Sepatu macam apa itu? 

Hembusan angin malam telah membawakan suasana hangat di bale belakang rumahku. Kejadian sore tadi, sepertinya akan membuatku tidak tidur malam ini. Padahal hanya masalah kecil.

***

"Apa kamu punya masalah keluarga lagi?" Ujar Bu Kasih, tidak kasar memang, tapi cukup menyakitkan. 

Tidak usah dipertanyakan kenapa Bu Kasih lagi-lagi membawa kata keluarga, toh, bukannya guru itu bisa melihat keadaan Ghaida dan bisa tahu sedang ada tidaknya masalah dikeluargaku? Tidak, sebaiknya buang prasangka itu jauh-jauh. Bu Kasih tidak mengetahui tentang Ghaida dan keluargaku. Itu akan menjadi privasi dan terus akan privasi.

ZERAHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora