ini tentang perjuangan keluarga kecil pasutri bernama Park Jimin dan Myoui Mina.
"Aku hanya ingin kau yang dulu!"
"Dulu bagaimana? Bahkan kau sendiri tak ingat siapa nama mu?"
Mina menuliskan beberapa lembar note untuk ia tempelkan dimasing masing toples, kini suaminya yang bernama Park Jimin mengatakan jika susu hangat yang ia sajikan itu rasanya asin.
Mina lupa mana gula mana garam, itu permasalahannya. Ia tidak tau, jika hal sepele seperti ini, akan berdampak besar nantinya.
-
Sore datang, hujan menerpa jalanan kota dengan derasnya. Mina menonton tv disana, menyelonjorkan kaki dan memeluk camilannya, ia mendengarkan rintik hujan menerpa ia menengok kebelakang tepat dibelakangnya ada kaca memperlihatkan suasana diluar.
Begitu gelap dan rintik hujan terdengar makin keras dan banyak.
Mina membuka hpnya, ia melihat notifikasi dari suaminya.
| Pjimine Hujan menerpa kantor Kemungkinan aku pulang menunggu hujan sedikit mereda
Mina | Iya, hati hati dijalan
Mina meletakan ponselnya kembali dan kembali menonton acara tv nya sembari memakan camilan.
-
"Pak Jimin? Apakah anda siap dengan pertemuan esok pagi?" Kata managernya bernama Joy.
"Iya, kita jadikan. Untuk jadwal rapat malam ini kita ganti saja setelah pertemuan besok pagi, masih ada waktu untuk rapat setelahnya," Kata Jimin mengarahkan bawahannya.
"Baik pak, bagaimana dengan pekerjaan sekarang?"
"Selesaikan saja dulu, jam 8 pulangkan saja seluruhnya. Beberapa lampu dan listrik akan dipadamkan segera, takut jika ada beberapa sambungan listrik yang sudah putus," Kata Jimin dengan bijak, managernya yang bernama Joy itu mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah pak, akan saya lanjut dan teruskan," Joy memberi tanda hormat, lalu membiarkan Jimin berjalan pergi meninggalkannya. Joy menatapnya dari kejauhan dengan senyuman miring disana, ia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.
-
Jam menunjukkan pukul 8 p.m, seluruh karyawan bersiap untuk pulang, begitupula dengan Jimin. Ia berjalan ke arah parkiran untuk menjemput mobilnya, ia memasuki mobilnya lalu menjalankan mesinnya.
Berjalan beberapa meter ia terkejut dengan keberadaa Joy yang keluar dari sisi mobil yang terparkir, Joy tersungkur dengan tangan yang memegangi kakinya.
"Duh.. aduh.." lirih Joy kesakitan, Jimin langsung turun dari mobilnya lalu berjalan mendekat ke Joy.
"Maafkan saya, apakah kau baik-baik saja?" Tanya Jimin memastikan keadaan Joy, "iya aku baik baik saja, tapi—aw.." Joy memperlihatkan kakinya yang ada bekas keunguan karena terkilir, ia menggunakan heals.
"Apakah kau bisa berdiri?" Jimin tanpa berpikir panjang membantunya berdiri, namun karena kaki Joy yang masih lemas dan terasa sakit ia reflek menaruh kedua tangannya di pundak lebar Jimin.
"Aw aw, pelan, pergelangan kakiku masih sakit."
"Iya, pelan pelan ya. Omong-omong, kau pulang dengan apa?" Jimin basa-basi disana.
"Aaa saya biasa menggunakan angkutan umum, namun sepertinya tidak mungkin ada angkutan umum yang masih beroperasi di hujan deras seperti ini," Kata Joy masih menatap Jimin dengan bibir yang dipoutkan sedikit, Jimin terdiam dan menatap kembali mata Joy, "Pulanglah bersama ku, akan saya antarkan."
"Benarkah?!
.. maksudku, apakah itu tidak merepotkan bapak?"
"Tentu saja tidak, kemarilah," Jimin membantunya masuk ke dalam mobil kiri kemudi, setelah itu menutup pintunya, sedangkan Jimin berputar untuk ke kursi kemudinya.
"Yang benar saja ini pak?" Kata Joy memastikan, "iya loh, anggap saja ini sebagai tanda perminta maafku karena membuatmu seperti ini," Kata Jimin menyalakan mesin mobil.
"Iya, saya malah merasa terbantu atas bantuan dari bapak," Kata Joy tersenyum.
"Iya, itu yang dinamakan tanggung jawab."
-
Mina mengecek jam sambil merasa khawatir, jam 10 p.m suaminya tidak lekas kembali, padahal suaminya juga bilang bisa pulang cepat dan menemani Mina menonton, tapi setelah menunggu dua jam tidak ada keberadaan suaminya.
Jam menunjuk pukul 11.00 p.m
Mina terlelap dalam acara menontonnya, ia mengantuk karena malamnya itu sangat membosankan, ditambah cuaca dingin membuatnya tidur semakin nyenyak.
Jimin membuka pintu rumahnya, ia melihat tv yang masih menyala dengan istrinya yang tengah dalam posisi duduk sambil tertidur.
"Kau pasti menungguku lama," Kata Jimin mendekat menjongkokkan diri menatap wajah istrinya, menyelipkan rambutnya dan mengelus pipinya.
"Sayangku, bangun, suami mu sudah pulang ini," Kata Jimin membangunkan Mina dengan pelan, Mina mulai membuka mata dan terduduk dengan linglung.
"Ah, kau pulang kapan?" Kata Mina dengan suara yang terdengar lirih karena jujur ia sudah sangat mengantuk, "Barusaja sayangku, kau ke kamar saja, aku akan makan malam disini," Kata Jimin.
"Ah tidak tidak, aku akan menemanimu," Kata Mina menolak perkataan dari Jimin, "Baiklah, akan ku bantu gendong ke meja makan?" Canda Jimin.
"Ah tidak perlu, aku bukan lagi anak kecil ya," Kata Mina terus ia bangkit dan berjalan sambil memeluk lengan suaminya.
"Sayang, kenapa aroma mu seperti parfum wanita?" Tanya Mina menghadap ke Jimin, Jimin terdiam sebentar.
"Aroma mu seperti parfum wanita, bukan seperti biasanya."
-
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.