Elevator

3.8K 234 101
                                        

Tanggal 23, tanggal yang bersejarah bagi seorang pria yang kini sedang bersantai di depan jendelanya sambil meneguk segelas susu.

Tepat 5 bulan lalu, Ia pulang dalam keadaan mabuk setelah merayakan pesta meriah ulang tahun temannya. Seharusnya Ia tidak perlu datang karena keesokan paginya Ia ada kelas. Karena paksaan tentu saja, ulang tahun yang hanya dirayakan setahun sekali, tentu saja teman-temannya memaksa.

Ia ingat sesampainya di apartemen, di depan lift ada seorang pria yang naik lift yang sama dengannya. Lebih tinggi darinya. Sayangnya pandangan dia mulai kabur dan tidak bisa mengingat wajahnya.

Ketika lift tiba-tiba berhenti, Ia pingsan dan terbangun di depan pintu kamarnya keesokan pagi.

Beberapa minggu kemudian, Ia mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung.

Dan kemungkinan terbesarnya, terjadi pada hari itu. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Dia saja tidak ingat bagaimana perasaan pada tubuhnya ketika bangun di depan pintu. Tentu saja karena dia harus terburu-buru untuk masuk kelas.

"Hey, Bayi? Kau ingin baca buku apa hari ini? Sejarah? Bukankah itu terlalu berat? Ah iya kau benar, ibumu ini mahasiswa sejarah, dia harus belajar."ucapnya dihadapan tumpukan buku-buku.

Ia berjalan kearah sofa untuk duduk dan mulai meluruskan kakinya. Mencari posisi paling enak untuknya membaca. Seraya membaca bukunya, Ia pun mengelus-elus perutnya yang membesar.

Dering handphone berbunyi. Ada sebuah telepon masuk dari kontak yang bernama Hendery.

"Mark! Jadwal kelas diubah jadi jam 9 pagi. Buruan datang!"

"Jam 9?" Ia melirik kearah jam dinding. 30 menit lagi.

"ASTAGA 30 MENIT? MANA BISA NYAMPE?"

"YA GAK TAHU LAH, INI LAGI SIAP-SIAP. BURUAN MARK!"

"IYA IYA THANKS INFO!"

Mungkin 5 bulan lalu hal ini bukanlah masalah besar. Tapi, dengan perut besarnya kini? Mana bisa Ia terburu-buru.

"Arghhh, bayi, tidak bisakah mengecil sebentar? Ibumu ini sedang terburu-buru." ucapnya sambil asal mengambil baju kebesaran miliknya. Tidak peduli itu matching dengan bawahannya atau tidak. Yang penting Ia sampai kelas tepat waktu.

Setelah selesai Ia langsung terburu-buru keluar apartemennya dan segera menuju lift.

Pintu lift terbuka dan menampakan seorang pria yang mungkin dari penghuni di lantai atas.

Lift pun tertutup dan berjalan kebawah dengan amat pelan. Membuat Mark yang sedang dikejar waktu menjadi gemas.

Tiba-tiba lift berhenti. Tidak menunjukan dimana liftnya berhenti. Pintunya tidak terbuka.

"Ahh sial! Macet lagi! Apartemen gembel!"

Ia segera mengirim pesan ke Hendery untuk memberikannya izin karena lift apartemennya macet.

"Mahasiswa?" ucap pria disebelahnya.

"Iya."

"Keren ya."

"Iya emang."

"Bukan mahasiswanya, maksud saya, masih jadi mahasiswa tapi udah berani punya anak aja. Biasanya kan, ribet."

"Ah ini." mata Mark langsung tertuju kearah perutnya. Ternyata pakaiannya tidak sepenuhnya menutup perut besar itu.

"Masnya udah nikah?" tanya Mark kearah pria itu.

"udah."

"Anak udah ada?"

"Belum. Biasalah, Istri belum siap."

Elevator ♪ ♬/Lumark♬ ♪Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora