"Memiliki hanya satu teman akan lebih baik, daripada memiliki banyak teman tapi munafik."~Alana
\*\*\*\*
Alana seorang gadis yang banyak di jauhi oleh teman sekolah nya, di karenakan sering menyendiri dan pendiam. pagi ini dirinya sedang berjalan di koridor sekolah bersama sahabat nya yang bernama Salsa, Hanya Salsa yang mau berteman dengannya. entahlah terkadang orang yang pendiam mempunyai banyak luka.
"Alana."
"Hm."
"Lo tau Raden anak IPS itu gak?" tanya Salsa kepada Alana.
"Gak." jawabnya singkat.
Salsa mendengus mendengar jawaban Alana yang singkat, dirinya harus sabar menghadapi Alana, karena memang sudah menjadi sifat Alana yang seperti itu. Selama berjalan menuju kelas banyak sekali cibiran yang di tunjukan kepada Alana, Alana hanya diam saja tidak peduli.
Betah banget tuh si salsa temenan sama dia.
Iya, kalau gue sih ogah banget.
Eh, tapi Alana cantik juga loh. Tapi sayang dia pendiem gitu.
Cantikan juga Sherly, bodygoals lagi.
Salsa yang mendengar pun menjadi panas, toh dia yang mau temenan sama Alana kenapa mereka yang repot. Dasar kumpulan nenek sihir.
"Ghibah terooss, kalian ini ya. Gak ada kerjaan apa lo pada!" Celetuk nya kepada siswa yang mencibir sahabatnya, Alana hanya melihat dirinya sudah malas untuk meladeni manusia seperti ini, nanti ujung-ujungnya pasti ribut.
"Terserah kita dong, mulut-mulut kita juga, kenapa lo yang sewot." sahut salah satu siswa perempuan yang disitu.
"Gue gak sewot heh! tapi tuh mulut lo kurang ajar."
"Udah, Sal!" ucap Alana lalu pergi untuk menuju kelas.
"Awas iya! kalau gue denger lagi kalian ngomongin Alana yang bukan-bukan. Gue jadiin sambel kecombrang lo!" setelah memberi peringatan, Salsa berlari untuk menyusul Alana ke dalam kelas.
Tidak berapa lama bel tanda masuk berbunyi, lalu para guru memasuki kelas untuk memberi materi pelajaran. Alana memperhatikan guru yang sedang menerangkan, Alana ini salah satu murid yang mempunya IQ yang tinggi banyak guru yang bangga kepada Alana. Tapi banyak jenis ga murid yang tidak suka dengan Alana.
*****
"Al, lo mau makan apa?" tanya Salsa kepada Alana, mereka berdua saat ini sedang berada di kantin. Karena bel istirahat sudah berbunyi 5menit yang lalu.
"Kayak biasanya, Sal."
"Oke, gue pesen dulu ya." Lalu Salsa pergi untuk memesan makanan. Tidak berapa lama Salsa sudah kembali membawa dua mangkuk bakso dan dua gelas teh manis di nampan.
"Yuhuuu!! makanan datang."ucap Salsa dengan antusias.
"Thanks, Sal."
"Sama-sama, Al."
Mereka berdua menikmati makanan nya tanpa ada yang berbicara, begini resikonya kalau berteman dengan Alana, mereka harus membuka pembicaraan dahulu.
Tiba-tiba dari arah pintu masuk kantin terlihat ramai, ternyata rombongan most wanted telah datang. Yang di sambut teriakan histeris dari kaum hawa.
"Al, itu tuh Raden sama temen-temen nya." Salsa menunjukkan ke salah satu rombongan para cowok itu.
"Terus?"
"Dia tuh ganteng banget Al, apalagi Alvin. Gue selalu bayangin gimana kalau jadi pacar salah satu di antara mereka. Gue pasti Bahagia banget deh." ucap Salsa antusias, yang menurut Alana itu lebay dan berlebihan. Menurutnya mereka biasa saja, hanya bermodalkan tampang mereka bisa terkenal.
"Biasa aja." jawabnya singkat.
Salsa mendengus mendengar jawaban Alana. "Huh! lo ini kayaknya harus periksa mata deh, Al, biar mata lo jernih. Masa cowok ganteng kayak mereka di bilang biasa aja."
"Gue gak suka."
"Iyain, gue sumpahin lo jatuh cinta sama Raden." sahut Salsa kesal kepada sahabat nya ini.
Dahi Alana mengernyit mendengar sumpah dari Salsa, mana mungkin dirinya akan jatuh cinta dengan modelan cowok kayak Raden. melihatnya saja dirinya sudah malas, Alana berdiri dirinya sudah selesai dan akan kembali ke kelas.
"Gue mau ke kelas, lo tetep disini mandangin mereka atau mau ikut." ucap Alana dengan nada datar.
"Gue ikut, enak aja lo main tinggal aja, iya walaupun gue belum rela sih."
"Lebay lo." kemudian Alana beranjak pergi di ikuti oleh Salsa, Alana sibuk dengan ponselnya. Dari arah yang berlawanan tiba-tiba ada yang menabrak nya, bajunya basah dan kotor oleh minuman dingin yang di pegang orang itu.
Alana melihat siapa yang menabrak dengan tatapan yang datar, ah malas sekali dirinya bertemu orang ini. "Punya mata di pakek." ucap nya ketus lalu pergi, untuk membersihkan bajunya.
"Eh Raden, sorry iya temen gue emang begitu." ucap Salsa Salah tingkah ketika Raden menatap nya.
"Gak papa, gue juga kok yang salah.Titipin maaf gue buat temen lo iya." jawabnya.
"Iya, gue nyusul temen gue dulu iya." ucap Salsa lalu pergi menyusul Alana di salah satu Toilet.
"Wiihh, tuh cewek galak banget iya, Den. Bukan kayak cewek yang biasanya kalau ketemu lo langsung klepek-klepek." ucap salah satu teman Raden yang bernama Alvin Ravenda.
"Gue yakin, ini beda dari yang lain." Timpal teman nya lagi, yang bernama Bayu Andrian.
Satu teman nya lagi mengangguk mengiyakan, yang bernama Teguh Sanjaya. Raden tersenyum tipis mengingat wajah datar cewek yang dia tabrak tadi, Raden harus mencari tau siapa gadis itu.
"Eh, kayaknya gue gak pernah lihat tuh cewek deh." ucap Raden kepada teman-teman nya.
"Iya, gue juga gitu."
"Atau dia anak baru? tapi kayaknya gak mungkin." Sahut Bayu.
"Mungkin dia bukan cewek Famous kayak Sherly." timpal Alvin.
Raden mengangguk."Bisa jadi."
Di lain tempat Alana sedang membersihkan seragam sekolah nya dengan wajah yang terlihat kesal, walaupun dibersihkan noda minuman itu tidak akan hilang kecuali kalau di cuci pikir Alana. Tidak mau membuang waktu, Alana pun keluar dari toilet untuk menuju kelas.
"Al, lo gak papa?" tanya Salsa yang sudah ada di depan pintu toilet.
"Gak."
"Al, Raden nitip maaf buat lo."
Alana mengernyit, memang ada meminta maaf secara menitip omongan sama orang. "Gue gak peduli." setelah itu Alana pergi.
"Woi Al, tungguin gue!" Salsa berteriak berlari mengejar Alana.
Alana berjalan dengan wajah yang datar, cibiran demi cibiran sudah menjadi makanan dia sehari-hari. Terkadang Alana berfikir, apa salahnya jika dirinya mempunyai sifat yang seperti ini. Toh yang menjalani bukan mereka, memang orang hanya bisa melihat dan mengomentari apa yang kita lakukan.
\*\*\*\*
BINABASA MO ANG
Alana
Teen Fiction"Bahagia lo, bukan orang lain yang menentukan. Tapi diri lo sendiri." Raden Alvandra "Gue hidup bukan untuk membahagiakan gue sendiri, tapi untuk membahagiakan keegoisan papa."Alana Alana gadis berwajah dingin dan datar, banyak di hindari oleh teman...
