We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Teungut

30 0 0
                                        

Waktu telah menunjukkan pukul 16.15 WITA. Kutidurkan kembali layar hp yang tak ada notif pesan dari siapapun itu. Pandanganku beralih fokus ke sebuah pelampung pancing. Timbul tenggelam berirama, Kusentak joran pudar kesayanganku. Tak ada ikannya, umpan ulat bumbungnya pupus. Hasil pun sudah cukup. tidak bertujuan komersil melainkan hanya sebatas hobi dan konsumsi pribadi.

Berapa pun modal yang dikeluarkan, dan seberat apapun hasilnya. Para pemancing sepertinya lebih terlatih dalam hal bersyukur dan bersabar.

Bagaimana mungkin tidak terlatih, di tengah hiruk-pikuk dunia yang hingar-bingar ini. Pada awal penciptaannya Tuhan telah menganugerahkan hamparan bumi dengan setetes air, darinya ia hidupkan makhluk yang komplek dan beragam. Air yang setetes itu telah melimpah. Hampir Meliputi seluruh permukaan bumi. Apakah penduduknya tidak berfikir dan bersyukur. Nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan. Begitulah Alam, ia memfasilitasi pencintanya dengan cara tersendiri.

Di perkuliahan, bahkan di seminar-seminar, ramai kegiatan how to become a public speaker. Merata!  Tamplate. Seperti sudah terprogram. Jika hendak sukses, maka harus pinter ngomong. Aneh! Orang-orang Malah semangat belajar ngomong, di tengah dunia yang ributnya tidak sopan ini. Hufft.

Mancing bukan sekedar joran, senar, kail umpan dan ikan. Ini tentang meditasi dengan alam, tanpa suara, berisiknya cukup dalam kepala. Tersirat padanya kedamaian dan ketentraman. Bagaimana cara mengamati sesuatu, cara diam, serta cara mendengar dengan baik dan benar. Sebuah pelajaran yang tidak didapatkan pada bangku kuliah. peka, perasa dan pendengar yang baik. Akan membuat kita tidak berisik dengan hal-hal yang definitif.

Pepohonan melambai, menabur daun dan merunduk, penuh kehangatan, seolah-olah paspampres yang mempersilahkan jalan pejabat dengan meriah. Menyusuri lembah Angin fohn berlalu di penghujung siang.

Jauh spot pancing kali ini. "Bulikan kah kita om" seruku teriak mengajak pulang dalam bahasa Banjar bapak bapak yg menjadi teman mancing. "Ayok kiy", sahut om ali di spot lainnya dengan nada ngobrol berjauhan. "Sadang dah kaina kemalaman kita bulik".

Oke Om !

Begitulah lelaki, jauh terpaut jarak umurnya, jika satu hobi maka dia adalah kawan.

Sebenarnya menjelang petang adalah waktu terbaik mancing ikan papuyu. Pantang pulang sebelum fana merah jambu. Namun jarak menjadi pertimbangan yang logis. Mengingat hutan kalimantan mencekam dan mengintimidasi di malam hari.

Perlahan kubereskan joran pancingku, satu persatu masuk ke dalam tas ransel consina army andalan. Lepastu kujinjing keranjang ikan sambil mengirangira beratnya. Terimakasih tuhan. Sekitar 4 kilo ikan berhasil terselamatkan.

"Beh luky lah. Pulang bakal bakar-bakar ikan nih" tegur omku. Om juga tuh, paling yang besar besar aja dibakar om. Kalau yg agak kecilan biasa mama bikin jadi ikan wadi. Timpalku seringai.

Demi perjalanan panjang. Agar kesegarannya tetap terjaga, kuamankan terlebih dahulu ke dalam box ikan ukuran 40 cm taffsport. Box lipat praktis yang pas untuk di taroh depan honda matic seperti mio, scoopy dan beat.

Warga Kalimantan Timur biasa sebut sepeda motor dengan sebutan honda. Apapun mereknya mau yamaha, suzuki, kawasaki dan apalah itu udelnya tetap dipanggil honda. Dan yang menjadi teman setia berpanas hujan dalam perjalanan menerjang segala medan spot pancing adalah Poyo. Si honda mio soul gt 125 handling off yang fiturnya sudah mati tak berfungsi karena jarang ada lampu merah.

warna ijo army les kuning yang menurutku kurang sakinah, tapi harus tetap mawaddah warohmah. dengan penyakit khas sejuta umatnya yaitu body lampu depan getar.

Kalau kendaraan roda empat disebutnya "oto".

Setiap ada orang yang sebut "oto" lukiy langsung konek pada seorang tokoh guru besar bernama Otto Scharmer. Sebab Pak Otto dengan Teori U yang dikembangkannya membuat lukiy merasa lebih peka terhadap sekitar dan mudah mengenal diri sendiri.

Di atas poyo yang belum di starter. Dengan kepekaan seadanya, lukiy membiasakan diri dengan mindfullness, keadaan mata terpejam ditariknya nafas panjang dan perlahan ia hembuskan.

Bermacam macam suara di kepalanya. Angin sepoi menerpa pepohonan, riak air, Kicau burung, suara jangkrik, ngengat. Orang utan dan sejenisnya satu Simfoni dalam harmoni hutan.

Kembali ia buka matanya yang berbinar.

Terima kasih tuhan.  Atas rejekinya semoga saya selamat sampai rumah. Ameen. //

________________

Biota DeltaStories to obsess over. Discover now