prolog

430 64 30
                                        

Hari ini tepat pada tanggal 8 Oktober 2020, Jena bersama mahasiswa lain pergi bersama menuju TKP, lokasi tempat berkumpul dimana demo akan berlangsung.

Jena dengan almamater kuningnya dengan rambut yang di cepol ke atas dengan asal yang membuat kesan natural yang tercipta pada dirinya.

"Odol udah bawa?" Tanya seorang teman yang tepat berada di samping Jena.

Dengan sigap Jena mengangguk dan membuka tasnya dan menunjukan isi yang ada di dalam tasnya.

"Lo mau jualan? Ini odol banyak banget" Jena yang mendengar respon dari temannya itu hanya tertawa kecil.

"Sengaja gue bawa banyak takutnya nanti kalo gua kepisah sama lo semua dan ada orang yang gak punya odol kan bisa gua kasih, len."

Sarlena Putri

Salah satu dari sahabat Jennie yang ada di kampusnya "eh btw lo udh bilang Ka Adit soal kalo lo bakal ikut demo?"

Ia menjawab hanya dengan gelengan "kalo gue bilang yang ada gue gak bakal di bolehin len, kan lo tau sendiri Adit tuh gak mau gua kenapa-kenapa."

Lena yang mendapat jawaban seperti hanya merotasikan bola matanya.

Ia tau tingkat kebucinan Adit dengan Jena itu bagaimana. Karna Lena sendiri jomblo akhirnya dia no comment no bacot, karna Lena tau sendiri kalo dia jawab lagi pasti Jena bakal bilang gini "IRI BILANG BOS."

• • •

Tepat di depan depan gedung DPR yang berlokasi di Senayan, Jakarta Pusat. Ribuan mahasiswa yang berasal dari beraneka universitas kini berkumpul menjadi satu.

Penyakit Covid-19 pun kalah oleh tekad para mahasiswa yang teguh ingin menolak RUU Ciptaker.

"WEY WEY CEWE MINGGIR."

"GILA LO, POLISI APA BANCI SI HAH? BERANINYA NYERANG CEWE."

"PAK GANTI PROFESI AJA PAK JADI BANCI TAMAN LAWANG PAK."

"MAK AKU MASUK TV."

"WOY UANG GUA ABIS 20 REBU BUAT BELI MINYAK"

Jena, Hana dan juga Lena hanya menunggu di belakang atas suruhan anak laki-laki yang berasal dari unversitas yang sama dengan mereka.

"Gila ya ternyata demo seru juga, kenapa tahun kemaren gua gak ikut demo aja ya? Bego banget dah" kata Hana sambil nekuk tangan almamaternya yang agak sedikit panjang.

Kepadatan di belakang yang rata-rata di penuhi wanita membuat Jenaya sedikit haus "eh gua beli minum dulu ya. Lo pada mau nitip gak?"

"MAUUU" Lena dan Hana menjawabnya dengan serempak.

Dengan segera Jena pergi untuk mencari orang yang berjualan air minum.

Walaupun agak sedikit jauh dari tempat Hana dan Selena menunggu.

Setelah menemukan penjual air minum dan ingin segera pergi tapi ada sebuah pemandangan yang membuat Jena tertuju.

Adit dengan Dila sedang berada di bawah pohon besar sambil berpegangan tangan satu sama lain.

Antara percaya dan tidak percaya Jena langsung mengambil ponselnya dan segera mengetik nama sang pujaan hati untuk menghubunginya.

Dan terlihat di sebrang Adit yang mendapat panggilan masuk dari Jena langsung memberi isyarat pada Dila untuk diam.

"Halo, assalamualaikum."

"Walaikumsalam, iya kenapa na?"

A Battle Of The HeartStories to obsess over. Discover now