PROLOG

60 9 8
                                        

"Katanya, takdir itu indah. Almira mencoba membuktikannya kali ini!"

***

"IBU!"

Pemandangan tak mengenakkan, Almira dapat. Dadanya tiba-tiba terasa sakit. Napasnya memburu. Netranya memerah dan mulai terasa panas hingga akhirnya air mata itu jatuh dari pelupuknya.

Satu-satunya orang yang membuat Almira tetap bertahan untuk hidup. Satu-satunya orang yang hendak Almira jadikan tempat mengeluh masalah yang saat ini ia hadapi, kini tergeletak nahas di lantai ubin rumahnya.

Almira yang tahu bahwa ibunya mempunyai riwayat jantung, lantas segera berlari untuk mendekat. Setidaknya memeluk erat tubuh ibunya yang kini sudah terkulai lemas memegang testpack milik putrinya.

Harapan, hajadnya di jalan tadi pupus seketika di saat kedua penglihatanya melihat benda lonjong yang mati-matian Almira sembunyikan, tapi kini tergambar dengan gamblang di atas dada Ibunya.

Almira benar-benar terpukul. Jatuh sedalam-dalamnya. Ia merasa bersalah. Seharusnya ia membahagiakan ibunya. Namun, Almira lalai dalam menjaga kehormatannya.

Ia sudah lalai dengan Tuhan yang sebenarnya selalu ada untuk hamba-Nya. Wanita itu merasa hidup dengan kesendirian. Wanita bernama Almira itu sudah tak lagi dapat mengeluh kecuali untuk memilih tidur dan tidur.

Ia sudah kehilangan kegadisannya, ia juga di tinggal oleh ibunya, orang yang ia punya sekarang. Wanita yang sangat ia sayangi. Namun, saat ini ibunya telah pergi. Pergi untuk selamanya.

Memberikan mahkotanya adalah jalan menuju kesengsaraan. Semuanya benar-benar hancur.

Almira hancur, sehancur-hancurnya!

Ia telah putus asa. Seperti tidak ada tujuan untuk hidup. Sudah tak lagi berfikir kecuali untuk ... mengakhiri hidupnya.

Setelah satu hari ibu Almira meninggal. Almira sudah tak lagi keluar rumah. Tidak ada acara tahlil untuk ibunya karena Almira tidak ada uang. Sebenarnya banyak tetangga berdatangan untuk membantu kesulitan Almira, tapi Almira memilih mengurungkan diri dalam kamar. Ia tidur dan selalu menangis. Setidaknya dengan itu, ia bisa melampiaskan rasa sedihnya.

Namun, keterpurukannya membuat Almira berpikir lain. Untuk kedua kalinya, Almira akan melakukan hal yang dilarang.

"Aku capek," lirihnya.

"Maaf, aku pergi. Semoga setelah aku pergi, kamu mendapat wanita yang lebih baik budi pekertinya," ucapnya lalu memasukkan selembar foto ukuran sedang. Menampilkan sebuah gambar dirinya bersama seorang pria cukup tampan yang tengah membawa almamater kampus.

"Ibu, aku ikut Ibu." Mata cerah milik Almira menatap sendu ke arah pisau yang ia pegang, hendaknya ia gores, tapi ....

Happ!!

Prang!!

"Hei!!"

***

Takdir memang unik. Tuhan benar-benar pemegang kekuasaan di atas kekuasaan yang lebih besar. Kita hanya bisa berharap, hasilnya biar Tuhan yang menentukan.

Almira tidak benar-benar membunuh dirinya dan juga calon anaknya.

Bagaimana?

Sesulit apapun masalah kita, Allah itu ada di hati kita. Allah selalu baik, baik sangatlah baik.

Allah menghadirkan penyelamat. Allah menyelamatkan hidup Almira dengan datangnya orang baik hati.

Ulahnya dihentikan oleh seseorang. Seorang pria yang bertemu dengannya tanpa unsur kesengajaan.

Herlanda, tukang ojek yang sempat menolongnya saat ia muntah di perjalanan menuju kampus.

"Kamu jangan berbuat buruk lagi!"

"Takdir juga yang mengajarkannya," sahut Almira spontan.

Erlan terbungkam sekilas, tak lama kemudian ia kembali berujar, "Masih ingat dengan saya?"

Mata Almira memincing, lama kemudian dia berucap, "Kamu penganggu!" Netranya berganti menatap sinis.

"Saya ojek kemarin, Mba."

"Ojek penganggu!" sahut Almira spontan.

"Maaf jika menganggu."

"Gak!" balas Almira kembali.

"Kamu tadi bilang jika takdir yang mengajarkannya?" Erlan memilih beralih topik. Menatap si Almira lekat. Pria itu dapat menyimpulkan jika wanita di depannya ini tengah terpukul hebat sebab masalah yang datang berturut-turut.

"Ya, penganggu!" Erlan terkekeh renyah, ia menaruh gelas berisikan teh hangat yang sempat Almira tolak untuk meminumnya.

Pria itu beralih duduk di samping Almira setelah membereskan meja yang sedikit berantakan.

"Maaf jika menganggu, niat saya ke sini hanya untuk mengambil jaket yang kamu bawa waktu itu. Tapi, tak sengaja saya melihat kamu hendak bunuh diri. Jiwa psikolog saya koar-koar ingin sekali menasehatimu."

Almira spontan tertawa lalu mendecih. Ia sangat tak suka dengan cara bicara pria di sampingnya itu.

"Kamu benar-benar penganggu!"

Bugh!

"Eh!!" kaget Erlan ketika Almira tiba-tiba memegangi perutnya ketika selesai memukul lengan milik Herlanda.

"Sshh ...."

"Kamu kenapa?"

"Sakit! Perutku sakit."

"Kamu belum makan? Atau lagi masa menstruasi?" tanya Erlan langsung membuat Almira membeku. Rambut bagian depannya menutup sebagian wajah wanita itu. Almira kembali menangis mengingat kesalahannya.

"Hei? Kenapa nangis?"

Almira pasrah. Ia benar-benar tak kuat untuk menahan semua kesalahannya sampai di sini. Ia tak punya tempat untuk bercerita atau membagi bebannya. Ibu, satu-satunya orang yang ia miliki, kini telah pergi.

Pada akhirnya ia menceritakan semuanya kepada Erlan, yang padahal belum ia kenal lebih dalam.

***

Tak dapat lagi berkata selain unik, takdir sudah mendahuluinya dengan keunikannya. Takdir lagi-lagi memberinya dentuman besar.

Benar-benar kejutan yang luar biasa dikisah hidup mereka.

Kini dua insan yang saling tak kenal sekarang terduduk manis bersebelahan menghadap sang penghulu.

Erlan, pria yang tiba-tiba hadir dan mengajak Almira menjalankan sisa hidupnya bersama-sama.

Erlan, si anak baik, tampan, budi pekerti, sederhana, hati selembut pasir di pantai, dan jiwa kedewasaannya benar-benar ada.

Ia berani mengambil langkah yang semestinya banyak sekali diabai oleh banyak orang.

Ia telah berani menikahi wanita buruk. Wanita yang sangat lamban untuk mencintainya. Wanita kotor seperti Almira.

Erlan yang juga yatim-piatu, mengambil langkah ini untuk meninggalkan masa lalu. Ia berani melangkah ke depan dengan Almira yang kini telah resmi menjadi istrinya. Dan ya, bersama calon anak mereka tentunya.

Detik demi detik berlalu, Almira berhasil melahirkan anak pertamanya walaupun prematur. Setia di dampingi oleh Erlan, di masa-masa gemuknya, Erlan sempat-sempatnya membagi waktunya yang sangat sedikit itu. Sangat sedikit!

***








Cerita Kolaborasi Pertama!
Jangan lupa stalking:v

Vote, Comment, and Follow!

Ayra Hikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin