"Alhamdulillah..."
Setelah delapan jam harus duduk manis di pesawat, akhirnya kaki Ilona bisa menyentuh tanah kembali. Ia masih tak percaya bisa pergi sejauh ini, di negeri orang yang terkenal dengan K-Pop-nya-Korea Selatan. Salah satu penerbit di Jakarta mengirimkan Ilona ke sini untuk mengambil riset tentang apa pun yang nantinya tulisan Ilona juga akan diterbitkan di majalah ternama Seoul.
Sambil berjalan dengan menggeret koper, mata Ilona menyapa sudut-sudut bandara yang sejak 2005 dinobatkan sebagai bandara terbersih sedunia ini. Bandara Incheon. Dibangun sejak November 1992, pembangunannya memakan waktu 8 tahun plus 6 bulan untuk pengujian, lalu resmi dibuka pada Maret 2001. Letaknya di antara pulau Yeongjong dan Yongyu. Dulu, dua pulau itu dipisahkan oleh laut dangkal, tapi kemudian direklamasi untuk konstruksi Bandara Incheon ini.
Mata Ilona masih saja menatap kagum di segala tempat ini. Apalagi saat tau kalau di Bandara Incheon juga tersedia ruang tidur privat, taman indoor, video game center, museum kebudayaan Korea, hingga lapangan golf. Ditambah lagi dengan desain arsitekturnya yang megah dan modern. Siapa pun yang datang pasti senang ke bandara ini pasti akan dibuat betah.
"Nah, itu dia," kata Ilona dengan menjentikkan jari telunjuk dan jempolnya saat melihat pria membawa kertas bertuliskan namanya di antara gerombolan penjemput. Tak susah sebenarnya menemukan pria itu. Diantara gerombolan orang-orang berwajah asli Korea, pria itu terlihat amat mencolok dengan wajah asli Indonesianya, terlebih asli Jawa; kulit sawo matang, tak terlalu tinggi, hidung tak hadir, dahi lebar, rambut klimis yang disisir ke belakang, sepatu hitam mengkilap, dan tas serempang biru tua tergantung di pundak kirinya-yang terlihat tidak match sama sekali.
Ilona berjalan mendekati orang itu. Ia sudah tau nama orang itu, termasuk juga kontaknya. Sebelum berangkat ke sini, penerbit yang memberi izin Ilona mengirimkan CV tentang pria itu. "Kasno, ya?" tanya Ilona pada pria Jawa tadi.
Pria itu menoleh ke arah Ilona, lalu memperlihatkan deretan giginya yang putih setelah diam beberapa detik. "Ini bener Mbak Ilona, to?" tebak pria itu. Nah, kan, cara bicaranya pun berlogat Jawa kental.
Ilona mengangguk.
"Saya kira tadi Mbak Ilona sudah ke penginapan," kata Kasno.
Ilona terkekeh pelan. "Mana mungkin, saya kan masih asing di sini." Jangankan penginapan, pintu keluar bandara Incheon ini aja belum tau, gumam Ilona dalam hati sambil menggelengkan kepala pelan.
Di samping Kasno, berdiri seorang pria yang mungkin seusianya. Kulitnya putih, rambutnya berponi sampai menutupi alis, tubuhnya tinggi, membuat siapapun yakin kalau ia adalah cowok asli Korea. Orang-orang sering mengatakan kalau pria itu hampir mirip dengan Lucas NCT, hanya berbeda gaya rambut saja. Ini bukan pertama kalinya Ilona melihat cowok itu, bersamaan saat mengirim CV Kasno, penerbit juga mengirimkan CV Daehyun pada Ilona. Ia yakin betul kalau foto pria di CV itu adalah milik orang sekarang berdiri di samping depannya.
"Oh iya, Mbak," kata Kasno pada Ilona. "Kenalin, ini Park Daehyun. Dia yang akan memandu Mbak selama di sini. Mbak sudah tau, kan?" Kasno menepuk pelan pundak Daehyun.
Ilona mengangguk. "Hai," katanya Ilona pada Daehyun.
"Halo, Ilona. Panggil saya Daehyun," ucap Daehyun dengan sedikit membungkukkan badan. Ternyata pria itu lebih fasih berbahasa Indonesia lebih dari yang Ilona kira. Hanya saja logatnya masih terasa beraroma korea.
Setelah percakapan pendek itu, mereka keluar dari bandara dan menuju minimarket. Di sana Daehyun membantu Ilona membeli T-card yang nantinya digunakan untuk transaksi apa pun selama di sini. Antriannya cukup panjang, jadi mereka harus menunggu hampir satu jam untuk mendapatkan T-card.
Dalam bus menuju penginapan, Ilona banyak mengobrol dengan Daehyun. Sedangkan Kasno, pria itu sudah pulas beberapa menit setelah duduk manis dalam bus ini. Bangku Ilona terpisah dengan bangku Daehyun dan Kasno, tapi sebisa mungkin suara mereka dikecilkan saat berbicara. Tak mungkin juga dikeraskan sebab penumpang lain juga banyak yang tidur. Daehyun yang duduk sebangku dengan Kasno berkali-kali menggeser kepala temannya itu dari pundaknya hingga mepet ke jendela. Atau menutup mulut Kasno saat dengkuran pria itu membuat penumpang lain mengode untuk diam. Ilona menahan tawanya melihat kelakuanku dua sejoli itu.
"Ilona, apa kau pernah ke Korea sebelumnya?" tanya Daehyun setelah menggeser kepala Kasno lagi.
Ilona menggeleng. "Ini pertama kalinya," jawabnya dengan sisa tawa.
"Bagus kalau begitu," kata Daehyun dengan tersenyum senang.
"Bagus? Kenapa?"
"Karena untuk pertama kalinya kau ke Korea dengan aku pemandunya. Semoga menjadi perjalanan yang sangat berkesan," jelas Daehyun dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Ilona.
Bukannya tersipu, Ilona malah biasa saja dengan kelakuan Daehyun itu. "Semoga saja," kata Ilona singkat. Padahal, Daehyun sering sekali mengedipkan sebelah matanya agar membuat orang lain tersipu lalu merasa nyaman bersamanya.
"Kau gadis yang berbeda, Ilona," gumam Daehyun kagum.
Perjalanan sudah cukup jauh, tapi masih belum sampai juga. Maklum saja, jarak antara Incheon dan penginapan sekitar 50 km. Dan badan Ilona sudah terasa pegal karena kebanyakan duduk. Ia pun menahan kantuk, sebisa mungkin matanya berusaha tetap terjaga. Bukannya apa, tapi tak enak saja dengan Daehyun. Kalau Ilona tidur, pasti pria itu harus terjaga sendirian.
"Ilona," panggil Daehyun, membuat Ilona mengurungkan niatnya untuk memasang earphone di telinganya.
"Iya?" kata Ilona dengan pandangan teduh ke arah Daehyun.
Tiba-tiba, entah angin dari mana, dada Daehyun berdebar hebat. Ia merasa ada yang salah dengan mata Ilona, tentu kesalahan yang menyenangkan. Bola mata gadis itu hitam bening, meski ada sedikit rona merah karena menahan kantuk, tetap saja terasa menyenangkan dan berhasil membuat Daehyun tak bisa mendefinisikan keadaannya sendiri.
"Kau mau bilang apa, Daehyun?" tanya Ilona setelah lama hening di antara mereka.
"Em..." Gawat! Daehyun kehabisan kata sekaligus mati gaya.
"Em... tidak. Aku hanya mau bilang, kalau kau mengantuk maka tidurlah. Jangan dipaksakan," kata Daehyun asal. Untung saja tepat saat Ilona mengantuk.
Ilona mengangguk kecil. "Aku masih ingin tidak tidur dulu," jawabya beralasan.
Daehyun hanya mengiyakan jawaban Ilona, ia kira Ilona masih ingin melihat pemandangan selama perjalanan menuju penginapan ini.
"Ilona, kau tau, aku sangat senang berteman denganmu," kata Daehyun lagi setelah keduanya diam beberapa saat. Tapi, kali ini nada kalimat Daehyun tiba-tiba saja tidak seceria tadi, dan Ilona sama sekali tidak menyadarinya. Gadis yang lagi-lagi sudah bersiap memasang earphone di telinganya itu jadi mengurungkan niatnya. Ia tersenyum hangat ke arah Daehyun. "Aku juga," timpalnya.
Daehyun ikut tersenyum. Padahal dalam hati ia meragukan ucapan Ilona barusan. Senyumnya perlahan pudar saat inti hatinya berkata, "kalau kau tau siapa aku sebenarnya, kau akan sangat menyesal telah bertemu denganku, Ilona," batinnya. Bahkan saat bilang "semoga jadi perjalanan yang berkesan" tadi, Daehyun sebenarnya takut kalau justru jadi kesan yang buruk.
Mianhae¹, katanya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
¹ Miahae adalah ucapan permintaan maaf, dalam bahasa Indonesia berarti "maaf"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
❤️ Halo, Squad... Tunggu episode selanjutnya yang pastinya semakin seru ❤️
Siapkan hati, enakkan posisi, atau kalau boleh sama segelas kopi biar makin jrengg bacanya, hehe...
Share ke teman-teman kamu agar mereka juga bisa merasakan jalan-jalan ke Korea Selatan lewat tulisan. Jangan lupa juga klik gambar bintang dan kasih komen biar aku semakin semangat nulis 😘
Sampai jumpa di bab selanjutnya 🤗
ESTÁS LEYENDO
ILONA : Sipping Love in Korea
Novela Juvenil🍁~Sebungkus Kisah Muslim Traveler, Keluarga, dan Cinta Polygon~🍁 Bertemu dengan seorang tour guide bernama Daehyun yang memandu Ilona selama di Korea, membuat gadis itu jatuh hati. Begitu pun sebaliknya, selain jatuh cinta pada Ilona, Daehyun juga...
