Note: Jangan pernah sekali pun mencontoh cerita ini, karena sangat berbahaya!
Hari ini Dewa akan pergi ke Mall untuk membelikan pacarnya gaun. Ia akan membawa pacarnya untuk menemui kedua orang tuanya. Padahal mereka baru berpacaran selama kurang lebih lima minggu.
Dewa sudah sampai di Mall. Langsung saja dia menuju butik yang ada di dalam Mall itu. Sesampainya di butik, ia melihat gaun berwarna biru laut dengan mutiara yang menghiasinya. Ia mengambil gaun tersebut dan tanpa pikir panjang ia membelinya. Harganya lumayan fantastis, tapi tak masalah bagi Dewa selagi pacarnya senang.
Setelah selesai membeli gaun dan tak lupa antek-anteknya, Dewa langsung menuju Rumah Sang kekasih. Sesampainya di Rumah pacarnya, Dewa mengetuk pintu utama lalu muncullah pacar yang sangat ia cintai.
"Eh, ada kamu. Yuk masuk!" Dewi-pacar Dewa mempersilahkan Dewa masuk.
"Ay, aku bawain gaun, sepatu, tas dan make up untuk kamu," Setelah dipersilahkan untuk duduk, Dewa menyerahkan paper bag yang dibawanya kepada Sang kekasih.
"Wah, makasih Beb," Dewi menerima paper bag yang disodorkan Dewa.
"Sama-sama Ay. Kamu seneng gak?" tanya Dewa.
"Seneng banget dong," jawab Dewi.
"Apalagi kalo dapetin semua harta lo." lanjutnya dalam hati.
"Kamu coba dulu gih,"
"Iya." Dewi menuju kamarnya untuk mencoba gaun yang diberikan Dewa.
"Cantik, Ay." puji Dewa ketika gaun yang dibelinya sudah melekat di tubuh Dewi.
"Iya dong, siapa dulu," sombong Dewi.
"Pacar aku gitu lho." balas Dewa.
Dewi yang mendengarnya ingin muntah, tapi ia tahan. Sabar, hartanya belum habis. Pikir Dewi.
"Dewa, kamu haus gak?"
"Haus, Ay."
"Aku buatin minum ya?"
"Iyah."
Dewi pergi ke dapur untuk membuatkan Dewa minuman. Ia mengambil gelas dan sirup apel, lalu ia menuangkan sirup apel tersebut ke dalam gelas. Setelahnya, ia memasukkan racun ke dalam minuman tersebut. Tak lupa ia mengaduknya agar Dewa tidak curiga.
Dewi kembali ke hadapan Dewa dengan minuman yang ada di tangannya. "Nih," Dewi menyodorkan minumannya ke arah Dewa. Ia tersenyum tipis, tapi senyuman itu lebih mirip seringaian.
Dewa menerima minuman yang disodorkan Dewi. Tak ada rasa curiga sekali pun di hatinya. "Makasih Ay,"
"Sama-sama."
Dewa lemas ketika sudah meminum minuman yang Dewi buat. Sedangkan Dewi memulai aksinya.
Dewi mulai menusuk dada Dewa menggunakan kuku panjangnya. Dewa ingin melawan, tapi tubuhnya tak mendukung.
Sebelum Dewi mengeluarkan organ tubuh Dewa, ia tersenyum sangat manis sekali ke arah Dewa. "Ucapkan kata-kata terakhir mu, bodoh." ucap Dewi.
"A-a-ak-aku sa-say-yang De-dew-wi." ucap Dewa dengan terbata.
"Persetan dengan kata 'sayang'! Hari ini adalah hari terakhir mu hidup di dunia. Hahahaha," ucap Dewi dan diakhiri dengan tawa yang menyeramkan. Jiwa-jiwa phsycopath nya telah muncul. Hati Dewi sudah mati, tak ada perasaan apapun kecuali dendam.
Dewi melanjutkan aksinya, menusuk dada Dewa. Setelah berhasil, ia mengambil jantung Dewa dan organ dalam lainnya.
Ia membawa organ dalan Dewa ke gudang, tempat ia menyimpan semua organ dalam korbannya. Sedangkan tubuh Dewa dibuang ke sungai amazon.
Dewi menjual organ dalam korbannya di pasar gelap. Ia mendapatkan uang yang banyak. Sekarang, ia sudah menjadi sultan yang tak tertandingi.
YOU ARE READING
KATA HATI
Short Story[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] "Jika ucapan tak didengarkan, maka tulisan yang akan membuktikan." Ini hanya cerita pendek dari hasil kegabutan saya:) Selamat membaca❤
