01

7 4 0
                                        

Jangan lupa vote and comment dulu
.
.
.
_______________

Saat pertama melihatmu, jantungku berdebar untuk pertama kalinya.

-IYNFM-

Gema Atmaja, laki-laki yang bahkan belum pernah terlihat batang hidungnya selama bertahun-tahun. Hari ini merupakan hari perdananya untuk hadir di tengah kehangatan kedua keluarga. Saat pergi dia menoreh luka, lalu saat kembali dia menoreh rasa haru. Apapun alasannya, pada akhirnya dia tidak bisa terus bersembunyi.

Duduk ditengah-tengah orangtuanya sekaligus berhadapan dengan dua orang asing yang sedari tadi memandangnya dengan mata kasih membuat Aleta Rheabella duduk mongsar mangsir tidak nyaman. Kedua jarinya ditautkan laksana manusia gugup pada umumnya, dilengkapi dengan titik titik keringat yang  mulai memperebutkan posisi di dahinya.

"Kamu kenapa sih Ta?" tiba-tiba suara bisikan datang dari sisi kirinya. Itu adalah suara Ria, mama Aleta yang sepertinya menyadari ketidaknyamanan putrinya.

"Leta gugup ma, dari tadi om sama tante yang didepan kita lihat Leta terus," bisik Leta dengan sedikit melirik kedua orang yang masih asyik mengobrol itu.

"Kamu itu ada-ada aja. Dibawa enjoy aja, jangan sampai kehilangan image di depan calon mertua kamu Ta," canda Ria yang membuat Aleta mendengus kesal. Lalu tiba-tiba...

"Alma, kayanya calon menantu kamu pingin kenalan. Dari tadi lirik lirik kamu sama Rama," mendengar ucapan mamanya, Aleta sontak melotot tidak terima. Kapan dia berbicara seperti itu? Kapan?!!!

"H-hai tante Alma," sapa Aleta dengan kikuk.

"Hai juga Aleta. Kok gugup sih daritadi tante lihat?" Ujar Alma dengan senyum keibuannya.

"A-ah ma-masa sih tante?"

"Itu buktinya kamu gagap gitu bicaranya," goda Alma dengan seringai.

"..."

Melihat Aleta yang diam tidak bisa berkutik, keempat orang dewasa itu tertawa. Sungguh Aleta ingin meminjam kapur ajaib Budi sekali saja, dan menghilang dari sini. Bahkan keluar dari rencana perjodohan ini kalau perlu.

Benar sekali, mungkin kalian bertanya-tanya untuk apa kedua keluarga dipertemukan? Tentu saja membahas perihal perjodohan. Kemarin jujur saja, Aleta mengalami syok berat ketika orangtuanya tiba-tiba membahas perjodohan.

Setelah panjang lebar rendah tinggi perdebatan yang pasti tidak ada ujungnya, akhirnya Aleta menerima perjodohan itu. Meskipun dia tidak tahu dengan siapa, orang mana, seperti apa orangnya, bagaimana kepribadiannya, dia masih harus menerimanya untuk sekarang. Ingat, untuk sekarang. Karena setelah laki-laki itu datang, ada 1001 cara yang akan Aleta perbuat demi membatalkan perjodohan ini.

Mana ada perjodohan di jaman sekarang? Ini bukan lagi jaman Siti Nurbaya yang harus dijodoh-jodohkan. Apalagi sekarang dia masih dalam proses memantaskan diri untuk calon jodohnya nanti, jodoh yang datang dengan sendirinya, bukan jodoh yang dibawa oleh mereka.

Terkadang Aleta heran dengan pemikiran tentang jodoh menjodohkan seperti ini. Entah tercetuskan dari mana teori ini, dan mengapa harus dipraktekkan? Memang apa bedanya dengan memilih sendiri jodoh untuknya? Apa salahnya? Apa iya harus semua permintaan mereka kita lakukan meski bukan kehendak kita? Apa iya harus seperti itu? Lalu kenapa bla bla bla...

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 27, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

If You're Not For MeStories to obsess over. Discover now