Seorang gadis baru saja memasuki rumahnya. Rumah besar yang telah ditinggalkannya selama 5 tahun ini nampak sepi. Dering ponsel gadis bernama lengkap Nadeella El Marionate itu terdengar memenuhi ruangan. Dengan cepat perempuan yang kerap di panggil Della itu mengangkat panggilan.
'Halo? Kamu sudah sampai rumah?' Tanya seorang dari seberang telepon.
"Iya, Ma. Ini Della baru masuk rumah." Jawab Della. Kakinya kembali melangkah. Ia berjalan menaiki tangga dan pergi menuju kamarnya. Tentu saja dengan menggeret koper besar di tangan satunya.
'Oke kalau gitu. Mama tutup dulu ya telponnya.' Mendengar itu Della hanya mendeham. Sesaat setelahnya telepon terputus.
"Cih! Buat apa rumah gede kalau nggak ada yang nempatin." Sarkas Della yang tidak tahu ditujukan pada siapa.
Della membuka pintu kayu kamarnya. Ruangan itu memiliki desain yang berbanding terbalik dengan rumah megahnya. Kamar yang berlantai dan tembok kayu itu tampak sangat dirindukan begitu mata hitam sang gadis menyapu secara keseluruhan. Dengan cepat ia masuk ke dalam dan membongkar muat barang bawaannya.
Seperti malam-malam 5 tahun yang lalu, malam ini Della harus sendirian di rumah. Mamanya sedang sibuk di rumah sakit, Papanya sedang perjalanan bisnis ke Perancis, bahkan kedua kakak laki-lakinya pun juga tengah sibuk dengan jadwal operasi dan meeting bersama klien. Della memaklumi. Lebih tepatnya Della mencoba memaklumi.
Della memasuki kamar mandi setelah selesai berbenah. Gadis itu membersihkan diri sebelum pergi ke rumah yang ada di seberang rumahnya. Tak butuh waktu lama Della selesai dan langsung bergegas ke rumah tersebut. Celana pendek selutut dan kaos berwarna putih menjadi pilihan outfit untuk bertamu kali ini.
Della menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri guna memastikan tidak ada kendaraan yang melintas, setelahnya gadis itu menyeberangi jalan. Kakinya berhenti di depan pagar baja yang menjulang tinggi sedangkan tangannya menekan bel yang berada di tembok bagian kiri. Tidak lama, seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah.
"Loh Non Della?" Ucap wanita itu ketika melihat Della berdiri di depan pagar. Beliau langsung membuka pagar rumah.
"Mbok Sri! Halo! Apa kabar mbok! Della kangen sama Mbok ih... kok Mbok Sri nggak tambah tua sih?" Della menghambur ke pelukan Mbok Sri. Mbok Sri adalah asisten keluarga pemilik rumah dan sudah mengenal Della sejak kecil.
"Kabar Mbok baik, Non. Non Della sudah besar ya, sudah jadi gadis. Ayo Non masuk. Nyonya pasti seneng lihat Non Della." Della mengikuti Mbok Sri memasuki rumah dan langsung menuju ruang tengah, tempat dimana Della sering bermain sejak masih di taman kanak-kanak.
"Bunda!!" Seru Della ketika manik matanya menangkap sosok wanita berusia hampir 50 tahun yang dengan anggun sedang menonton tv. Tentu saja yang dipanggil langsung memalingkan wajahnya. Nyonya rumah tersebut langsung berdiri setelah memastikan siapa yang memanggilnya.
"Loh! Della? Kapan sampai Indonesia? Apa kabar, sayang? Kok nggak ada kabar selama ini?" Beliau bernama Gina, seseorang yang lebih Della anggap sebagai ibu dibanding ibu kandungnya sendiri. Wanita yang tidak pernah lelah mendengar keluh kesahnya dan dengan terbuka menerimanya di rumah itu.
"Kejutan dong, Bun! Kabar Della baik, Bunda apa kabar? Della kangen banget sama Bunda." Della masuk ke dalam dekapan Gina.
"Bisa aja kamu ini, tentu aja Bunda sehat." Mendengar itu Della melepaskan pelukannya dan terkekeh.
"Bunda, Kaisar mana? Masih sekolah ya?" Tanya Della selepas mengamati kosongnya rumah tersebut.
"Iya, dia jadi ketua OSIS, Dell. Apalagi lagi mau ada acara di Sekolahnya. Biasanya sih jam setengah tujuh baru sampai rumah." Jawab Gina, mendengar jawaban itu Della mengangguk-anggukkan kepalanya.
YOU ARE READING
Schicksal
Teen Fiction"Lo itu cuma hama yang nyusahin hidup gue!" Bentak Kaisar pada gadis manis di depannya. Cowok itu sedang naik pitam dan sang gadis paham akan hal itu. Della. Gadis itu masih membisu. Tidak ada satu kata pun keluar dari bibir ranumnya. Perkataan yang...
