Prolog

1.2K 19 0
                                        

Laurie manegang ketika Tom mengelus perutnya yang rata. Hal yang dilakukan suaminya bukanlah kali pertama atau kedua, tapi sepanjang usia pernikahan mereka. Tiga tahun tepatnya dan Laurie belum bisa mewujudkan keinginan suami tercintanya.

Kontrak kerja sebagai model salah satu alasan kenapa ia tidak mau hamil dulu. Terlebih, ketakutan akan berubahnya bentuk tubuh adalah hal yang paling utama.

Katakanlah ia terlalu egois. Bahkan, sekadar bercinta dengan Tom pun ia belum pernah melakukannya. Entah apa yang ia pikirkan, padahal bisa saja ia atau Tom memakai alat kontrasepsi namun tidak dilakukan.

Kalau orang luar sampai tahu jika Laurie sampai sekarang masih perawan dan Tom masih bertahan mempertahankan rumah tangga mereka, maka mereka pasti akan menyuruh Tom untuk mencari wanita lain yang lebih baik dan lebih cantik daripada harus terus-menerus bersama Laurie yang jelas-jelas menyiksanya. Tapi Tom tidak melakukannya.

Bodoh. Mungkin kata itu yang paling tepat untuk Tom.

Laurie tersentak. Ketika dirasa tangan Tom kembali mengelus perutnya, kali ini dengan ritme yang lebih pelan namun membuatnya kembali merasa bersalah. Ia meringis. Menggenggam tangan Tom untuk menghentikan gerakan itu, lalu berbalik menghadapnya.

"Maaf," ucap Laurie. Air matanya tak bisa lagi ia bendung. Pun isak halusnya tak bisa ia bungkam. "Jika kau mau kita bisa membatalkan pernikahan kita dan kau bisa mencari wanita yang lebih baik," lanjut ia berkata. Tenggorokannya terasa kering.

Tom menggeleng. Menatap Laurie lekat-lekat. "Tidak ada wanita yang lebih baik daripada dirimu, Honey," ujarnya. Kemudian ia mengecup bibir Laurie dengan sangat hati-hati, seakan-akan bibir itu bisa saja pecah sewaktu-waktu bagaikan boneka porselin. "Aku akan tetap menunggu sampai kau siap. Bukannya usia kita masih muda?" Ia kembai berkata. Kemudian kekehan pelan terdengar renyah setelahnya. Kembali ia mengecup bibir merah jambu itu sekali lagi.

Kecupan-kecupan ringan itu perlahan-lahan berubah menjadi lumatan-lumatan yang memabukan. Erangan-erangan liar pun mulai terdengar dari keduanya. Namun, seperti ada alarm yang memperingati Laurie, gadis itu menghentikan cumbuan Tom secara sepihak. Mendorong dada lelaki itu dengan kasar. Kemudian, ia berbalik meninggalkan kamar mereka tanpa menengok ke arah Tom.

Ketika pintu itu tertutup di belakang punggungnya, Laurie menjatuhkan dirinya. Tangisannya kembali pecah, namun tanpa suara. Punggungnya bergetar hebat, lalu suara isakan pelannya mulai terdengar kembali.

Sementara Laurie masih menangis di depan pintu kamarnya, Tom tengah berada di depan pintu, mematung. Menimang-nimang apakah ia akan membuka pintu itu untuk menyusul Laurie. Namun, mendengar isakan gadis itu membuatnya mengurungkan niat, sebab ia tahu betul kalau gadis itu akan lebih menjauhinya.

***

🙋🏼‍♀🙋🏼‍♀🙋🏼‍♀

Hai ... hai ... hai ...

Saya kembali menulis di sini. Yosh! Saya kembali ke sini, mulai bangkit lagi. Barangkali ada yang baca dan saya minta dukungannya. 🤗

Cerita ini sebenarnya sudah lama ingin ditulis, entah habis nonton apa dulu saya lupa, dan film itu sukses bikin baper. 😅

Nah, untuk me realisasi kan nya saya ngehalu di sini. Moncoba membuat baper kalian, itupun kalau berhasil. 😋

Em ... bocoran nama tokoh cerita ini boleh di baca di bawah ini ;

Laurie West
Thomas West

Nah, baru dua tokoh itu dulu, takutnya malah spoiler. 😂🤣

Selamat membaca dan jangan lupa masukan cerita ini ke list perpustakaan kalian. 😘

Surrogate Mother (Ibu Pengganti)Stories to obsess over. Discover now