Bosphorus adalah selat yang membelah istanbul , simbol dua dunia yang berbeda tapi disatukan.
Dua keluarga terpandang menyatukan nama besar mereka dalam ikatan pernikahan. Sang perempuan dikenal sebagai ikon kecantikan dan putri tunggal keluarga Al...
" Dunia ini tidak pernah benar-benar adil untuk orang yang hanya ingin hidup biasa-biasa saja." - Mikhela Amasya Varuni Adalgiso
"Kekuasaan yang abadi selalu dibangun dari darah, bukan dari kasih. Dan aku sudah terlalu banyak mengubur keduanya." - Nael Lysander Bachtiar
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mikhela Amasya Varuni Adalgiso
Etiler, Turki - 08.45 PM
Mikhela Amasya Varuni Aldagiso, seutas nama indah yang disematkan untuk anak tunggal keluarga Aldagiso.
Mikhela yang diambil dari kata Michelle,dari bahasa Ibrani yang melambangkan kerendahan hati, keteguhan iman dan perlindungan ilahi.
Kata Amasya diberikan oleh para tetua keluarga yang berasal dari turki , Amasya adalah nama kota bersejarah dimana di kota ini banyak tokoh - tokoh besar berasal .
Varuni diambil bari bahasa sansekerta yang maknanya Dewi laut atau pembawa berkah dari lautan . Konon, nama ini diberikan oleh sang ayah karena istrinya sangat menyukai lautan .
Sedangkan nama belakangnya adalah sebuah marga yang membawa banyak harapan, kehormatan, dan tanggung jawab yang besar didalamnya.
Orang - orang yang bertemu dengan gadis ini banyak yang salah menebak , Dari kulit putihnya yang nyaris seperti porselen, rambut coklat tua yang begitu berkilau dibawah sinar lampu , dan sorot mata hijaunya yang teduh mengira bahwa gadis ini adalah turis asing yang berkunjung ke Indonesia . Namun faktanya gadis yang kerap disapa Mima, begitu keluarga nya memanggilnya adalah keturunan campuran darah turki oleh ayahnya , Indonesia dan Tionghoa dari sang ibu.
Konon, Mima adalah perpaduan yang langka di keluarga Aldagiso selain cantik dan berkelas tapi tak pernah berlebihan. Seperti lukisan klasik yang tetap sederhana meski dipajang di galeri termahal.
Diantara semua garis itu, mima lebih banyak mewarisi sisi turki ayahnya. Wibawa dan tatapan tajam yang sama, cara bicaranya yang tegas tapi selalu elegan , serta gaya berpakaiannya yang selalu elegan tanpa perlu ia menunjukan sisi itu. Tapi sifat keras kepala dan kepekaannya semua orang tahu itu turun langsung dari sang ibu.
Usianya baru menginjak dua puluh satu tahun . Di usia semuda itu , Mima sudah menorehkan jejak besar dalam dunia kecantikan dan media digital. Ia bukan hanya seorang influencer muda tapi juga founder dari brand VARU , kosmetik masa kini yang memadukan bahab-bahan alami dari mediterania dengan sentuhan tropis asia.
Dalam dua tahun namanya sudah melesat jauh. Kolaborasi dengan model dunia , kerjasama dengan brand parfum eropa hingga ia melakukan kampanye global yang mengusung tema " Confidence is culture" menjadikannya salah satu pengusaha muda paling menjanjikan di turki.
Sang jenius muda, mungkin itu sebutan yang diberikan oleh sang ibu untuknya namun ayahnya sering menyebutnya siswi keras kepala .
Karena Mima berani mengambil resiko besar untuk membangun brand itu . Menjual aset, menolak investor yang ingin membeli mayoritas sahamnya, bahkan Mima berani menolak bekerja dibantu perusahaan sang ayah .
Semua itu dilakukan Mima karena Mima ingin berdiri di kakinya sendiri, bukan karena marganya besar ia bisa sukses tapi berkat kerja kerasnya ia bisa sukses .
Mima tumbuh di rumah yang besar bahkan hanya untuk tiga orang penghunianya. Sang kepala keluarga , Emil Kheizan Aldagiso adalah seorang pembisnis besar di turki khususnya di industri makanan dan infrakstruktur.
Lelaki yang kerap mima sebut dingin,strategis dan ambisius. Cokelat produksi perusahaan sang ayah di ekspor ke lebih dari dua puluh negara , sementara proyek-proyek infrakstrukturnya menjadi kebanggaan di Ankara dan Istanbul.
Sementara sang ibu, Asya Humaira Al-Farouq berasa dari keluarga besar yang dikenal di kalangan kuliner Turki. Ia seorang baker ternama pencipta roti klasik Turki modern yang lembut namun memiliki cita rasa yang khas.
Didalam Tradisi Keluarga Al-Farouq dan Aldagiso adalah keluarga besar dengan tradisi budaya-budayanya yang kuat dan nilai-nilai yang dijaga secara turun temurun.
Mereka menikah bukan karena cinta, tetapi karena perjodohan . Sebuah keputusan yang diambil oleh keluarga besar tanpa calon yang kan dijodohkan mengetahui sebelumnya. Emil dan Asya bertemu untuk pertama kalinya di akad nikah mereka, dalam ruang yang hening dan penuh dengan tanda tanya.
Dan anehnya , pernikahan itu tetap berjalan . Tidak dengan rasa romansa yang berlebihan, tapi dengan rasa hormat yang tumbuh secara perlahan. Dari dua orang asing yang dipaksa menyatu, lahirnlah sesuatu yang tidak terduga stability . Bukan, bukan cinta yang membara tetapi cinta yang membentuk pondasi , yang diam-diam tumbuh pengertian dalam keheningan.
Namun, mima tumbuh dengan melihat kedua orangtuanya saling cinta namun sepi. Ia seringkali melihat ibunya yang selalu menunggu ayahnya pulang dari perjalanan bisnis, dan ayahnya yang lebih banyak berbiacara dengan data. Dari kecil , Mima selalu belajar perhatian tidak selalu berarti pelukan, dan perhatian tidak selalu ditunjukkan lewat kata sayang.
Suatu hari nanti mungkin mima harus menjalani takdir yang sama seperti kedua orang tuanya.
Perjodohan.
Satu kata yang terdengar kuno di dunia modern, tetapi bagi keluarga Aldagiso dan Al-Farouq itu adalah bentuk kehormatan dan tradisi. Pernikahan bukan sekedar cinta, tetapi juga pengikat dua nama besar agar tetap abadi.
" Mima , habibti ... besok abba ingin bicara sesuatu. Jangan tidur terlalu malam ya".
Hallo selamat siang gussy, semoga cerita ini dapat diterima oleh kalian ya!!!
comment dan vote untuk next cerita , selamat weekend dan terimakasih sudah menunggu cerita dari aku .