(Small Note)
~~~~~~~~~~~~~~~~
percaya. Jika kita melihatnya dalam benak, maka kita bisa menggegamnya
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sebuah buku tergeletak di atas meja kafe dengan secarik kertas diatasnya. Berisi sebuah kalimat samar yang sudah tertutup dengan coretan tinta pena berwarna merah. Pemiliknya mengambil buku itu dengan bergegas, tanpa menyadari kertasnya jatuh.
Pukul menunjukkan waktu petang, pemilik kafe yang bekerja sendirian tanpa pegawai di kafe itu hendak mengelap meja dan menutup kafe, ia menginjak secarik kertas dibawah meja kafe miliknya, pria itu mengambilnya kemudian menerawang tulisan itu.
Sekilas ia tersenyum, mengambil pena yang terselip disaku kemeja kerjanya, menulis ulang kalimat yang ia baca di balik kertasnya. Pria itu kembali meletakkan kertasnya diatas meja, tepat dibawah kotak tisu, dengan pikiran optimis bahwa yang meninggalkannya akan duduk kembali disini.
Keesokan harinya,
Keoptimisan sang pemilik kafe benar - benar terjadi, seorang gadis yang meninggalkan secarik kertas itu kembali duduk dihadapannya. Ia menghampirinya dengan membawakan segelas minuman yang gadis itu pesan kemarin.
"Aku belum memesan apapun." ujar gadis itu dengan tatapan sinis, sempat teralihkan tapi gadis itu kembali menatap laptop dihadapannya.
Pemilik kafe tersenyum sekilas, menggambil secarik kertas yang ia letakkan dibawah kotak tisu, yang sedari tadi tidak disadari sigadis. Ia menarik pena di sakunya. 'James' tulisnya dibagian bawah kertas itu.
Suasana sejuk disambut angin yang masuk melalui celah jendela, berhembus pelan dipelipis sang gadis, ia teralihkan dengan James yang menulis namanya dibagian bawah kertas yang ia tinggalkan. Menatap ke arah pria yag masih tersenyum padaanya itu.
"Kau tidak berhak menulis ulang apa yang sudah aku hapus" tukas sigadis dengan ketus "Dan lagi, gunakanlah mulutmu itu untuk memperkenalkan diri"
James segera mengangkat pena ditangannya dan menulis sesuatu ditelapak tangan kirinya 'Kau tidak tahu apapun' tulisnya. James meninggalkan sigadis. Dengan rasa bersalahnya gadis itu merasa bingung, akhirnya ia meninggalkan kafe tanpa membayar minumannya.
Hingga hari hari berikutnya, sigadis selalu datang dengan rasa bersalah.
Namun, gadis itu bersyukur, senyum dibibir James tidak memudar saat melihatnya. Ini kali pertama sigadis ketus penyendiri perduli terhadap perilaku orang lain padanya, ia bahkan merasa iri pada James yang membangun kafe sendirian di usia muda.
James yang sering kali melirik sekilas sigadis kafe, sekali lagi menghampirinya. Kali ini ia tidak mebawakan minuman. Namun, berdiri disamping gadis yang terduduk itu, James sedikit membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya kesamping telinga gadis itu "A-u J-m-mes.." bisiknya dengan suara yang hampir tak terdengar sama sekali.
Gadis itu membelalakkan matanya, menatap kearah James yang berada disampingnya, wajah keduanya sangat dekat. James kembali tersenyum dan menyadarkan wanita itu.
"Aku.. Aku Maria" ucap gadis itu memperkenalkan namanya dengan terbata.
Maria yang semula iri dengan keberhasilan James, meng-urungkannya.
'Aku berhasil melakukannya, bukan?' tulis James di buku catatan kecil yang ia bawa. Maria tertegun dan menggangguk pelan.
James menceritakan sedikit hidupnya melalui buku catatan kecil itu. Pita suara yang rusak akibat kecelakaan hebat bersama ayahnya yang meninggal, cidera hati traumatis yang merenggut mimpinya, dan ibunya yang terkena gangguan jiwa.
