Misim hujan di pagi hari adalah saat-saat yang tidak aku sukai. Sebagai anak kelas enam SD aku harus bangun pagi untuk mengikuti senam pagi di sekolah. Sedangkan udara yang dingin ini menjadikan kasur sebagai tempat paling menggoda. Andaikan hari ini adalah Minggu mungkin aku akan senang sekali tidak perlu berangkat sekolah.
Aku adalah anak teladan yang selalu mengerjakan PR tepat waktu. Tepat waktu itu adalah ketika diatas becak menuju sekolah. Sepuluh menit perjalanan merupakan waktu yang cukup lama bagiku untuk mengerjakan PR. Kecuali kalau ada PR matematika aku selalu minta tukang becak untuk lewat jalan memutar lebih jauh.
"Kipli, bagaimana PR-mu? Sudah selesai?" Tanya seseorang perempuan di belakangku.
"Eh, Meme. Bikin kaget aja. Udah dong barusan. Emangnya kamu belum?" Tanyaku kembali.
"Kan kamu ngerjain PR dari liat PR-ku. Mana sini balikin! Udah mau bel masuk ini" jawabnya sambil menyipitkan mata.
Tiba-tiba suara ketukan besi berkarat di ruang guru itu menggerakan para siswa untuk segera berbaris. Semua siswa segara menyiapkan diri untuk mengikuti senam kesehatan jasmani. Pak Anjas selaku guru olahraga memandu kami mengikuti irama senam. Kadang aku heran kepada guru olahragaku. Sepanjang hari pakai celana training dan kaos polo warna cerah. Ditambah peluit menggantung di lehernya. Tinggal pakai rompi dan memegang safety light orang akan menebak itu adalah juru parkir. Bentuk perut tambunnya-pun sama sekali tidak menujukan orang yang suka olahraga.
Saat jam pelajaran di mulai aku selalu memilih duduk di belakang Meme. Entah mengapa banyak yang tidak mau berteman dengannya hanya karena dia jelek. Menurutku selain dia pintar dalam hal pelajaran dia juga baik. Buktinya aku selalu di traktir bakso tiap jam istirahat olehnya. Makanya aku selalu 'nyaman' berteman dengannya.
Jam pulang sekolah sambil menunggu becak jemputanku datang aku melihat Meme kesusahan mengeluarkan sepedanya. Sepedanya terikat kuat di pohon. Aku yakin ini ulah teman-teman yang suka merundungnya tiap hari. Sebagai laki-laki aku mencoba membantunya.
"Kipli, makasih ya. Cuma kamu yang selalu baik sama aku" kata Meme sambil menangis tersedu-sedu.
Aku ingin tertawa karena cara dia menangis lucu sekali. Nafasnya gelagapan ditambah mulutnya yang meleleh kebawah. Tapi aku harus menahan rasa ingin tertawaku. Aku tidak mau membuat dia lebih sedih lagi. Tapi ini sangat lucu.
Diperjalanan pulang diatas becak aku kepikiran untuk membantu Meme agar tidak di ganggu lagi. Tapi aku masih tidak tau bagaimana caranya. Sampai akhirnya aku bertemu Budi. Tidak seperti namanya yang berarti baik, anak laknat satu ini adalah otak dari semua kegiatan perundungan terhadap Meme. Teman-temanku memanggilnya dengan sebutan 'Mbudi' yang aku tidak tau maksudnya apa. Dia ini adalah teman sekolahku yang sering bercanda denganku. Kami tidak satu kelas tapi karena rumah kami tidak terlalu jauh, aku sering di ajaknya bermain.
"Mbud, nanti sore jadi nyewa PS nggak? Kan besok libur" tanyaku padanya yang sedang naik sepeda sambil jumping di tiap polisi tidur yang ditemui.
"Nanti sore aku mau ke Surabaya, Pli. Maaf ya" jawabnya sambil tetap melakukan trik freestyle dengan sepedanya itu.
Karena bosan lalu aku menelpon Meme. Sampai aku dengar suara seorang wanita di dalam telepon.
"Halo"
"Halo, tante. Bisa saya bicara sama Meme?" Tanyaku kepada orang itu.
"Wah, ini Kipli ya. Tante kira siapa. Tante panggil Meme dulu ya" jawabnya
Aku selalu keheranan kenapa ibu Meme selalu senang ketika aku mencari anaknya. Ah mungkin itu karena aku sering bertamu mengunjungi Meme.
"Halo, Kipli. Tumben nelpon. Ada apa?"
"Aku mau pinjam PR tadi tapi lupa"
"Ya udah ambil kerumah aja kalo gitu" jawab Meme diringi tawa kecilnya yang khas
Saat dirumahnya aku diberikan pelayanan bagaikan tamu kehormatan. Jelas saja. Diantara semua teman sekolahnya hanya aku yang pernah berkunjung kerumahnya. Bahkan saat pesta ulang tahunnya, hanya aku yang menjadi pelipur kesedihannya ketika tidak ada satupun temannya yang datang.
"Maaf tante, malam ini saya sudah janji untuk makan malam dirumah sama ibu" kataku menolak ketika diminta bergabung makan malam bersama keluarga Meme
Hal itu membuat raut wajah ibunya bersedih. Aku bingung apa aku mengatakan sesuatu yang salah. Dan akupun mencoba memperbaikinya.
"Kalau Meme yang saya ajak makan malam bersama dirumah saya bagaimana, tante?" Tanyaku kepada ibu Meme.
"Boleh ya ma, boleh ya" kata Meme memohon pada ibunya.
Tiba-tiba ibu Meme tersenyum sambil mengaggukan kepala tanda setuju. Kemudian kami di antar ibu Meme menuju rumahku untuk bersiap-siap makan malam.
"Tante, daging kambingnya enak sekali. Empuk dan tidak bau amis. Meme suka masakan tante" kata Meme memuji ibuku.
"Ehem. Me, itu daging sapi. Kan tadi aku udah bilang makan rendang" jawabku sambil berbisik
Meme memang seperti itu. Suka salah tingkah kalau ada orangtuaku. Meme anak yang aneh.
***
YOU ARE READING
Sepeda Mini
Teen FictionKipli berada pada dilema ketika teman-teman sepermainannya merupakan tukang bully, dan teman dekatnya adalah korban bully. Dia berada di dua lingkaran kontra sekaligus. Hal ini membuatnya sulit memilih untuk condong kemana. Masalah percintaan masa r...
