"Putus?" dahinya berkerut heran. Ia bertanya-tanya, kenapa gadis yang hampir empat bulan menjadi pacarnya tiba-tiba mendeklarasikan sebuah kata yang menyimbolkan perpisahan.
Aku terdiam, kemudian mengangguk malas. Benar. Gadis yang menjadi pacarnya memang aku. Aryani. Seorang gadis berpenampilan biasa saja, tidak terlalu good looking, kata orang sih, agak kampungan dan hemat dalam berbagai hal – kecuali hal-hal yang berkaitan dengan hobinya.
Seperti saat ini, ketika berada di kafe super mewah, aku hanya memesan segelas es teh. Padahal aku yakin, orang yang yang sekarang duduk di depanku, tidak akan segan-segan membayarkan makanan dan minuman yang aku pesan – bahkan jika harganya mahal sekalipun. Tapi, toh sebentar lagi orang ini sudah bukan siapa-siapaku lagi.
Namanya Prima. Siapa yang tidak kenal Prima? Cowok paling tampan dan popular di sekolah. Punya segudang bakat, dari akademik sampai non akademik. Seorang anak beruntung yang lahir dalam keluarga berekonomi jauh di atas rata-rata, fisiknya nyaris sempurna dan sangat karismatik.
Berbeda seratus delapanpuluh derajat denganku. Kalau orang-orang melihat kami berdua, mungkin mereka akan mengira aku adalah pembantu anak orang kaya yang ditugaskan untuk menjaga anak tersebut.
Lagipula, dia adalah seorang playboy yang tidak tanggung-tanggung dalam bergonta-ganti pacar. Pacaran paling sebentar adalah satu jam, dan pacaran paling lama adalah saat denganku. Aku juga heran, mantannya yang bak model itu saja hanya bertahan beberapa hari, bahkan ada yang baru satu jam jadian langsung diputusin. Tapi herannya, dia bisa sebetah ini pacaran denganku? Aku jelas tidak secantik Alexa, ketua cheerleader yang nyaris sempurna fisiknya. Aku juga jelas tidak sekaya Fera, saingan berat Alexa yang sampai saat ini keduanya masih gencar mengejar-ngejar Prima. Padahal, sudah jelas
Prima adalah pacarku.
Ah, aku jadi sewot memikirkannya. Buat apa juga akan memikirkan hal-hal seperti itu. Toh, sebentar lagi aku sudah tidak punya keterikatan dengan Prima.
Kalau boleh jujur, aku masih sayang dengan Prima. Sangat malah! Tapi ada satu hal yang tidak aku sukai darinya. Sifat kekanak-kanakannya! Orang-orang tidak akan pernah percaya dengan wibawa yang tampak pada wajahnya. Apalagi, dia adalah seorang kapten basket. Ketua OSIS pula! Sifatnya yang konyol dan lebih kekanak-kanakan dari anak kecil sekalipun pasti tak akan mengundang curiga dari berbagai spekulasi penggemarnya. Mereka hanya tahu, bahwa Prima sosok yang sempurna.
Siapa yang menyangka bahwa remaja lelaki paling karismatik di sekolah adalah seorang Gamer sejati.
Dan yang pasti dia selalu menyuruhku untuk menemaninya di warnet atau tempat-tempat game center. Alasannya untuk menghilangkan rasa penat. Tapi, aku selalu merasa tidak nyaman. Aku seperti pengasuh balita, yang selalu menjaga bocah ingusan yang selalu kegirangan tiap melihat barang yang tampak mengagumkan. Lagipula, kebanyakan pengguna game online kan laki-laki, aku jadi berasa menjadi alien di tempat itu. Sudah begitu, tingkah lakunya ketika bermain game online sungguh menjengkelkan dan kadang membuatku risih. Kadang ia berteriak atau mengumpat ketika kalah.
Awalnya, aku memang tidak terlalu menghiraukan sikapnya. Tapi, lama-lama aku jengah! Di depan orang lain, dia akan bersikap dingin, cool, sok berwibawa dan bersikap sempurna. Tapi ketika hanya berdua denganku – saja, dia akan mengubah sifat artifisialnya itu menjadi sebuah realita yang tak dapat dipercaya.
YOU ARE READING
Trotoar Merah Muda - Kumpulan Cerpen
Teen FictionTrotoar Merah Muda berisi kumpulan cerpen dengan tokoh-tokoh remaja yang ditulis sejak tahun 2010 hingga sekarang. Sebagian di antara cerpen-cerpen ini pernah dimuat di Majalah Kawanku dan Gogirl. Sekarang, kedua majalah tersebut sudah tidak terbit...
