1

160 29 14
                                        

Setelah semalaman tidur dengan tidak tenang dan gelisah, hari ini aku datang ke sekolah baruku. Gugup tentu saja, menatap wajah-wajah asing yang penasaran seakan membuatku sesak napas. Namun, aku akan tetap melewatinya. Semoga hari ini waktu berlalu dengan cepat agar aku bisa kembali ke kamarku di rumah.

“Silahkan, perkenalkan dirimu, nak,” ujar Bapak Guru disampingku yang belum kuketahui namanya itu. Yang aku tahu, dia mungkin adalah wali kelasku.

Hari ini adalah hari pertama aku bersekolah sebagai murid baru. Setelah beberapa hari yang lalu aku bersama ibuku pindah ke sebuah rumah peninggalan nenekku.

“Selamat pagi teman-teman, perkenalkan, nama saya Akashiya Zyefarah, biasa dipanggil Zii saja. Rumahku dekat dari sekolah ini. Sebelumnya, saya dari luar kota. Salam kenal, semoga kita bisa berteman baik.” Aku dengan lancar memperkenalkan diri dengan kalimat yang sudah aku hafalkan dari malam sebelum hari ini.

Sebenarnya aku agak takut dan malu, tapi, murid baru mana yang tidak berkenalan di hari pertamanya bersekolah? Toh pada akhirnya, tidak ada yang perlu dicemaskan, semuanya berjalan baik-baik saja, tidak ada yang menggigit.

Setelah bapak guru menyuruhku duduk di bangku paling belakang—hanya itu yang tersisa—aku melangkahkan kaki kesana, duduk, dan mulai beradaptasi dengan yang lain. Aku sendirian menguasai meja baruku itu. Tidak ada teman semeja untukku. Tapi itu bukan masalah besar.

Beberapa dari mereka yang duduk di sekitarku mulai berbisik-bisik, mengajakku berkenalan. Sampai bapak guru menyuruh mereka menunda perkenalan kami sampai jam istirahat nanti. Aku tersenyum. Ternyata tidak semenakutkan yang aku bayangkan.

***

Bel istirahat akhirnya berdentang nyaring. Beberapa murid berlarian keluar kelas, beberapa tetap tinggal. Aku masih diam di tempat dudukku. Mengamati teman-teman baruku berlalu lalang.

“Zii—Eh? Zii, kan namanya?” salah seorang gadis yang berdiri di depan kelas memanggilku, lantas kebingungan, segera menyikut teman disampingnya. Yang disikut mengangguk, tersenyum salah tingkah kearahku.

“Ayo ke kantin bersama?” gadis itu melanjutkan kalimatnya, aku dengan senang hati mengangguk. Senang karena mendapat teman tidak sesulit yang aku bayangkan.

Setelah merapikan buku sekilas, aku berjalan mendekati mereka, ada tiga gadis yang menungguku ternyata.
“Oh iya, aku Biru, panggil Biru saja,” tutur gadis yang memanggilku tadi.
“Aku Tirta,” gadis di sebelah Biru menjabat tanganku. Aku tersenyum, menyebut namaku.

“Kalau aku Ruri, satu kabupaten kenal aku semua, jadi jangan sampai kamu tidak kenal aku, ya?” ujar gadis yang bernama Ruri itu. Kedua temannya sudah hampir menimpuknya dengan sepatu.

Aku mengangguk, tersenyum. Anak yang bernama Ruri ini cantik sekali. Rambutnya lurus panjang sepunggung, diikat rapi menjadi satu. Dia pasti tipe anak populer, mudah bergaul dan punya banyak teman dimana-mana.

Kantin sekolah tidak berada jauh dari kelas. Dalam waktu singkat kami sudah sampai di sana, aku mengikuti arah mereka duduk. Biru memesan makanan untuk kami.

“Sebelumnya, kamu dari sekolah mana, Zii?” tanya Tirta setelah kepergian Biru.

“Aku dari luar kota, kalian tidak akan tahu kalau aku menyebutkannya,” jawabku.

“Jauh, ya?” Aku mengangguk.

“Kenapa pindah? Ada alasan khusus kah?” Ruri menyela sambil mengunyah jajan yang dia bawa dari kelas.

The Hidden Princess [END]Where stories live. Discover now