7. Namanya Rumpi

75.7K 16.4K 6.6K
                                    

Tidak menangis memang
Tapi hati terasa rapuh
Tidak merengek memang
Tapi hati jelas merindu

Kapan kita bisa bertemu?

***

Nana dan Gayatri akhirnya di sini. Tepat di saat kereta api melintas dan membawa aroma besi berkarat hingga memenuhi setiap rongga indera penciuman mereka. Hasil dari bau apek dan minyak yang berkolase dengan sempurna membuat mereka sempat menahan napas untuk beberapa saat.

Rumpi. Rumah Pinggir Rel Kereta Api.

Di seberang rel kereta, tepat di bawah rindangnya pohon dan rimbunnya semak belukar, gubuk itu dinamai Rumpi. Tapi mereka menyebutnya rumah. Tempat dimana mereka pulang dan melepas segala lelah. Tempat paling nyaman, katanya.

Pagi itu matahari perlahan-lahan merambat ke tengah-tengah. Bentuknya sempurna, nyalanya membara. Seakan-akan eksistensinya mampu membakar daratan Jakarta hanya dalam waktu singkat.

"Kita pernah ke sini setahun yang lalu. Dan kamu bilang, kamu nggak pernah ngerti dengan apa yang dia lakukan di sini selama ini."

Saat Gayatri menatapnya dari samping, Nana tahu bahwa gadis itu tengah mencemaskan dirinya. Nana jelas merasakan itu saat tangan Gayatri menggenggam tangannya dengan sangat erat.

Dan seperti satu tahun yang lalu, Nana berakhir tidak berdaya.

"Dia selalu tanya sama semua orang yang pernah dia temui, jadi manusia baik itu yang kayak gimana?" Gayatri terkekeh, sementara Nana hanya diam membisu. "Mungkin pertanyaan itu dimulai dari tempat ini. Dari bagaimana dia mengerjakan banyak hal dan melihat banyak hal di sini."

"Ya?"

"Hmm?"

"Jangan lepas." Nana menoleh dengan senyum tipis.

Jangan lepasin tanganku, Ya. Karena jika kamu melepaskan genggaman tangan ini, aku akan jatuh seperti waktu itu. Aku akan menjadi laki-laki yang nggak mengenal apa itu tabah. Aku hanya akan jadi laki-laki yang memilih hancur untuk merasa baik-baik saja. Aku hanya...

"Nggak akan." suaranya yang lembut berhasil membuat Nana menarik napas ringan. Ia sedikit merasa lebih baik. "Aku nggak akan pernah ngelepasin tangan kamu." ucapnya. Melembut dengan balasan senyum yang tak kalah indah.

Kalau ingin menemukan tempat ini ramai, saat yang tepat seharusnya adalah sore. Tapi Nana datang di saat pagi menjelang siang. Itu pun tanpa rencana. Hanya kebetulan berpikir, apakah hari ini menjadi hari yang tepat bagi dirinya mulai mencari tahu segala sesuatu tentang Sastra?

Apakah hari ini menjadi hari yang tepat baginya untuk bangun dari kekelaman dan mulai berdiri untuk menata segala hal yang sempat berantakan?

"Bang Adin!"

Nana dan Gayatri menoleh secara bersamaan. Tepat saat itu, seorang laki-laki seumuran Nana melambai kemudian berlari dari kejauhan. Karung yang semula ia canglong di pundak ia letakkan begitu saja. Ia lari tergopoh-gopoh dengan senyum lebar. Seakan-akan ia bahagia begitu menemukan Nana berdiri ditempat yang sama dengannya.

Caranya berlari menghampiri Nana...
Caranya melihat Nana...

Nana nyaris tidak pernah melihat seseorang begitu bahagia hanya dengan melihat kedatangannya. Seolah-olah kehadirannya memang dia tunggu-tunggu sejak lama. Seakan-akan eksistensinya di sana membuat laki-laki itu memiliki harapan baru.

"Apa kabar, Bang?" dia menanyakan kabar dengan senyum lebar.

Nana tidak tahu siapa nama aslinya, tapi anak itu biasa dipanggil Ramdan. Hanya dengan sekilas melihat penampilannya saja, orang-orang akan tahu kalau dia ini adalah anak punk.

Narasi, 2021 | Na JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang