Gadis yang terkenal nakal dan suka balap liar dijodohkan dengan seorang pria tampan yang ternyata Dosennya sendiri.
Paksaan terus menimpanya membuat Jian terpaksa menerima perjodohan konyol dari kedua belah pihak keluarga.
Berbeda dari si pria aura...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
⚘THE MAIN CHARACTER⚘
"Aku gak suka sama yang namanya perjodohan! Kuno banget sih! Apalagi sama Dosen sendiri, pokoknya aku gak mau ya. Kalau mama sama papa masih kekeuh jodohin aku, aku bakal pergi dari rumah ini!" -Jian Gistara-
"Saya mau mau saja, asalkan sama Jian." -Arjuna Daniswara-
⚘⚘
Jian, tak habis pikir dengan kedua orang tuanya yang main menjodohkannya begitu saja.
Memang perjodohan dikeluarganya berjalan turun temurun, entah disengaja atau memang tradisi keluarga. Hal ini yang ingin Jian jauhi dari dulu.
WHY??
Kenapa harus dijodohkan?
Kenapa harus dengan dosennya sendiri?
Apa apaan sih kuno sekali!!
"Mama mau kamu hidup terjamin dengan pria yang lebih dewasa dan sudah siap menghidupi istrinya kelak"
"Mama benar, hal baik belum tentu datang kembali"
Jian berdiri menghadap mama juga papanya. "Tapi itu dosen Jian sendiri pa, ma!! Apa kata temen temen Jian nanti!!"
Papa terkekeh, ia membayangkan bagaimana rupawan Juna yang hampir sempurna.
"Temen kamu pasti bangga, Juna orang nya baik. Rupa nya menawan sekali bukan? Temanmu pasti pada iri"
Damn!!
Jian kehabisan kata kata.
"Dia pasti gak sayang sama Jian, orang nya aja selalu bermuka dingin. Pokoknya Jian gak suka!"
"Gak sayang? Apa mau mama telfonin buat dia bilang langsung ke kamu, iya?"
Jian menggeleng cepat. "Gak mau! Dia itu galak, jahat, dingin, gak sebaik yang papa dan mama pikirin.Jian gak boong"
Papa menghela nafas sabar. "Lebih baik kamu ketemu berdua sama orang nya langsung deh, ya kan ma?"
Mama mengangguk, setuju sekali. Ide bagus.
Jian menghentak hentakkan kaki nya keras.
"Tapi ma---"
"Kamu gak pegel berdiri terus disitu?"
Jian cemberut, lantas mendudukkan dirinya di sofa.
"Ma, pa gimana kalau si Juna itu boong ke kita?"
"Dia mana mungkin bohongin kita, yang ngerencanain kan mama sama papa yang pilih juga kita. Toh Juna nya ternyata suka kamu"
"Halah, alasan itu mah! Jian tiap hari udah berpenampilan sejelek jeleknya mana mungkin dia suka sama Jian. Bohong itu ma! Batalin aja deh...yah?"
Jian ya Jian.
Tidak ya tidak.
"Kamu pengennya dijodohin sama yang lain gitu?"
Papa sudah lelah berdebat dengan Jian yang tak kunjung berubah pikiran.
"Gak mau dijodohin sama siapun itu!"
"Baiklah, kalau begitu atm sama motor sport kamu biar papa sita"
Mama menyelak, "bagaimana? Pikir baik baik tentang masa depan kamu sendiri"
Jian gak bisa banget kehilangan dua barang berhaga itu, tanpa mereka hidup nya hampa.
Lalu bagaimana? Memilih "ya" apakah jalan terbaik??
Jian menghela nafas pasrah, "ya"
"Masih dengan barang barang itu?"
Jian mengiyakan.
Ya karna dia hanya beban. :)
"Besok pagi ke kampusnya bareng aja sama Juna"
Papa meneriaki Jian yang langsung melenggang pergi ke kamar.
"Bodo amat, bodo amat"
Ting...
Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal.
>>
"Malam, Jian"
"Saya Arjuna, kamu boleh menyimpan Nomor saya jika mau" <
<
GILA!!
Ini pasti ulah Papa sama Mama.
"Kayak nya aku harus ganti nomor nih"
Ting
>>
"Besok berangkat bareng saya, jam 8 tepat."
"Bodo"
<< Tidak perlu menjaga image lagi deh di depan Dosen ini.
Males banget Jian harus berpura pura, suka.
Jian kembali melempar ponselnya ke ranjang dan mengambil handuk untuk mandi.
"Arjuna Daniswara! Aku bakal buat kamu nyesel banget banget banget nerima perjodohan ini!"
"Hidupku hampa banget gara gara dosen sialan itu!"
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.