1. Jodoh? Bullshit!

16 1 1
                                        

"...untuk kamu yang sedang perjalanan menuju kasur atau kamu yang sudah berada di atas kasur, ini adalah Podcast Teman Tidur dengan segudang cerita yang akan mengantarkan kamu ke dunia mimpi." Meskipun sedang mendengarkan Podcast Teman Tidur namun nyatanya Mawar saat ini sedang duduk di hadapan komputernya, memainkan jari-jarinya di atas keyboard alih-alih berada di atas kasur bersiap untuk tidur. Di samping kanannya bertumpuk beberapa kertas yang ia jadikan sebagai cakaran kasar untuk segala bentuk ide dari dalam kepalanya. Sementara sebelah kirinya terdapat anggur yang akan selalu menjadi cemilannya saat ia sedang fokus dengan hobinya.

"...pasti selalu ada pikiran yang mengganggu seperti.... apa aku bisa lepas dari dia?" Mawar masih serius dengan pekerjaannya sembari telinganya sesekali fokus pada suara sang pembicara. Tangannya kadang berpindah dari atas keyboard lalu ke anggur saat ia sedang berfikir sejenak dan kembali memainkan jarinya di atas keyboard setelah anggurnya habis.

"...gini sih, gue yakin untuk setiap orang yang mau move on, pasti ada pikiran-pikiran seperti itu. Cuma perihal untuk kembali dan benar-benar pergi, itu balik lagi sih, tergantung masing-masing orangnya." Jari-jarinya berhenti seketika. Ia lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya sembari menghela nafas panjang. Kalimat sang pembicara barusan membuatnya kehilangan fokus. Kembali? Pergi? Ia tidak tahu harus memilih yang mana dan hal itu tiba-tiba membuatnya sangat bingung. Ia ingin pergi, tapi di saat yang bersamaan ia juga ingin kembali, meskipun dirinya tahu hanya 1% dari 100% kemungkinan itu akan terjadi. Semuanya telah berakhir. Pria yang 'pernah' ia sayangi sudah memutuskan. Dan ia sudah menerima. Tapi kenapa Mawar seperti belum ingin mengakhiri?

Matanya kembali menatap layar komputer. Membaca setiap kata yang baru saja ia ketikkan. Seketika ia tersenyum saat matanya menangkap sebuah kalimat yang selalu menjadi favoritnya. 'Kau adalah jodohku'. Kalimat yang hanya seseorang yang pernah mengatakan itu padanya. Kalimat yang pada akhirnya harus ia kubur bersama dengan kenangan masa lalunya.

.

.

.

1 tahun lalu

Mawar dan Dio -kekasihnya saat itu- sedang berada di dalam mobil Dio yang saat itu telah berhenti di depan rumah Mawar. Mereka baru saja pulang dari pantai sembari menghabiskan waktu seharian bersama karena besok Dio akan terbang ke London untuk urusan pekerjaan. Gadis itu memeluk buket bunga yang baru saja diberikan Dio tepat setelah Dio menepikan mobilnya di depan rumah Mawar. Buket tanpa bunga Mawar. Karena, meskipun namanya Mawar, gadis itu sama sekali tidak menyukai bunga Mawar. Makanya Dio memberikan beberapa bunga tanpa mengikutkan bunga mawar di antaranya.

Tanpa bosan, gadis itu memandangi bunga dan sesekali mencium aromanya. Dio tersenyum melihat kegiatan kekasihnya yang menurutnya sangat menggemaskan. "gak turun?" Tanya pria itu kemudian. Mengingatkan gadis yang duduk di hadapannya yang tampaknya tidak ingin meninggalkan tempatnya duduk.

"bentar lagi. Gue masih mau disini." Katanya membuat Dio refleks mengusap puncak kepala gadis itu lembut.

"segitu gak pengennya pisah ya?" Dan gadis itu mengangguk memberi jawaban.

"gimana bisa gue turun sementara lu besok udah mau pergi. Jahat banget tau gak?" gerutu gadis itu kesal. Padahal sebelumnya ia sangat bersemangat saat tau Dio akan pergi. Tapi akhirnya ia tetap tidak bisa membohongi dirinya yang merasa sedih karena di tinggalkan jauh oleh pacarnya.

"lah, kok jadi kesal? Padahal tadi katanya biasa-biasa aja." Dio menatap Mawar bingung. Mood pacarnya memang suka naik turun makanya ia suka bingung harus berlaku bagaimana.

"tadi emang biasa aja, sekarang tiba-tiba berubah." Ucap gadis itu yang tanpa sadar sudah memperlihatkan ekspresi merenggut. Membuat wajahnya jadi seperti bebek di mata Dio.

KAMERADTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang