"VINA, KAMU APAKAN ADIKMU!"
Teriak laki laki paruh baya ketika malihat pemandangan yang tak sewajarnya.
Devina yang tadi nya menatap kosong ke arah kolam renang pun tersadar dari lamunan nya. Devina pun menoleh dan mendapati sosok ayahnya.
Tanpa menghiraukan Devina, Bima segera berlari menuju kolam renang yang berada di rumahnya. Dan tanpa aba aba, Bima segera menyeburkan dirinya di dalam kolam renang yang sangat dingin airnya.
Tak lama, Bima pun naik dari kolam renang dengan membawa Vani yang sudah terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
Bima menaruh tubuh Vani di tepi pinggiran kolam renang. Dan menekan dada Vani berulang kali untuk membuat nafas buatan.
Sedangkan Devina menatap tak percaya tragedi yang terjadi di depannya.
Tess
Devina meneteskan air mata. Dan disusul beberapa bulir air berikutnya.
Devina pun yang tadinya berada di seberang kolam renang, sekarang melangkah menuju ayah dan adiknya. Devina ikut berjongkok sama hal nya yang dilakukan oleh Bima.
"Pa, Vani ke-kenapa hiks hiks?" Tanya Devina terbata sambil menangis sesenggukan dan memegang bahu ayahnya dengan tangan mungil nya.
Bima yang menyadari tangan Devina memegang bahunya segera ia hempaskan dengan kesar.
"Diam kamu!, Vani seperti ini karena kamu! Kamu apakan adikmu!" Bentak Bima dengan menatap tajam mata Devina.
"Bu-bukan Vina y-yah" Ujar Devina takut seraya menunduk menatap adik nya sudah tak sadarakan diri, Devina tak berani menatap ayah nya,-Bima karena Bima menatap tajam ke arah nya.
"Halah, munafik kamu" dengan cekatan, Bima mendorong bahu Devina dengan keras sehingga Devina sedikit terhuyung ke belakang. Seakan tak puas dengan dorongan,
Plaak
Bima menampar pipi kiri Devina dengan keras. Sehingga menimbulkan kemerahan.
Panas dan perih.
Itu yang dirasakan Devina saat ini. Devina memegangi pipi nya yang tadi ditampar oleh ayah nya sendiri. Devina hanya mampu menunduk sambil terisak oleh tangisan nya.
"Ingat! Kalau terjadi sesuatu sama anak saya. Saya tidak akan memaafkan kamu" ujar Bima penuh penekanan di setiap kalimat nya sambil mengarahkan telunjuk nya di depan Devina. Dan tunggu, Bima berucap dengan bahasa formal kepada Devina, anak nya sendiri.
Tapi entah, sepertinya Bima sudah tidak menganggap Devina sebagai anaknya.
Setelah nya Bima mangangkat Vani dengan hati hati dan keluar rumah menuju garasi rumahnya untuk mengambil mobilnya dan segera melaju ke rumah sakit.
Sedangkan Devina masih menangis sesenggukan sambil memeluk kedua lututnya.
"Bu-bukan V-Vina yah" ucap Devina terbata dan dengan pelan bahkan hampir seperti bisikan.
"AAAA..."
"MAMAA" teriak Devina.
Huufft, ternyata barusan Devina sedang bermimpi, tapi sangat jelas terasa sangat nyata. Mimpi ini mengingatkan nya pada insiden beberapa tahun yang lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEVINA
Fiksi RemajaAku, Namaku Kiara Devina Azzahra. Seorang gadis polos berparas cantik yang selalu ceria, tapi dibalik keceriaannya itu ada sebuah kenyataan pahit yang harus diterimanya. Perlahan, semua orang yang disayangi nya pergi menjauh. Sehingga membuat Devina...
