Prolog : Untuk Bagian Akhir

15 1 0
                                        

Semua terasa sangat tak ganjil.

Dan aku masih duduk di sudut yang sama. Menghadap mata angin yang sama.

Aroma yang akrab dengan seluruh indera, dilengkapi suasana yang terkesan ramai namun sejatinya sendu menenangkan. Dalam-dalam kujejalkan atmosfer tempat ini ke dalam paru-paru, sembari menyandarkan pinggang di sebuah kursi kayu akasia yang dicat hitam, dan menangkupkan tangan pada lembaran buku catatan. Lamat-lamat menikmati formasi interior tembok bergaya paduan modern-scandinavian dengan pewarnaan dinding motif wash semen, bersanding secara hardcore dengan langit-langit ala industrial tanpa plafon, tangga baja ringan yang diwarna hitam doff, senada dengan bingkai-bingkai pintu dan jendela yang mendominasi facade, dan berbaur mulus dengan lantai plester yang mampu menyulap terik siang seganas apapun menjadi ramah temaram.

Semua sensasi abstrak itu kutulis pada buku yang tergelar di atas meja kayu palet dengan warna-warna acak saling bersandingan pada tiap ruasnya. Tidak rumpang, justru memberi sentuhan artistik . Menyempurnakan mata manapun untuk sejenak melepas penat. Merayakan waktu istirahat yang tergaris dalam takdir.

Takdir?

Huff... cukup mengacak isi kepala untuk membicarakannya. Terlebih tentang semua kejadian ini. Mungkin benar katamu, manusia membutuhkan variabel selain logika dan data, ketika tiba membicarakan hal ini.

Ahh.. Aku kembali merindu rona pipimu, yang meyakinkanku atas dimensi tertinggi di luar nalar manusia.

Yah.. semua dialog antara aku dan kepalaku ini telah kutulis. Aku hanya bisa berharap tentang sampainya tulisan ini padamu. Tunggu dulu ya, aku masih ingin menikmati senyap di ruang ini. Akan lebih lengkap apabila kau datang dengan sekeranjang senyum mahalmu itu. Seandainya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 06, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Yellow Windows (Jendela-Jendela Kuning)Stories to obsess over. Discover now