1

15 3 0
                                        

Pagi itu,sepatu putih bercorak hitam melayang mengenai punggung laki-laki yang selalu di agung-agung kan di sekolah ini.
sepi tak ada yang berkata sedikitpun, bahkan untuk bernafas saja rasanya sulit. Ketidak sengajaan yang menimbulkan sebuah rasa baru di hidup gadis cupu berkacamata ini.

Ya tuhan...

Laki-laki dengan punggung kotor terjiplak sepatu van's milik perempuan cupu itu menatap dingin ke sepatu putih bercorak hitam di tangan nya.

"Siapa?" Ucap nya sambil mengangkat  sepatu itu tinggi-tinggi.

Tak ada satu pun yang berbicara, mereka hanya menatap penasaran ke arah nya, sungguh tidak berguna. Satu gadis berkacamata menatap nya ketakutan,sebelah kaki nya bersembunyi di balik kaki lain nya.

"Punya lo?" Ucap nya sambil melemparkan sepatu itu. Tidak, bukan di lempar ke arah gadis itu melainkan ke tong sampah yang berada sejauh 3 meter di samping nya dan masuk tepat sasaran.
Lagi dan lagi,kelakuan tak terduga laki-laki berwajah tampan itu mengejutkan setiap gadis yang selalu menatap nya kagum. Ya, dia membuka  baju seragam SMA nya di hadapan penghuni lorong menuju kantin.

Astaga.. lihat lah betapa indah tubuh tegap itu.

"Cuci, besok balikin.jangan lo kasih minyak guna-guna!" ucap nya setelah melempar kan baju seragam itu ke muka gadis cupu namun lucu itu,lalu pergi menuju arah loker yang cukup jauh dari tepat ini.

Wangi ini tidak asing...

Gadis berkacamata itu melebarkan senyuman nya sambil mendekap seragam alaska,kemudian berjalan ke arah tong sampah untuk mengambil sepatunya.

"Ga waras!"

"Jijik gue liat nya huekk"

"Si alaska ngapain si, bukan nya habisin aja"

"Gue yakin si cupu pake guna-guna di sepatunya"

Suara-suara ejekan,makian,dan tuduhan itu terdengar lembut di telinga gadis cupu bernama lengkap Jingga Mentari.

"Ta, lo ga papa kan?" Ucap Cica.

Gadis yang di tanya malah senyam senyum ga jelas, Gila.

"Ta, gue nanya loh!" Ucap Cica lagi sambil menautkan alis nya heran. Sinting, pikirnya.

"Ca,aku ke kelas yah.boleh nitip roti sama air mineral?" Ucapan Mentari bertanya tapi kelakuan nya seolah menyuruh.lihat saja, tanpa menunggu jawaban Cica sahabat nya yang iya kenal sebulan yang lalu pada masa MOS. Gadis itu sudah pergi meninggalkan Cica yang masih melongo menatap tangan nya. Wajar saja Cica melongo, Mentari hanya memberinya uang senilai 2000 Rupiah.

"Emang ga waras si Tari,mana cukup dua rebu" ucap Cica sambil geleng-geleng kan kepala nya.

***

"Senja Matahari Alaska"

"Senja Matahari Alaskaa"

"Senja Matahari Alaskaaa"

Gadis itu terus mengulang-ngulang membaca nama di name tag seragam milik Alaska.

"Dada Tata kok dag dig dug yah, aduhh Tata ga mungkin punya penyakit jantung". Mentari berceloteh sambil memegang dada nya.

Ckleekk...

Suara pintu terbuka, bi Edah muncul di balik pintu kamar Mentari.

"Neng,makan dulu.bibi udah selesai masak" ujar wanita paruh baya yang sudah bekerja di rumah mentari sejak Mentari di lahirkan.

"Iya bii sebentar,jantung Tata dag dig dug ser gini bii" Mentari merajuk sambil memegang dadanya.

"Eneng kenapa? Mau ke rumah sakit biar di periksa dokter?" Bi Edah mendekat ke ranjang Mentari,raut muka kawatir tergambar jelas di wajah nya.

"Iya bii, Tata bingung kok jantung Tata kaya mau lompat-lompat. Nanti Tata tanyain Papa dulu deh" ujar Mentari.

"Bapak pulang nanti sore neng,lebih baik kita cek sekarang aja sambil ketemu bapak di rumah sakit" ujar bi Edah.

"Nggak usah bi, Tata ga kenapa - napa kok.Tata laper" Mentari bangkit dari duduk nya, menarik lengan bi Edah untuk makan bersama nya di dapur.

***

Rumah bernuansa abu, putih dan hitam itu selalu ceria dengan kehadiran Mentari,polos namun pintar. Meski Mentari tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu tapi gadis itu tumbuh dengan baik,tak kekurangan kasih sayang sedikitpun. Papa Mentari memberikan semunya untuk Mentari,waktunya di akhir pekan selalu iya habiskan untuk purti semata wayang nya.

Sudah 16 tahun istrinya meninggal kan dirinya dan putri tercinta, tak ada niatan untuk mencari ibu baru untuk mentari.

"Bulan, anak kita tumbuh menjadi gadis pintar" ujar pria yang baru berkepala 4 itu sambil memandangi bingkai foto Almarhum istri nya.

"Papaa" ujar Mentari bersamaan pintu terbuka. Berlari kecil lantas melompat ke rajang papa nya.

"Tata mau cerita pa" ujar Mentari menatap papa nya yang sedang sibuk membetulkan tatanan foto di nakas nya.

"Papaa, Tata mau ceritaa" ucap Mentari sambil merajuk.

"Cerita apa sayang?" Tanya pria itu sambil menatap putri nya.

"Tata punya penyakit jatung deh kaya nya pa, tadi siang dag dig dug gitu pas liat Alaska" ujar Mentari.

"Tuh kan dag dig dug lagi" sambung Mentari.

Pria itu menggulum bibir nya menahan tawa.

"Papa kok muka nya gitu? Tata serius loh pah" Mentari cemberut menatap papa nya.

"Iyaiya,kok bisa dag dig dug gitu kenapa ta?" Tanya nya.

"Gini loh pah,tadi di kantin sepatu yang papa beliin buat Tata kegedean. Pas Tata lari-lari ke kantin karna laper  sepatunya melayang eh kena punggung Alaska" ujar Metari di iringi senyum di akhir nya. Gadis nya itu sedang jatuh cinta, pikir nya.

"Gitu yah Ta? hm trus trus?"

"Terus tuh gini pah  ----,nah gitu. Jadi nya baju Alaska udah Tata rendem deh di mesin cuci tinggal nunggu mesin nya mati" ujar Mentari mejelaskan kronologi yang terjadi di sekolah.

"Alaska itu siapa kalo papa boleh tau?" Tanya papah nya, iya tak marah kepada Alaska atas kelakuan nya pada putri semata wayang nya, itu hal yang wajar untuk anak jaman sekarang.

"Alaska itu.." mentari nampak berpikir.

"Alaska itu orang yang pasti pah bukan setan" ujar Mentari dengan polos nya.

Papanya tertawa sambil mengusap kepala anak nya penuh sayang.
"Papa tau dia itu orang Ta,kamu suka sama dia yah?" Tebakan papa nya membuat pipi Mentari merah seperti tomat, lucu.

"Mentari,rasa suka itu wajar dirasakan seseorang. Dulu papa juga gitu ke mama kamu" ujar pria itu sambil tersenyum lembut.

Malam itu,di habiskan dengan cerita - cerita dengan masalalu.rasa yang tak pernah padam sampai saat ini.

Mentari sudah tertidur lelap di sebelah nya. Dongen masa - masa remaja nya mengantarkan putri nya tertidur.

☀️☀️☀️

Assalamualaikum wr wb.

Sesuatu yang baru itu harus di sambut dengan baik,aku harap cerita  TENTANG MATAHARI (™️)
Ini di sambut dengan baik.
Tekan ⭐ dan juga komen📱setelah membaca.

Segala yang ada dalam cerita ini murni pemikiran saya sendiri,baik nama dan kejadian adalah karangan semata. Jika ada persamaan itu murni ketidak sengajaan.

Wassalam👋🏼

Tentang MatahariWhere stories live. Discover now