Dongeng Legenda Burung Garuda Putih

16 2 3
                                        


     Di kisahkan mengenai kehidupan makhluk yang rasnya lebih tinggi dari manusia. Mereka adalah kakak dari para manusia, sebelum manusia tercipta dan terlahir, mereka telah menghuni bumi tanah pertiwi ini. merekalah yang sering oleh manusia disebut sebagai Hewan.

    Terdapat pada suatu masa, hiduplah sebuah kerajaan burung yang tinggi dan besar, terletat di atas gunung yang berdiri kokoh dan kuat. Kerajaan tersebut di huni oleh sekerumunan jenis burung yang begitu banyak. Salah satu raja mereka yang saat itu memimpin adalah Raja Burung Garuda Emas. Yang selalu berdiri di atas dahan pohon kerejaan yang paling tinggi, dengan membawa mahkota Emas Permata di kepalanya. Sang raja memiliki istri dan dua anak perempuan, kakak beradik. Mereka berdua hidup dengan latar belakang kehidupan yang berbeda. Si kakak hidup dengan selalu di manja dengan sang raja dan pengikutnya sedangkan si adik hidup dengan ketidak adilan dan kesengsaraan. Sang raja selalu memperlakukan anak bungsu atau anak terakhirnya tersebut dengan tidak sewajarnya seorang anak, sesampai sang ibu meninggal, kekejaman sang ayah Garuda terhadap sang anak bungsu tersebut semakin menjadi-jadi. Sang ayah Garuda atau sang raja tadi sangat membenci anak terakhirnya karena ia terlahir dengan sayap dan kaki yang cacat, sedangkan sang kakak terlahir dengan tubuh yang sempurna, selayaknya sesosok Burung Garuda perempuan yang cantik, indah, anggun, dan menawan, dengan bulu-bulunya yang ketika di gibhaskan akan membuat mereka para Garuda laki-laki terpesona. Sang ayah Garuda, sangatlah menyayangi sang kakak tercintanya, sedangkan keburukan dan kehinaanya di berikan kepada sang adik Garuda yang tidak bersalah tersebut.

     Seiring berjalanya waktu, mereka para Garuda bersaudara beranjak dewasa, mereka sudah menemukan pasangan mereka masing-masing dan telah memiliki telur. Sang kakak memiliki begitu banyak telur yang baik dan sehat sedangkan sang adik hanya tinggal memiliki satu telur saja, karena sang adik Garuda tidak bisa dengan baik memelihara telur-telurnya karena terhalang oleh keadaan tubuhnya yang cacat. Dan di sisi lain, keadaan perasaan sang ayah Garuda sekaligus sang raja para burung itu pun masih sama seperti dulu, masih saja tidak berubah, ayah Garuda masih menyayangi putrinya yang pertama dan masih membenci putrinya yang kedua karena kecacatan yang di milikinya.

     Sampailah pada suatu ketika, sang kakak Garuda membuat sayambara atau perlombaan. Dalam perlombaan tersebut memiliki beberapa persyaratan, diantaranya adalah bagi siapa di antara mereka berdua yang kalah, maka salah satu dari mereka harus menjadi budak dari yang menang selama seumur hidupnya, dan tidak ber hak untuk mendapatnkan tahta calon putra mahkota di kerajaan burung tersebut. Akhirnya dengan mulut yang bergemetar sang adik menyetujuinya. Sayembara pun di mulai dengan sepengetahuan sang ayah Garuda yang sedang melihat dari kejauhan dengan nada bicara yang mengejek kepada sang adik Garuda. Kemudian isi sayembara atau perlombaan itu adalah, apabila di antara mereka dapat melihat dan menebak warna ekor hewan kuda putih yang sedang berada di semak-semak kejauhan tersebut dengan benar maka dia berhak menang, akan tetapi bila salah maka dia akan mendapat hukumanya.

     Saatnyalah sayembara di mulai, mereka mencoba menjawab dari pertanayaan tersebut. Sang kakak Garuda menjawab bahwa warna ekor kuda putih tersebut adalah putih, karena sudah jelas kudanya saja berwarna putih, pasti ekornya berwarna putih. Sedangkan sang adik Garuda menjawab berbeda, ia mengatakan bahwa ekor kuda tersebut berwarna hitam. Setelah dari kejauhan ternyata jawaban yang benar adalah jawaban sang adik, warna ekor kuda putih tersebut berwarna hitam! Kemudian sang ayah Garuda dengan kagetnya dan berkata:” tidak tidak tidaak! …tidak mungkin! …ini mustahil, mana mungkin ekor kuda tersebut berwarna hitam!” kemudia sang ayah Garuda mencoba membalikan keadaannya agar nasib sang anak tercintanya atau sang kakak Garuda tersebut tidak berkhir dengan malang. kemudian Sang ayah Garuda meminta bantuan dari Sembilan ekor Naga langit untuk meniup dan meludahi ekor kuda tersebut agar menjadi putih. Dan akhirnya permintaan sang ayah Garuda tersebut pun di kabulkan, putihlah warna ekor kuda putih tersebut ketika kuda tersebut medekat kepada mereka. Sampai akhirnya sayembara tersebut di menangkan oleh sang kakak Garuda, dan sang adik Garuda mulai saat itu hidupnya akan lebih menderita. Akan tetapi sebelum hal tersebut terjadi, sang adik Garuda tersebut mencoba menyelamatkan telur Garuda miliknya, yang merupakan harta satu-satunya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 14, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Dongeng Legenda Burung Garuda PutihStories to obsess over. Discover now