Part 1

52 10 5
                                        

"Kiara! Ayo, bangun! Ini sudah siang, kamu harus ke sekolah!"

Teriakan sang mama membuat gadis yang tengah tertidur pulas itu terbangun. Gadis itu menguap, tanda bahwa dirinya masih mengantuk. Dengan malas Kia turun dari ranjangnya dan berjalan ke kamar mandi.

Tak butuh waktu lama untuk Kia bersiap. Sepuluh menit kemudian, gadis itu telah siap dan turun ke dapur untuk menemui mamanya, lengkap dengan seragam sekolahnya.

"Ini hari pertama kamu sekolah. Ayo, cepat sedikit! Jangan sampai kamu terlambat!" titah Salsa, sembari menyiapkan bekal untuk putrinya.

Kia tersenyum. "Iya, Mah. Kalau gitu, Kia pergi dulu, ya. Assalamualaikum," pamitnya sembari menerima bekal dari sang mama. Tak lupa, gadis itu mencium tangan sang mama.

                                  ***

Bel sekolah telah berbunyi. Seluruh siswa SMK Tribakti masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Namun, masih ada siswa bandel yang datang terlambat  hingga harus mendapat hukuman dari guru BK.

Suasana ramai di kelas 12  TKJ 2 mendadak hening ketika Bu Edah, guru Bahasa Indonesia datang. Penyebabnya adalah guru wanita itu terkenal galak dan tak segan memberikan hukuman yang mengerikan pada siapa saja siswa nakal yang melakukan kesalahan.

Seseorang kini menjadi pusat perhatian. Seluruh penghuni kelas menatap fokus pada sosok yang berdiri di sebelah Bu Edah. Jika diperhatikan, maka keduanya ibarat api dan air. Bu Edah api yang selalu membawa hawa panas, sedangkan sosok di sebelahnya ibarat air yang menyegarkan di tengah panas. Sosok itu adalah Kia.

"Selamat pagi, anak-anak!" sapa Bu Edah dengan nada judesnya.

"Pagi, Bu," semua siswa menjawab serentak. Namun satu yang pasti, tidak ada seorang pun yang menatap sang guru. Semua pandangan masih fokus menatap kagum sosok Kia.

"Pagi ini, kita kedatangan siswi baru. Kamu ... silahkan perkenalkan diri kamu!"

Kia mengangguk tak lupa tersenyum sopan pada Bu Edah. Setelah itu, perhatiannya tertuju pada wajah-wajah baru teman-temannya.

"Perkenalkan, saya Kiara Dwi Putri. Kalian bisa panggil saya Kia. Saya siswi pindahan dari Jakarta. Harapan saya, semoga kita bisa berteman dengan baik."

Setelah memperkenalkan diri, Bu Edah mempersilahkan Kia untuk duduk di salah satu kursi kosong. Saat itulah, gadis itu tersadar bahwa ada yang menarik perhatiannya. Seseorang yang memperhatikannya begitu dalam, dan tak sedikit pun berpaling. Namun, Kiara cukup paham untuk tidak terlalu percaya diri dan berpikir bahwa mungkin saja hanya sekadar tatapan penasaran kepada seorang siswi baru.

                                ***

Ini cerita petama aku. Tinggal kan vote dan komen juga😁🙏

.

.

.

.

See you next part guys😚

KiaraWhere stories live. Discover now