Sinar mentari menyeruak diantara rimbunnya dedaunan pohon. Lembut dan hangat,seperti sedang membelai alam yang baru terbangun dari peraduannya, meninggalkan kemilau di bulir-bulir embun yang mengalir diantara daun-daun hijau. Ditingkahi suara-suara burung berkicauan, alam seakan memulai memanjatkan syukur atas berkah di pagi yang cerah.
Indah di pandang mata, teduh merasuk ke dalam jiwa merdeka...
*****************
Di bawah rimbunnya dedaunan hutan itu, nampak sepasang kaki bertelanjang menapaki jalan setapak dengan kencang. Kaki yang kokoh dan kuat, yang tidak menghiraukan batuan terjal dan duri melintang menghalangi langkah-langkah lebarnya. Berlari di jalan lurus, terkadang hampir terpeleset diantara lubang jebakan pelanduk, tak jarang harus melompat menghindari jurang menganga di bawah sana.
Tiba-tiba dia berhenti. Matanya memicing memandang langit sambil menengadah. Dia tidak lelah, namun dia memikirkan ide lebih baik dalam menembus hutan yang lumayan luas ini.
"Daripada berlari terus, sebaiknya aku melompati pohon-pohon itu!"
Sejenak dia menatap pohon-pohon di atas kepalanya. Lalu dengan mengambil ancang-ancang, dia melompati satu pohon yang mirip pohon trembesi. Hanya sekejap dia mendarat lalu diayunkan langkahnya menuju pohon yang lain. Dia bergerak dari satu pohon ke pohon lain dengan berayun dan melompat. Gerakannya sangat lincah, bahkan jauh lebih luwes dibanding dengan primata terlincah manapun.
"Nah...begini lebih cepat aku sampe ke skulag !"
Oke, dari suaranya kita tahu bahwa dia adalah seorang pemuda. Kita taksir usianya sekitar 17 tahun.
Matanya bulat dengan bola mata coklat kehitam-hitaman, sangat bersahabat jika dia memandang seseorang. Rambutnya hitam lurus panjang sampai menyentuh cuping telinga. Hidungnya mancung, ada tonjolan di pangkal hidung. Bibirnya tipis kemerahan. Kulitnya sawo matang agak putih kemerahan, Badannya lumayan tegap dengan tinggi sekitar 175 cm, mengenakan kaus katun berwarna kelabu polos dengan celana coklat yang warnanya telah memudar, dia bertelanjang kaki. Melilit di sekitar lehernya kain panjang hitam gelap yang menyerupai jubah. Terselip di pinggang kirinya sebuah belati mungil yang lebih cocok dipakai untuk mengupas buah dibanding membunuh seseorang. Di bahunya melintang sebuah tas selempang sederhana. Secara umum bisa dikatakan, dia adalah seorang pemuda tampan.
Pemuda itu terus melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Terkadang dia dengan iseng memetik buah pohon yang dilewatinya sambil tetap melompat, dia memakan buah itu dengan rakus, terkadang pula buah yang dia petik dimasukkan ke dalam tas yang ia bawa.
Sepagi itu dia melewati hutan, berangkat meninggalkan pondok yang merupakan rumahnya jauh di belakang untuk menuju skulag, sebutan untuk sebuah tempat dimana sekumpulan pemuda seperti dirinya dilatih untuk memanah, bergulat, menaiki kuda, berenang, dan pengetahuan tentang berbagai macam hal.
Untuk hari ini ada pemberitahuan bahwa akan ada murid baru di kelasnya. Biasanya jika ada murid baru, mereka akan mengadakan sedikit pesta penyambutan. Si pemuda yang terkenal suka makan tentu saja merasa senang. Dia tak akan melewatkan kesempatan mencicipi masakan enak buatan gurunya.
Dengan pikiran penuh tentang pesta penyambutan murid baru, si pemuda terus melaju diantara pepohonan lebat itu. Jarak menuju sekolahnya kira-kira tinggal seperempat perjalanan. Si pemuda terus saja membayangkan paha ayam bakar kesukaannya, oatbee ~ minuman khas yang terdiri dari rempah-rempah dengan campuran madu hutan yang diambil dari sarang lebah thrandulee~ , aneka kue dan pai buah memenuhi pikirannya. Yah...padahal sebelum berangkat dia sudah sarapan sepiring penuh nasi gandum dan sebotol susu. Itu belum dihitung buah-buahan yang dia petik di sepanjang jalan.
Saking fokusnya dengan makanan pemuda itu tak menyadari bahwa dia telah diikuti oleh seseorang sejak dari tadi. Orang tersebut sengaja mengikuti dari belakangnya sebelum akhirnya dia menjajari si pemuda, yang kehadirannya mengejutkan si pemuda dari lamunannya.
Si pemuda mengerling ke arah orang itu. Ternyata orang yang mengikutinya adalah seorang gadis yang sangat cantik. Rambut hitamnya terurai memantulkan sinar matahari. Kulitnya putih seputih pualam,matanya yang sangat hitam seolah menembus jauh ke dalam mata si pemuda. Sejenak si pemuda terpana dengan gadis yang melompat di sampingnya ini. Gadis itupun menoleh ke si pemuda sambil tersenyum simpul. Sangat manis.
Sejenak si pemuda membeku. Sebelum dia sadar apa yang terjadi, dia kehilangan konsentrasi dan karena dia tidak melihat ke depan, dia menabrak dahan pohon besar tepat ditengah-tengah perutnya. Dia tersangkut. Dan si gadis? Dengan tersenyum geli dia meninggalkan pemuda itu.
~bersambung~
KAMU SEDANG MEMBACA
The Metal Light of Jak
Adventurepetualangan besar jaka di dunia imajiner bernama nusantara
