08 | b e r s a t u

Mulai dari awal
                                    

Untuk pertanyaan kali ini, Jeno hanya bungkam. Itu benar, dia memang mendengar suara tangis pilu dari cewek itu, tapi bukan berarti ia datang untuk itu. Cowok itu hanya khawatir Kim melakukan hal macam-macam karena sudah bolos dua jam pelajaran. Tapi, toh bagaimana pun juga Kim tak akan mendengarkan alasan logisnya.

"Bisa pergi aja gak lo?! Gue mau sendiri. Gue mau menjauh dari lo, Jaemin, dan ... Heejin."

"Kim, ayo berpikir jernih! Gue tau lo panik banget rahasia lo udah kebongkar, tapi please. Lo gak mau gitu denger cerita dari gue? Cerita tadi pagi dari sudut pandang gue, bukan dari sudut pandang lo!"

Pertahanan cewek itu kembali runtuh kala ia tahu salahnya di mana, setelah bergeming lama. Kim sadar, ia tidak seharusnya berpikiran sepihak seperti tadi tanpa mendengar cerita dari Jeno.

***

Jaemin duduk tak nyaman di bawah pohon yang menjadi tempat pertamanya bertemu dengan si kembar Hyunjin. Itu sudah lumayan lama, tapi masih tak cukup untuk membuatnya lupa akan momen itu. Dan kini, di tempat yang sama, ia harus menjalankan suatu rencana untuk menghancurkan dua kakak-beradik itu.

Ini sudah malam, bahkan dirinya bisa saja pulang larut hari ini. Dia sudah izin pada ibunya dan berbohong kalau akan bermain dengan Jeno. Padahal nyatanya, ia sendiri sedang bertengkar hebat dengan cowok bermata sipit itu.

"Jaemin, mau sampai kapan bengong gitu? Lo gak ada niatan untuk bantu gue?" usik Heejin, tepat ketika angan Jaemin mulai liar pergi ke mana-mana.


Cowok itu menghela napas pelan, berat sekali untuk dirinya ikut memikirkan rencana ini. Pembahasan rencana Heejin sudah mulai ke tahap berat, tahap di mana semua rencana kehancuran si kembar mulai di bahas.


Heejin mengeluarkan ponsel dan melihat jam di sana. "Sebentar lagi pukul delapan. Lo jangan bengong, takutnya kesurupan arwah-arwah itu." Ia memperingati dengan bercanda, tapi membuat Jaemin jadi takut sampai memukul lengan cewek itu kasar.

Namun, benar saja, suara ponsel Heejin sudah berbunyi, sekaligus menyala dan menunjukkan pukul delapan pas. Entah kenapa, mulai dari situ hawa di sekitar mereka jadi berubah drastis. Di mulai dengan lampu yang berubah temaram, sampai ...


DOK! DOK!


Heejin menjerit kaget, begitu pun dengan Jaemin yang refleks berdiri dan melangkah mundur. Benar seperti apa yang dikatakan Heejin, peti kemas itu tampak bergetar hebat sekarang. Beberapa sisinya bahkan sampai bengkok karena dipukuli terus-menerus.

Bukannya kabur ke luar area sekolah, Heejin malah berlari mendekati peti kemas dengan ponsel masih di tangan. Cewek itu tak kelihatan gentar sama sekali dan malah tak mengacuhkan panggilan dan peringatan Jaemin sama sekali.

Bisa dilihat, ia malah menyentuh benda logam itu, sebelum sosok cowok menyentuh dan mencekik lehernya kuat.



"JEON HEEㅡ"

"Kamu gak bisa liat situasi? Ayo kabur!"

Bukannya menurut dan kabur sesuai instruksi Hwang, Jaemin malah menepis lengan Hwang dan malah berlari menuju tempat Heejin disiksa saat ini. Ia tak mau percaya dengan Hwang yang menurutnya adalah rival-nya, meski dilandasi dengan alasan logis.

Cewek yang kini masih dicekik oleh sosok cowok berambut merah itu mulai lemas, bahkan sampai ponsel di tangannya terjatuh. Jaemin terhenti dan mulai melangkah mundur.

Bersamaan dengan itu, sosok cowok berambut hitam legam mencengkram leher Jaemin dan Hwang, sampai keduanya terbatuk hebat.

Semua terlambat. Ketiganya mulai lemas dan cekikan itu belum juga terlepas dari leher mereka masing-masing.


"Can't you see me?"

Jaemin yang mulai melemah sekuat mungkin untuk mencoba membuka mata dan melihat apa yang terjadi. Ia merasa wajahnya terganggu oleh sesuatu yang kasar berupa ... rambut? Juga merasakan darah mulai mengucur dari pelipisnya.

"Jika kamu melihatku, aku sedang merapikan ponimu. Katamu ini mengganggu dan panas, bukan?"

Sontak, cowok yang sedang diajak bicara itu membuka mata dan merasakan sepasang maniknya tertusuk oleh rambut-rambut kecokelatan miliknya. Mereka sudah dipangkas acak-acakan.

"Sialan, siapa ...?!"

Belum sampai tiga detik Jaemin berseru begitu, ia melihat sosok cowok berambut ikal dengan wajah 95% terbakar tersenyum memamerkan gigi-gigi berantakan miliknya. Matanya melotot, seakan mata itulah yang akan menghantuinya sepanjang malam.





































"AH, SEPERTINYA KAMU MELIHATKU?!"

20:00 [✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang