.0.

153 19 5
                                        

(highly recommended untuk mendengar Still With You by JK selama membaca!)

Langit malam itu cukup sendu. Kala kebingungan di antara ingin tetap cerah atau menangis menumpahkan hujan. Gerombolan awan – awan yang melintas juga tampak kelabu, seolah memberikan peringatan bahwa hujan akan tumpah, namun tidak ada yang datang selain hembusan dingin angin malam.

Seisi bar terlihat sunyi, sedikit dentingan gelas dari kerjaan bartender di balik meja. Cuit – cuit percakapan terdengar samar, ada beberapa yang tergelak, menertawakan hidup malang miliknya. Ada juga yang bercakap dalam hening, mengeluarkan keluh kesah kesengsaraan sembari meracuni tenggorokan. Ada pula yang mengawang mempertanyakan jalan hidup tanpa tujuan miliknya. Jarum jam yang menunjuk angka sembilan juga tidak dihiraukan, memang tempat itu tidak berencana untuk tutup, begitu juga orang – orang disana yang tidak berencana untuk pergi.

Seseorang menaiki panggung kecil yang berada di tengah – tengah bar, mengetuk mikrofon miliknya—berusaha menarik perhatian pengunjung dari gelas – gelas alkohol yang mereka genggam. Pria itu berdehem, tersenyum saat mendengar beberapa tepukan tangan. Beberapa orang disini mungkin mengenalnya, kecuali mereka yang mungkin baru pertama kali menghabiskan malam di tempat ini. Malam itu ia mengenakan kemeja biru kelam, sedikit dekorasi polkadot mini. Di lengkapi dengan celana jeans hitam. Orang – orang menyebutnya malaikat tengah malam, selalu khas dengan penampilan kelam yang bersanding dengan suara bak malaikat.

"Selamat malam." Suaranya menggema dari getaran pengeras suara. "Mungkin malam ini tampak kelam bagi kita, Saya keluar sebentar dan melihat langit cukup mendung. Tapi—disini kita bisa melupakan segala hal yang terjadi di hidup ini. Setidaknya, untuk sejenak. Izinkan saya melantunkan lagu ini untuk seseorang—setengah jiwa saya yang sedang tertidur."

Suara bass terdengar, diikuti alunan piano dari jemari lentik pianist disana. Seisi bar memberikan tepuk tangan mereka. Kembali menikmati akhir hari dengan iringan suara merdu yang mengiring bulan sepanjang malam.

That faint voice of yours that grazed me
Please call my name one more time—

***

"Semangat Jeonggukie!"

Sang penyanyi tersenyum malu tatkala orang – orang menyoraki namanya. Alunan piano yang diiringi rintik hujan tampak menjadi hiburan penenang gratis orang – orang disana. Jeongguk menikmati detik demi detik musik bergema di telinganya. Ia menatap satu persatu pengunjung bar, ada beberapa yang kembali fokus dengan percakapannya, beberapa mendengarkan dirinya bernyanyi dengan penuh khidmat, ada pula yang sibuk menahan diri karena sudah terlalu mabuk akibat alkohol. Jeon Jeongguk hanya tersenyum dan kembali fokus ke lirik lagu miliknya.

Mungkin sedikit membosankan bagi orang – orang, menghabiskan malam dengan bernyanyi di sebuah bar, melihat segala macam bentuk manusia dengan berbagai sengsara hidup yang mereka tumpahkan di minuman – minuman ini. Dunia itu sulit untuk dihidupi, setidaknya tiap orang butuh satu malam untuk membuat diri sendiri amnesia akan segala kekejaman dunia yang keji ini.

Malam itu ia mengenakan kemeja cokelat muda. Sedikit hiasan garis garis putih. Tak lupa celana jeans hitam yang menjadi ciri khas dirinya. Pernah beberapa orang menanyakan berapa jumlah celana hitam yang ia miliki—Jeongguk tidak sanggup menjawab. Ia bahkan tidak mampu barang hanya untuk menghitung.

Senyumannya manis, kata orang. Jeongguk tidak pernah melunturkan itu dari wajahnya. Selama ia bahagia dengan pekerjaannya, ia akan selalu tersenyum sembari mengerjakan. Tak peduli jika orang bilang membosankan—Jeongguk mempertaruhkan hidupnya disini. Bahkan uang miliknya sudah cukup untuk menyewa satu apartemen kecil, tidak lagi hanya sepotong roti untuk satu hari. Ia selalu menaikkan kedua alisnya sebagai respon dari pujian – pujian yang diteriakkan orang – orang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 27, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

i guess, this simple feelings were everything to meCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang