Prolog

48 5 1
                                        

Semua berawal pada suatu taman yang letaknya berada di tengah kota, Dika terlihat begitu bersemangat hari ini, sambil tersenyum lebar dia mengeluarkan sebuah kotak besar yang berisi boneka beruang dengan hati-hati untuk diberikan pada seorang gadis di hadapannya.

"Selamat ulang tahun Dini!"

Tangan Dika bergetar hebat saat memberikan kotak tersebut, entah karena Dika terlalu bersemangat atau disebabkan kurang gizi, selama 2 bulan terakhir dia begitu berhemat uang jajannya untuk membelikan hadiah ini.

Sayangnya Dika terlambat menyadari bahwa hanya dirinya yang tersenyum, tidak dengan gadis bernama Dini tersebut, wajahnya dingin bahkan terlihat tidak senang.

"Maaf Dika, aku tidak bisa menerimanya. Aku kesini karena ingin mengakhiri hubungan kita."

Perlahan senyuman Dika meredup, dia merasa salah mendengar perkataan gadis tersebut, tetapi biarpun Dini tidak mengulangi perkataannya, wajahnya menunjukkan semuanya.

Keduanya telah menjalani hubungan selama 1 tahun 2 bulan, bukan waktu yang lama tetapi Dika merasa dirinya tulus mencintai Dini. Bukan karena Dini memiliki kecantikan di atas gadis kebanyakan ataupun suaranya yang manis manja, tetapi Dika merasa ingin menjaga dan melindungi Dini.

"Boleh kutau apa sebabnya?" Suara Dika terdengar begitu lesu.

Awal pertemuan keduanya memang biasa saja, suatu sore di taman kota yang sama, Dika melihat Dini sedang duduk seorang diri di kursi taman. Sejak kejadian tersebut keduanya menjadi dekat lalu berakhir menjadi pasangan.

Dika bukan tidak menyadari ada perubahan sikap Dini pada dirinya selama sebulan terakhir, tetapi Dika berfikir itu semua karena kurangnya waktu komunikasi keduanya sejak Dika sibuk dengan praktek kerja lapangannya, sehingga Dika kurang memberikan perhatian pada kekasihnya itu.

"Dika kau pria yang baik. Aku tidak akan melupakan semua perhatian yang selama ini kau berikan, hanya saja aku merasa hubungan ini tidak berjalan ke arah yang benar." Dini menjelaskan tetapi matanya tidak menatap Dika sedikitpun.

"Benarkah hanya itu alasannya?" Meskipun mereka belum terlalu lama bersama, Dika bisa melihat ada yang di sembunyikan oleh Dini.

Dini mengigit bibirnya lalu menghela nafas. "Maafkan aku Dika, tetapi aku menemukan pria yang lebih baik darimu."

Pandangan Dika menjadi dingin, tangannya mengepal keras sampai menjadi begitu merah. Tubuhnya sedikit bergetar, kali ini karena amarah, namun tidak sepatah katapun keluar dari mulut Dika.

"Aku bisa menerima keputusanmu tapi setidaknya terima hadiah ini sebagai kenang-kenangan." Dika tetap menyodorkan kotak hadiah itu.

Dini memandang Dika dalam diam sebelum memejamkan matanya sambil menggelengkan kepala sambil tersenyum pahit. Dini berdiri lalu meninggalkan Dika yang masih berdiri kaku, dari sikapnya menunjukkan Dini tidak ingin memiliki hubungan apapun lagi dengannya.

Dika tidak berusaha menghentikan Dini, dirinya hanya melihat punggung Dini Yang semakin lama semakin menjauh sampai akhirnya tidak terlihat lagi.

Dika lalu duduk di bangku taman, tepat di samping tempat yang diduduki Dini sebelumnya. Dika memandang lama tempat duduk yang kini telah kosong tersebut dengan perasaan campur aduk.

Langit siang itu begitu cerah, matahari bersinar dengan begitu terik tetapi tidak sedikitpun mengusir kegelapan yang mulai menyelimuti hati Dika.

Dika terus tersenyum pahit sambil menatap langit biru, sekejap dunia ternyata begitu sunyi. Dika tidak bisa mendengar satupun suara selain detak jantungnya yang begitu cepat di taman yang begitu ramai.

Waktu rasanya berjalan lambat, sementara Dika menghela nafas dari waktu ke waktu. Setelah merasa cukup tenang, Dika mulai bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan taman. Di depan pintu taman, dia melemparkan satu lembar kertas ke tong sampah, kertas yang berisi rencana kencannya hari ini.

Dika berjalan tanpa kesadaran, ketika dia berhenti melamun dirinya sudah sampai di kediamannya yang sederhana.

Dika mulai berbaring di tempat tidurnya, tidak butuh waktu lama sampai dirinya terlelap karena dirinya telah lelah secara fisik maupun mental. Satu bulan terakhir dirinya hampir tidak pernah memiliki istirahat yang cukup, karena membagi waktu untuk praktek kerja lapangan dan hubungan asmaranya.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Dika beristirahat dengan pulas. Dia tersenyum dalam tidurnya karena memimpikan pertemuan pertamanya dengan Dini.

To Be Continued
.
.
.
.
.
Catatan Penulis : Hai semua kembali lagi dengan saya Dana di karya terbaru saya Diary For You, penasaran dengan kisah nya Dika? Ikuti terus Diary For You.

Jangan lupa vote untuk mensupport karya terbaru saya serta tambahkan kedalam daftar perpustakaan untuk mengetahui perkembangan lebih lanjut Diary For You.

Stay Fun.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 13, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Diary For YouStories to obsess over. Discover now