Bagian Satu

59 5 0
                                        

"lagi ngalamun apa hayo!?"

"Nggak ada, ayo ke kantin"

"Nggak seru ah" Sahutnya sebal.

***

Aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku akhir akhir ini. Entahlah, aku tidak terlalu mempedulikannya. Kecuali jika orang itu mengganggu ketenangan hidupku, akan kupedulikan demi bisa hidup dengan tenang. Dan yah.. selama ini kurasa hidupku sangat normal seperti anak SMA lainnya, menikmati masa masa remaja dengan tenang dan damai.

"Lagi lagi ngalamun, daripada mie ayamnya nggak kemakan mending buatku saja"

"Aku makan kok"

Mie ayam kantin sekolah lumayan enak, aku biasanya menghabiskan jam istirahat di sini bersama temanku, Ryan. Aku tidak punya banyak teman di sekolah, aku bukan orang yang mudah bergaul. Tidak seperti Ryan dia mudah saja berteman dengan orang lain, tapi dia lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku, mungkin karena aku dan dia sudah bersahabat sejak kecil. Aku mengenal Ryan dari kecil, kami selalu bersama sama sejak SD. Ryan itu orangnya cerewet, selalu ingin tahu, tapi jahilnya minta ampun.

Mataku teralihkan ke sosok yang baru saja melewati meja tempatku makan. Sesaat yang lalu, aku melihatnya melirik ke arahku. Satu lirikan sih nggak masalah, Lah ini berkali kali. Setiap aku menatapnya balik dia memalingkan wajahnya. Aku memang tidak terlalu terusik. Tapi risih aja sih.

"Yan, kamu tau cewek yang itu?"

"Siapa?" Tanyanya.

"Itu di meja belakangmu"

Ryan menoleh dengan mulut yang penuh dengan mie ayam. "Cewek mana? Dibelakang banyak cewek"

"Itu yang rambutnya dikucir, sebelah cewek yang pakai kacamata"

"Oh, itu Tania kelas 11 MIPA 2, kelas sebelah kita, masa' kamu nggak tau?"

"Nggak" Jawabku sambil memasukan mie ke dalam mulut.

"Tau nggak, dia nolak Rudi kemarin"

"Rudi kelas kita?" Tanyaku tertarik topik yang diajukan Ryan.

"Iya, kurang keren apa coba si Rudi. Ganteng, ekskul basket, pinter? Lumayan sih" jawabnya. Lalu sambil mendekati wajahku dia melanjutkan "Jangan jangan kamu juga naksir?"

Uhuk!

Hampir saja aku tersedak daging ayam yang baru saja ingin kutelan. "Jangan ngaco ah, kenal aja enggak"

"Habisnya dia kan manis, setahu ku kamu suka sama yang manis-manis kan?" Senyum licik mulai terlihat dari wajahnya

"Nggak"

"Halah, nggak usah pura-pura ya"

Sejak saat itu Ryan selalu menggodaku sampai jam pelajaran terakhir. Kupingku sampai panas mendengar ledekannya. Bisa saja dia ku- tonjok, tapi aku tidak tega karena dia teman dekatku. Jadi kubiarkan saja dia berkata seenaknya.

***

Setelah jam pelajaran berakhir, aku ingin segera pulang ke rumah dan bermain game. Ah, membayangkan bersantai di rumah membuatku terburu buru memasukan buku pelajaran ke dalam ransel. Dan langsung keluar kelas menuju parkiran sekolah. Aku berangkat dan pulang sekolah mengendarai sepeda gunung karena jarak rumahku dan sekolah memang tidak jauh. Lebih efisien memakai sepeda, sekalian menghemat uang jajanku.

Ckrek

Kosong. Kelihatannya tidak ada orang dirumah, ayah dan ibu belum pulang dari kantor. Itu artinya aku bebas di rumah. Ah enaknya.

Main game paling enak ditemani camilan, dan paling enak lagi kalo camilan itu adalah keripik kentang. Tanpa basa basi aku langsung menuju dapur dan membuka lemari snack, dan mengambil satu snack kentang. Saat aku berbalik ingin kembali ke kamar, aku melihat secarik kertas di atas meja makan.

Ayah dan ibu mungkin akan lembur.

Makanan siang sudah ibu siapkan di atas meja.

Jangan lupa kalau hari ini kamu ada bimbel.

Ayah dan ibu mungkin pulang besok malam.

Ah sialan, aku lupa kalau hari ini ada bimbel. Bimbel akan dimulai pada jam empat sore. Dan itu artinya aku cuma punya waktu 1 jam untuk bermain game.

***

Ah gawat, jam empat kurang Lima belas menit. Game memang bisa membuatku lupa waktu. Aku harus bersiap siap.

Orongtuaku bersikeras memaksaku ikut bimbel meskipun nilaiku tidak jelek, malahan bisa dibilang nilaiku tidak ada yang jelek. Tidak ada gunanya juga melawan orang tuaku. Jadi aku terpaksa masuk bimbel ini sejak aku kelas 10.

Letak bimbel- ku ada di perkampungan, jalannya sempit dan sedikit menanjak. Aku kesal tidak bisa leluasa mengendarai sepeda, jadi aku memilih untuk jalan kaki. Tapi ada satu hal yang aku suka. Bimbel- ku berakhir pada jam stengah enam sore. aku bisa melihat sunset yang indah ketika aku pulang dari bimbel. Dan aku menemukan tempat yang cocok untuk menikmati sunset. Rumah - rumah penduduk tidak jadi penghalang untuk menikmati sunset.

"Kamu yang pakai jaket hitam! Berhenti sebentar!"

Sebuah suara menghentikan langkahku. "Siapa? Ada urusan apa denganku?"

"Ah, aku Tania Larissa dari kelas 11 MIPA 2. Ini bukumu kan?" Katanya sambil menyerahkan buku tulis yang tidak asing.

Aku mengamati buku tulis ini dan memang benar ini buku tulisku. "Kenapa buku tulisku bisa bersamamu?" Tanyaku bingung.

"Ketika pulang sekolah tadi aku melihatnya terjatuh dari ranselmu dan mengambilnya" katanya tersenyum. Ah, mungkin aku terlalu terburu buru dan tidak menutup ranselku dengan benar lalu ada buku yang terjatuh dari ranselku.

"Dan sekarang kukembalikan, hehe"

"Kamu datang kemari hanya untuk mengembalikan bukuku?"

"Tidak juga, kebetulan aku berada di bimbel yang sama denganmu, niatnya memang akan kukembalikan sekarang"

"Oh, gitu ya, kalau begitu makasih. Aku nggak sadar sama sekali kita di bimbel yang sama"

"Itu sih wajar karena jam bimbel kita memang beda. Cuma hari ini saja yang sama"

"Oh, gitu ya"

"Ngomong-ngomong ini udah jam empat lebih 5 menit, kita harus segera ke bimbel kan? kita teruskan nanti saja obrolannya" Lanjutnya.

***

Ayo PulangWhere stories live. Discover now