Judul lagu dan nama Penyanyi : No Longer NCT 127
Judul cerpen : Friendzone
Nama Penulis : Hana
Akun wattpad : I_hanasoo
“Jika kita bisa mengeluarkan semua emosi dari pikiran kita. Tidak akan ada ketakutan akan kesalahpahaman dan pengertian.” -NCT 127-
💙💙💙
Aku dan Nara bersahabat sejak kecil. Kita selalu bersama di setiap waktu yang kita punya. Bagaikan satu nyawa berada dalam dua tubuh, meskipun kita berlawanan jenis. Kita saling mengerti satu sama lain. Hal sekecil apapun selalu mudah untuk ditebak dalam persahabatan kita.
Dulu waktu kecil aku pernah mengatakan rasa suka pada Nara, dan responsnya unik, dia menyuruhku menjadi seorang pianis agar bisa menyatakan perasaanku padanya ketika dewasa. Nara sangat menyukai sebuah piano, alunan nada yang dimainkan membuat hati Nara selalu tenang, katanya.
Aku yang merasa memiliki peluang langsung belajar bermain piano dengan giat. Setiap hari sepulang sekolah aku selalu menyempatkan waktu untuk bermain piano. Demi Nara, hanya untuk Nara aku melakukan ini semua.
Ketika kami memasuki usia remaja, tepatnya SMA. Aku dan Nara bersekolah di tempat yang berbeda. Meski berat, tapi itu kemauannya. Dia tidak mau satu sekolah denganku, takut orang lain salah sangka dengan persahabatan kita, alasan lain katanya aku terlalu tampan. Aku tidak menyangkal, mungkin itu faktanya. Karena persahabatan kita yang terlalu erat.
Bertahun-tahun aku belajar bermain piano, dan pada suatu ketika aku berkesempatan menunjukkan usahaku pada Nara. Dia memintaku untuk bermain piano di sebuah kafe. Aku sangat gugup ketika itu, rasanya terlalu asing. Aku ingin menyatakan perasaanku lagi padanya.
Di tengah kegugupanku berjalan menuju panggung kecil, aku melihat Nara menyemangatiku dari tempat dia duduk. Senyumnya yang manis menenangkanku sedikit. Tangan Nara terangkat memberikan dukungan. Lalu aku membalas dengan senyum manis.
Aku sampai di panggung kecil tadi, dan perlahan mulai mengalunkan jari di atas piano. Nadaku beralun sangat indah hingga bisa membuat orang yang mendengar memejamkan mata. Bayangan Nara memenuhi isi kepalaku, aku mencintai Nara, sungguh.
Aku mengakhiri permainan pianoku, dan melihat semua orang yang ada disana berdiri memberikan apresiasi. Mereka memberikan tepukan tangan yang sangat meriah. Rasa yang membahagiakan merayap dalam jiwaku. Ini saatnya aku menyatakan cinta lagi pada Nara.
Bunga mawar merah yang terletak di sampingku, adalah bunga yang sudah aku persiapkan untuk Nara. Aku mengambilnya, setelah bunga itu sampai di tanganku, aku berencana menghampiri Nara.
Namum, ternyata Nara malah menghampiriku dengan seorang lelaki. Dia Alan, orang yang selama ini Nara cintai. Aku hanya bisa menyembunyikan bunga tadi di belakang tubuhku ketika mereka mulai mendekat.
“Laskar keren banget mainnya. Nara sampai kagum liat penampilan Laskar tadi.”
Aku tidak boleh menunjukkan kesedihanku pada mereka. "Iya, terima kasih pujiannya," kataku pelan.
"Benarkan, Alan?" tanya Nara pada Alan.
"Nggak, tuh, biasa aja menurut gue," sahutnya congkak.
Aku tidak menyahut lagi. Sudah menjadi rahasia umum kalau Nara sangat mencintai Alan. Namun yang sebenarnya terjadi adalah, Alan sama sekali tidak mencintai Nara. Sebaliknya, Alan sangat membenci Nara. Mereka dijodohkan, dan itulah yang membuatku menjadi pesimis lagi.
“Gue pergi dulu,” ucapku pada mereka.
Aku berlalu meninggalkan Alan dan Nara. Gagal lagi, dan ini sudah ke sekian kalinya aku gagal ketika menyatakan perasaanku pada Nara. Mungkin ini akan menjadi yang terakhir kali, aku tidak akan mencoba lagi lain kali. Aku mencintai Nara, tetapi aku tidak ingin persahabatanku dengan Nara putus hanya karena rasa yang aku miliki.
“Laskar tunggu!” teriak Nara. Dia meninggalkan Alan di dalam kafe dan menyusulku yang sudah lebih dulu keluar kafe.
“Laskar kenapa? Kok kelihatan sedih? Katanya Laskar senang kalo Nara liat penampilan pertama Laskar main piano?” tanyanya ketika sampai di dekatku.
Aku menatap Nara dalam. “Nara, gue pengin buat sebuah pengakuan. Boleh gue ungkapin sekarang?”
“Apa?”
“Cowok yang lo suka,” ucapku pelan. “Kadang gue iri sama dia.”
“Hah? Maksudnya?”
“Gue pikir, perasaan gue dulu cuman main-main. Tetapi semakin dewasa gue sadar ketika Alan mulai masuk di kehidupan lo.” Aku mulai menceritakan segalanya yang selama ini terpendam.
“Di saat lo dengan begitu semangatnya menceritakan segala hal tentang Alan, hati gue panas, Nar. Tapi gue nutupin semuanya supaya kita tetap bisa sahabatan.”
“Laskar kenapa aneh gini, sih? Salah minum obat?” tanya Nara. Dia menatapku sambil menahan tawa. Apanya yang lucu? Aku sedang serius tapi dia malah menganggapku main-main.
"Gue selalu ngucapin kalimat nggak apa-apa, semuanya akan baik-baik aja. Kalimat ini keluar ketika gue sendirian, sehabis lo menceritakan segala hal tentang Alan. Tapi hati gue selalu berkata lain Nara.”
Wajah Nara berubah serius, sepertinya dia mulai sadar bahwa ini bukan waktunya untuk main-main.
“Gue pengin milikin lo seutuhnya, tapi semakin gue memaksa, yang ada lo bakalan tersakiti karena itu. Bukan cuma lo, gue juga nggak bakalan senang kalo lihat lo nggak bahagia sama gue."
“Laskar, apa selama ini Laskar memiliki perasaan lebih sama Nara?”
Aku diam, tidak menyangkalnya. Mata Nara menunjukkan rasa bersalah.
“Udahlah, Nar. Gue bahagia kalo ngelihat lo bahagia. Terus kejar Alan, bikin hati dia luluh buat lo. Dan kalo nanti kalian udah jadian, gue bakalan jadi orang pertama yang akan ngucapin selamat buat kalian.”
Aku meninggalkan Nara yang terdiam dalam kebisuan. Ternyata benar, persahabatan antara lawan jenis itu tidak ada yang murni. Salah satu di antaranya pasti memiliki rasa lebih.
Nara sudah tidak lagi membutuhkanku. Dia hanya menganggapku sahabat, tidak lebih. Hanya Alan orang yang selama ini Nara harapkan. Lalu, apa gunanya aku mengharapkan Nara lagi?
Perjuanganku berlatih piano tidak lagi berguna. Jika pada akhirnya, Alan lah yang memenangkan hati Nara. Walau sekarang Alan tidak mencintai Nara, tapi aku yakin suatu saat Tuhan pasti menyatukan mereka.
Aku memang orang yang bodoh. Harusnya sebelum Alan memasuki kehidupan Nara, aku sudah lebih dulu menyatakan ini semua. Walaupun berbeda sekolah, tapi tidak ada salahnya aku berusaha. Sekarang aku hanya bisa menyesali waktu.
Kejadian dulu, membuatku menyadari bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Aku mencintai Nara, tapi aku bisa apa jika Nara lebih memilih Alan?
Persahabatanku mulai merenggang setelah waktu itu. Nara perlahan menjauhiku, karena mengetahui rasa yang aku pendam. Dia berhasil memenangkan hati Alan. Sesuai janji, hari itu aku datang menemui mereka untuk mengucapkan selamat.
Aku merindukan Naraku yang dulu. Sekarang kita jarang bertemu, bahkan sulit untuk berkomunikasi. Nara lebih banyak menghabiskan waktunya untuk Alan, tidak seperti dulu ketika kita masih bersahabat erat. Orang pasti akan mengira bahwa kita adalah sepasang kekasih, dulu.
Sekarang aku harus bahagia melihat dia. Walaupun aku belum bisa sepenuhnya melupakan rasaku. Tapi mengikhlaskan mungkin jalan dari Tuhan.
💙💙💙
Salam, Minwow kece😸
CZYTASZ
SONGFICTION
Krótkie OpowiadaniaPernahkah kamu mendambakan sebuah cerita kehidupan dari lirik lagu yang selalu menyapa rungumu? Entah lagu mellow, happy penuh euporia? pernahkah kamu menginginkannya? Di sini, cerpen songfiction dari beberapa member akan membawamu merasakan kehidup...
