Prolog

1.7K 88 11
                                        

Tiana memandang lekat-lekat wajah pria itu, sembari memastikan apakah yang dia lihat nyata atau tidak. Tidak seharusnya pria itu ada di sini, menyusulnya.

Dia berharap semua ini tidak nyata, tetapi apa yang terjadi di depan matanya sangatlah nyata. Bahkan, kalau mengulurkan tangan saja, ia sudah bisa menjangkau wujudnya.

Namun, yang membuat Tiana bingung, di mana orang-orang sekarang? Seharusnya malam ini adalah acara pertunangan Jihan. Seisi kantor diundang untuk hadir di sebuah kafe yang berada di rooftop hotel, dan sekarang orang-orang menghilang, menyisakan dirinya dengan seorang pria yang berusaha menjaga lilin agar tetap menyala di antara angin malam yang berembus lembut.

Detik demi detik berlalu. Senandung lagu ulang tahun dari suara yang agak serak berhasil membuat perasaan Tiana menghangat, sampai-sampai air matanya mulai menggenang. Jempolnya terangkat untuk menyeka sebelum membanjiri wajah yang sudah dirias.

Tiana tidak tahu harus merasa sedih atau bahagia. Seandainya ini adalah mimpi, dia tidak mau bangun dulu. Setidaknya sampai dia tahu apa yang akan terjadi setelah ini, selain fakta kalau pria di depannya sekarang tengah merayakan ulang tahunnya. Kalau ini semua memang benar-benar terjadi, rasanya sulit untuk dipercaya.

Pria itu mengakhiri lagunya dengan seulas senyum, kemudian melangkah mendekati Tiana. Lilin angka dua dan lima masih menyala dan berkibar sesekali ketika embusan angin menyenggolnya, menggoda sekali untuk segera ditiup.

"Selamat ulang tahun, Tiana," ujar pria itu dengan tulus. Senyumnya belum luntur juga, seolah-olah sedang mengundang Tiana untuk ikut tersenyum.

Dengan jarak yang hanya satu langkah, pria itu menguarkan aroma yang begitu menenangkan. Tiana sampai terbuai dan itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa pria di depannya sangatlah nyata. Air mata berhasil lolos membasahi pipinya. Tiana tidak peduli lagi kalau riasannya akan luntur. Pria itu ada di hadapannya, dan dia tidak bisa lebih bahagia lagi.

"Lilin ini terus meleleh kalau nggak segera kamu tiup." Pria itu berucap lagi, kali ini mengangkat kue yang dibawanya lebih tinggi agar Tiana tidak perlu repot-repot membungkuk untuk menjangkaunya. "Jangan lupa, make a wish."

Tiana mengangguk dua kali sebelum memusatkan pandangannya pada api di lilin tersebut. Matanya kemudian terpejam selama hatinya merapalkan harapan yang ditujukan ke langit. Tidak cukup lama sampai dia kembali membuka mata. Lilin itu ditiupnya, hingga menyisakan asap yang pelan-pelan berbaur bersama udara.

Pria itu meletakkan kuenya ke atas meja terdekat, tepat di samping kanannya. Kemudian tersenyum lembut pada Tiana. Tatapan yang ia tujukan pada Tiana tidak pernah berubah, tatapan yang memuja; yang selalu mengisyaratkan kalau apa yang dilihatnya dari Tiana adalah keindahan yang paripurna.

"Aku berusaha percaya kalau ini nyata." Tiana bicara tanpa diminta.

Sebesar apa pun bahagianya akan momen yang mengharukan ini, Tiana sadar ia tidak pantas mendapatkannya. Pria itu tidak seharusnya ada di sana, apalagi berdua saja dengannya. Ini bukan akhir yang tepat atas apa yang sudah terjadi pada mereka beberapa bulan ke belakang. Harusnya lebih rumit dari ini.

Ini tidak tepat. Kata-kata itu mulai berkumandang tanpa henti di kepalanya.

"Aku akan buktikan kalau ini nyata," sahut pria itu dengan tatapan yang pilu. Dia tidak sanggup melihat Tiana menangis, tidak bisa.

Dia menangkup pipi Tiana menggunakan kedua tangannya. Jempolnya bergerak mengusap air mata yang mengalir di sana dengan lembut, sambil pelan-pelan memajukan wajahnya.

Tiana tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi, selain terkejut dengan mata membola, ketika pria itu mempertemukan kedua belah bibir mereka. Hanya menempel, tetapi sudah berhasil menggetarkan hati Tiana. Cukup lama seperti itu, sampai Tiana memejamkan mata dan pria itu melumat bibirnya dengan lembut. Tiana tidak berani menolak, karena ia sudah cukup banyak belajar dari pengalamannya setelah menolak seseorang.

Tautan bibir mereka berakhir, menyisakan napas mereka yang tersengal. Mereka saling menatap dengan penuh rasa takjub, kemudian tersenyum, tertawa, dan akhirnya saling menyembunyikan wajah dalam pelukan satu sama lain.

Seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka meremas cincin dalam genggamannya dan berlalu pergi.

*

Tuteyoo presents
After (I Love You)

Buku kedua dari Before (I Love You)

*
*

Seperti yang kujanjikan, aku akan menulis buku kedua dari kisah Tiana dan Adrian.
Kuharap, kehadiran buku kedua ini akan lebih memuaskan dari buku sebelumnya. Karena aku sangat sadar kalau cerita pertama sangat-sangat kurang. Huft.
Baiklah, itu saja salam pengantar dariku, selamat berjumpa kembali dengan Tiana dan Adrian!

Lots of Love,
Tuteyoo
3 November 2021
Republish 30 Mei 2025

After (I Love You)Stories to obsess over. Discover now