"Selamat pagi, goblok." Janu menyapa santai pada pemuda berjaket merah yang tengah sibuk dengan ponsel pintarnya dengan earbud terpasang rapat di telinga. Begitu duduk di sampingnya, Janu samar-samar mendengar hentakan perkusi bertempo cepat.
"Jangan lo kira gue gak denger lo ngomong apaan." Sisinya menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari layar memanjang yang dipenuhi kumpulan huruf dan gambar. Adam namanya. Teman satu kampus beda jurusan juga beda tingkat. Janu hampir memasuki babak akhir perkuliahan dan Adam masih terbilang tunas.
"Gue cuma ngetes kuping lo masih bener apa gak. Jadi, minggu kemaren gimana?"
"Setan lo, bang. Berani-beraninya pas presentasi malah absen!" Janu cengar-cengir saat akhirnya Adam menyipitkan mata yang sudah sipit dengan bengis padanya. Mungkin di dalam kepalanya, Janu kini sudah menjadi gumpalan tak berbentuk akibat diremas-remas.
"Jatah materi lo gue yang ambil, eh, Bu Arini pas banget nanyain punya lo. Untung gue juara satu dalam lomba mengarang dan gue lolos dari semprotan beliau. Asli, kalo abis ini ada kelompokan lagi, gak akan gue pungut lo!"
"Jangan gitu, dong. Temen gue di sini kan cuma lo aja?"
"Makanya bersosialisasi. Gengsi lo temenan sama adek tingkat? Gengsian mana sama ngulang matkul gue tanya?"
"Brengsek. Perihal absen bikin mulut lo makin pedes aja. Hari ini gue traktir jatah makan siang sama makan malem lo, Dam. Udah, bisukan dulu congornya."
"Ini yang pengen gue denger."
Sesaat kemudian, dari deretan bangku depan, seorang pemuda jangkung dengan rambut tegak kecoklatan berdiri dan memutar badan sambil menenteng tasnya.
"Hari ini kosong. Bu Arini ada rapat. Diganti tugas buat ganti absennya. Nanti gue kirim Line. Dah, balik lo semua."
"Bang, makan malemnya gak perlu. Ganti aja pake kerjain tugas gue, ya?"
"Sialan—"
"Mau protes lo?"
"Nggak, Yang Mulia."
Senyum Adam sumringah banget macam habis dapat kupon gratis mengunjungi kafe kucing favoritnya sementara di sebelahnya Janu udah keburu masam membayangkan beban ganda yang ia panggul.
"Bang, lo ada kelas? Gue mau ke perpus dulu sambil nunggu kelas berikutnya."
"Gue ngikut lo aja. Temen-temen gue hari ini gak ada yang ngampus terus gue males juga balik kontrakan. Berapa matkul lo hari ini?"
"Dua aja. Ntar gue maen kontrakan ya?"
"Mau menyandera komik gue yang mana lagi?"
"Pinjem juga belum udah nyolot aja lo, Bang."
Selagi berbincang keduanya sudah berjalan di koridor dan kini menuruni tangga untuk pergi ke perpustakaan yang berada di lantai dasar. Janu dan Adam bisa dibilang memiliki relasi. Adam merupakan anak dari adik suaminya tantenya Janu dan keduanya bertemu pada saat momen keluarga besar berkumpul di pernikahan kakaknya. Keduanya memulai dengan basa-basi namun akhirnya sampai pada pemahaman bahwa hobi juga topik obrolan mereka selaras dan semakin akrablah mereka.
"Bang, cari kursi dulu, dong? Gue mau nyari buku."
"Idih, rajin banget lo. Gue kira kita ke sini buat numpang Wi-fi aja?"
"Gue cariin buku buat lo ngerjain tugas gue. Jadi yang bakal rajin ya lo, bukan gue. Hehehe."
"Hehehe mata lo. Dikumpulinnya kan besok, Dam? Otak gue baru mau jalan pas malem doang!"
"Lebay lo. Kerjain aja di catatan hape lo, nanti gue yang nulis sendiri. Punya lo dikerjain malem ya urusan lo. Maunya gue sekarang."
"Bisa-bisanya kakak tingkat ditindas adik tingkat." Adam mengibaskan tangannya mengisyaratkan mengusir dan dengan bersungut-sungut, setelah menitipkan tas di loker dan hanya membawa ponsel dan pengisi daya portabel, ia pergi ke kumpulan meja beserta kursi, mencari mana yang tersisa. Menjelang siang, perpustakaan selalu cukup ramai hingga kadang beberapa akan ditemukan duduk di pojokan dengan punggung menghadap tembok di antara rak-rak buku. Yang mana akan cukup mengejutkan di bagian rak yang penerangannya kurang.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Tinggal
RomanceJanu, pemuda yang kurang motivasi dan sulit bergaul, tanpa sengaja berkenalan dengan gadis bersuasana hati seperti angin. Bisa ramah, bisa dingin, bisa cepat datang, namun cepat pula ia pergi. Merasa penasaran akan sosoknya, Janu tak mampu menyembun...
