Prolog

14 4 0
                                        

Cantik.

Salah satu hal yang pasti diinginkan oleh semua perempuan.

Ada yang beranggapan, Cantik itu dari fisik.

Tetapi, mengapa fisik yang menjadi penentu?

Bukankah mengubah akhlak itu lebih susah daripada mengubah penampilan?

•••

"Sebab cantik itu relatif. Maka kita tidak perlu membanding-bandingkan semua itu dari luar."

"Kecantikan yang tidak disertai dengan iman dan budi pekerti, bagai bunga yang indah, namun tiada harum."

"Perhiasan terbaik seorang wanita adalah rasa malunya."
-Fatimah binti Muhammad.

“Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang. Bukan terletak pada wajah dan pakaiannya.” –Buya Hamka.

“Cantik itu pilihan. Ketulusan serta bahagia yang selalu kau upayakan hadir di hatimu bagi diri dan orang lain, senantiasa akan memancar hingga wajah. Itulah kecantikan sejati.” 
–Helvi Tiana Rosa.

•••

~Jangan pernah merasa paling menderita atau kesusahan sendiri sampai lupa bersyukur. Jika melihat sekeliling, banyak yang juga sedang berjuang sepertimu atau bahkan lebih terpuruk darimu

~Tidak bisa menyenangkan semua orang adalah fakta universal yang harus diterima. Jangan sampai kicauan haters membuatmu rendah diri atau bahkan sampai membenci diri sendiri

-Source: Google

•••

Hey...

Apa kalian tahu?

Kupu-kupu tak bisa melihat sayapnya.

Mereka tak tahu begitu indahnya mereka.

Mungkin sama denganmu.

Kamu adalah kupu-kupu.

Kamu cantik.

Kamu hanya tak bisa melihatnya.


Until here, I hope you can start loving yourself.

•••

Cantikka Alician.

Murid Kelas 11 SMA.

Gadis yang amat introvert, pintar, dan baik.

Namun, Orang-orang disekitarnya menilai dirinya hanya dari fisiknya.

Cantikka berjalan melewati lorong. Hari ini adalah Masa Orientasi Siswa kelas 10.

"Ih, itu bocah masih aja nunjukin mukanya disini. Gatau malu amat." Bisik salah satu teman seangkatannya.

"Udah tau miskin, ga punya malu."

"Hahaha, dia kan diterima disini gara-gara beasiswa ya."

"Oh iya. Hahaha... Melas amat."

Cantikka mengulun ujung jilbabnya."Bukannya kalau pakai beasiswa itu lebih bagus ya. Karna prestasiku, aku ga perlu repotin ibu buat bayar spp bulanan." Batin Cantikka.

Ia sudah sangat terbiasa mendengarkan hal-hal yang menyakitkan itu sejak duduk disekolah dasar.

Dia bahkan sudah sangat mahir menangis dalam senyum.

Ia ingin curhat, tetapi entah pada siapa.

Ingin menyerah, tetapi ia tak ingin membuat ibunya sedih.

Yang ia lakukan hanyalah menangis dalam doa nya.

Sudah sering ia berdoa. Ia sangat lelah dengan semua ini. Cantikka percaya. Suatu hari nanti, derita nya akan diakhiri dengan kebahagiaan. Semoga saja.

Cantikka sampa di kelas barunya.

Sebenarnya ia sangat ingin menduduki bangku depan. Tetapi, ia tak ingin dicaci maki temannya hanya karena urusan bangku.

Dengan berat hati, ia pun duduk dibelakang.

Walaupun matanya sedikit rabun. Tapi bagaimana, untuk makan sehari-hari saja susah. Apalagi beli alat bantu seperti kacamata.

Tak lama, bel berbunyi. Diikuti dengan suara toa sekolah yang berisikan pengumuman.

Seluruh siswa disuruh menuju ke lapangan outdoor dengan seragam rapi, dan lengkap.

Cantikka mengambil topi dan dasi nya di dalam ransel lusuhnya.

Ia mengenakannya. Dan segera berjalan ke arah lapangan.

Baru sampai di dekat papan tulis, Vanessa mencegatnya.

Vanessa berjalan maju mendekati Cantikka. Cantikka pun memundurkan dirinya, sampai akhirnya mentok ke papan tulis.

Tangan kanan Vanessa pun menjalar ke papan tulis. Agar Cantikka tak bisa menghindar lagi.

"Ka.. Kamu mau ap-" Ucapan Cantikka terpotong saat Vanessa pun menyodorkan tangan kirinya ke depan wajah Cantikka.

•••

Next? Vomment!

Share juga ke temen kalian yang mungkin lagi insicure. Mungkin bisa membaik setelah baca quote diatas.

Thank you, See you next part❤

CANTIKWhere stories live. Discover now