Prologue

63 10 2
                                        

Menjadi pusat perhatian dan pemeran utama disetiap ajang yang ia hadiri bukanlah suatu hal baru bagi Sakura. Entah karena bakat menyanyinya yang luar biasa, paras cantik dan tubuh indah yang ia miliki, atau karena sensasi mengenai dirinya yang beredar luas. Atau ketiga-tiganya?

Memiliki kebiasaan menulis lagu tentang kisah percintaannya dengan para mantan kekasih, membuat media menyorot setiap perilakunya. Tapi, bukankah setiap penyanyi memang menuliskan lagu dengan berbekal pengalaman mereka? Mengapa jika ia yang menyanyi akan mendapat banyak sorotan? Ia tak menyangka, ketika menginjakkan kaki ke dunia hiburan respon yang diterimanya akan sebesar ini. Manager sekaligus ibunya, Mebuki Haruno, selalu berkata jika itu disebabkan oleh kharisma luar biasa yang ia miliki yang diturunkan darinya.

Tapi sayangnya, kharisma itu tidak berlaku bagi seorang Uchiha Sasuke. Aktor tampan pemenang Oscar dan Golden Globe Award itu seakan akan memberikan penilaian final akan dirinya. Seorang jalang kelas kakap. Begitu Sasuke menyebutnya. Sasuke yang dulu semasa kecil menjadi prince charming kebanggaannya, kini berubah menjadi raja iblis yang sering menanamkan kata-kata pedas yang menyakiti hatinya. Dan lebih buruknya, kini Ia harus hidup berdampingan dengan pria itu untuk waktu yang tidak dapat ditentukan.

"Naruto,Gaara, Utakata, Hatake Kakashi, Hyuga Neji, Kiba, Shikamaru, Sasori, Toneri, bahkan Konohamaru pun kau kencani?! Bagaimana aku tidak berpikir kalau kau ini memang jalang hah?!" Bentak Sasuke, wajahnya memerah menahan amarah dan rasa jijik kepada wanita di depannya ini.

"Lalu bagaimana denganmu hah?! Kau kira kau suci? Kau adalah player, dan sudah banyak wanita yang kau masuki dengan penismu itu!" Balas Sakura, tak terima dirinya direndahkan.

"Setidaknya aku lelaki, sudah jadi kodratku untuk menjadi buas dan berburu! Kau masih ingin menjaga harga dirimu itu hah? Padahal sudah pasti kau membuka kakimu untuk banyak lelaki-mantan kekasihmu itu!" Ucap Sasuke, semakin menambah kedalaman luka yang ia torehkan pada Sakura.

Plak! Satu tamparan keras Sakura layangkan di pipinya.

"Kau pikir kau tau segalanya huh?! Jangan samakan aku dengan wanita-wanita jalang yang pernah kau kencani itu!" kecam Sakura.

Mendengar hal itu, amarah semakin naik di dalam diri Sasuke. Ia melangkahkan kaki kedepan, semakin mendesak Sakura. Sakura tidak gentar, ia semakin mendongakkan kepala dan menjatuhkan tatapan berani pada pria dihadapannya. Setibanya wajah mereka berhadap-hadapan dengan sangat dekat, Sasuke mencengkeram pipi Sakura dan menaikkan dagu perempuan itu.

"Jalang, katamu? Kau tidak berkaca? Kau sendiri adalah jalang kelas kakap yang bersembunyi dengan bantuan cangkang kemewahan dan keanggunan milikmu. Selebihnya, mungkin kau lebih rendah dari wanita-wanita yang pernah aku kencani." Ucap Sasuke.

Menahan perih hati yang ia rasakan, Sakura tidak menundukkan pandangannya. Ia menahan cairan yang akan keluar dari matanya, tapi sialnya cairan itu tetap keluar. Air kemarahan dan kebencian menetes tanpa ia persilahkan. Dengan wajah memerah ia membalas perkataan Sasuke.

"Kau tidak tau apapun tentangku. Kau tidak tau apa-apa!" Racaunya semakin keras.

"Aku tau banyak tentangmu! Kalau kau tidak ingat, aku mengencani banyak teman wanitamu. Dan mereka banyak menceritakan betapa buruknya dirimu." Ucap Sasuke dengan raut datar.

"Kau berubah, Sasuke." Ucap Sakura pelan, dengan sorot mata sedih dan kecewa kepada teman semasa kecilnya ini.

"Bukan aku yang berubah, tapi kau yang berubah Sakura." Balas Sasuke.

Ada satu kebiasaan Sakura yang belum berubah sejak kecil, yaitu mencakar dan menjambak Sasuke ketika marah.

Saat ini Sakura kalap, ia meraih rambut hitam Sasuke dan menjambaknya dengan kasar. Kuku jarinya yang panjang dan berkutek merah kini ia tancapkan di pipi dan leher Sasuke. Kini di wajah Sasuke banyak bekas kemerahan dari cakaran Sakura, rambutnya berantakan. Ia yang mulai tersulut, segera mencengkeram lengan Sakura agar gadis ini tidak bergerak lagi.

"Kau bedebah sialan! Lelaki brengsek! Aku membencimu!" Bentak Sakura merasakan sakit di pergelangan tangan yang Sasuke cekal.

Setelah umpatan serapah itu Sakura lontarkan, mata Sasuke berubah semakin kelam. Otot muka nya semakin kaku dan tegang, membuat mukanya memanas dan merah. Tubuh Sasuke bergetar kemudian diikuti dengan tenaga kuat yang menjadi-jadi menggapai tubuh Sakura direngkuhannya. Sakura sendiri kebingungan, entah darimana perubahan sikap yang sangat drastis ini berasal. Tapi, ia tidak dibiarkan berpikir lama-lama karena ciuman keras yang Sasuke berikan di bibirnya membuat otaknya kosong. Dilumatnya bibir Sakura dengan terburu-buru dan kasar seakan itu adalah oksigen yang harus ia hirup. Kepala Sakura ia tarik semakin mendekat, hingga kini lidahnya dapat masuk membelai isi mulut Sakura. 

Sakura meronta dan berusaha melepaskan diri, lehernya kaku menuruti keinginan Sasuke akan bibirnya tapi ia berusaha sebisa mungkin tidak membalas perbuatan lelaki itu. Ia hanya diam tanpa menanggapi belaian bibir Sasuke di bibirnya. 

"Ayo, balas aku sayang." ucap Sasuke dengan rendah dan dalam.

Sakura hanya menggelengkan kepalanya, berusaha menghindari ciuman Sasuke berikutnya. Sasuke yang melihat penolakan di mata Sakura segera meraih kepala merah muda itu lagi dan menciumnya dengan keras kembali. Tapi kini ia gigit dengan keras bibir milik Sakura hingga cairan darah keluar dan Sakura meringis. Merasakan Sakura tetap diam, kini Sasuke menggigit kembali bibir Sakura hingga darah yang keluar semakin banyak. Sakura yang tidak ingin merasakan sakit lebih dalam, kini ia menerima dan membalas ciuman Sasuke.

Mereka berbagi ciuman dengan kasar. Diikuti dengan nafsu, amarah, dan rasa benci Sakura kini memperdalam ciuman mereka. Ia remas rambut Sasuke dengan keras, balas dendam atas rasa sakit dibibirnya. Rasa seperti karat yang berasal dari darah Sakura menjadi penambah sensasi menantang ciuman mereka ini. 

Saat kebencian kini telah berubah menjadi nafsu, Sakura merasakan kewarasannya semakin hilang. Kini ia siap dan menyerah, ia rasa hanya ini satu-satunya cara bagaimana persepsi pria yang saat ini berstatus sebagai suaminya ini berubah tentangnya. Campuran antara kabut nafsu dan perasaan untuk membela diri kini menjadi pendorong baginya untuk merelakan semua yang ia miliki untuk Sasuke. Lagi pula, ia sudah berhasil mempertahankan prinsipnya. Walaupun perasaan itu belum ada diantara mereka.

"Sekarang aku ingin membuktikan. Perkataanku atau perkataanmu lah yang benar." suara rendah Sasuke merasuk di telinganya, ditambah dengan gigitan kecil dan sapuan bibir pria itu di telinga kirinya.

Melihat tidak ada penolakan dari Sakura, kini ia mengangkat pinggul Sakura dan menggendongnya menuju kamar mereka berdua. Bersiap merasakan betapa nikmatnya surga yang akan saling mereka berikan.

LoverWhere stories live. Discover now