Aloha Readers !! Happy Reading 😍
Nb: Maaf ya kalo belum tertata dengan baik 🙏
**
"Andai ada kata lain selain kerja keras, aku pasti akan memilihnya." ku usap peluh keringat yang sedari tadi telah mengguyur wajah ku yang kian membulat.
Entah kapan terakhir kali aku memperhatikan diriku sendiri,
Aku bahkan merasa tak lagi peduli pada diriku yang tak berdaya ini.
Padahal dulu, aku termasuk seorang wanita yang amat memperhatikan penampilan dan juga kecantikan. Ya, dulu.
Namun semua berubah saat aku harus menerima keadaan ,bahwa kini aku lah tulang punggung untuk adikku satu satunya,keke.
Ingatan ku sempat kembali ke beberapa tahun lalu , saat semua canda dan tawa selalu menghiasi hari hariku .
Kebahagian pun seakan senantiasa berpihak padaku.
Sampai hari itu ...
"Ma!! Kita jadi weekend di Bandung kan??" Gumam ku sambil menggelayuti pundak mama
"Jadi doong,..kamu siap siap aja ya" jawab mama yang sepertinya juga ikut antusias menghadapi libur panjang akhir tahun ini
"Kita nginep ngga??" Tanya Keke yang ikut nimbrung bersamaku dan mama di dapur.
"InsyaAllah,..makanya, kamu packing ya..nanti minta bantuin sama kakak" dan boom, wajah ku langsung dihiasi manyun lima meter,ups.
"Kenapa aku sih ma??!" Protes ku secepat kilat .
Aku tuh bukannya ngga mau bantuin Keke, hanya saja aku itu males kalo dia udah jadi mak rempong, yang bawa boneka lahh,bawa berbie lah bawa ini itu lahh,.
"Bantuin dong ka,." Nasehat Papa sambil mengucek ngucek rambut ku yang belum terbalut hijab.
"Au!!!Bantuin makanya!!" Ledek Keke sambil menyenggol tangan ku .
"Awas kamu,.!!!" Pekik ku sambil main kejar kejaran dengan keke di dapur minimalis kami.
"Kinan,..Keke.. udah doong nanti kalo ke jedot gimana hayo..udah udah ini makan dulu " ujar mama mama sambil meletakkan empat piring sup ayam diatas meja makan.
Keke adalah adikku yang baru menginjak usia 8 tahun, ia sekarang sedang duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. umur ku dan Keke pun terpaut cukup jauh, sekitar 11 tahun.
Of course,..aku sekarang sedang menginjak semester 2 di Institut Kesenian Jakarta.
Sedangkan Mama, adalah seorang desainer disebuah butik. kalo papa sih, beliau adalah arsitek yang cukup handal.
Dan siapa sangka kalau nasib ku itu harus berubah 360 derajat??
**
Aku hanya bisa terus melangkah kan kaki kaki ku diatas aspal nan kokoh ini, berusaha untuk tegar dalam menghadapi keadaan.
Aku bahkan tak sama sekali menghiraukan tumit ku yang terasa tertusuk tusuk karena lecet yang cukup dalam, rasanya perih sekali.
"Aww,.." pekik ku kecil sambil sesekali mengelus elus tumit kaki ku.
"Kamu ndak papa de?" Gumam seorang nenek yang kuperkirakan berumur sekitar setengah abad itu .
"Eh,ngga papa ko nek," aku berusaha terlihat baik baik saja
"Beneran, yasudah..hati hati ya dee" ujar si nenek sambil menepuk nepuk bahuku .
"Iya nek,.makasih ya nek" ujar ku sopan,.
Rasanya beliau adalah orang pertama yang peduli terhadapku sebab sudah setengah hari sejak pagi tadi, kuselusuri setiap jalan di kota ini
Mulai dari jalan jalan raya yang besar sampai gang gang sempit pun ku tapaki.
naik turun kereta dan busway pun telah ku lakoni.
Berbagai rintangan pun sudah ku temui ,.
Termasuk dompet ku yang raib saat sedang berdesakan di dalam kereta ekonomi yang kutumpangi.
Saat itu sepertinya aku benar benar lengah, ditambah karena aku juga terlalu lama melamun, aku sampai tidak menyadari ada tangan seorang copet yang menjamah tas butut milikku.
"Astagfirullah,..Dompetku mana" pekik ku di tengah tengah stasiun tanah abang yang ramai, di situ lah aku baru sadar kalau dompet ku telah menjadi santapan si copet itu.
Namun sayang seribu sayang, pekikan ku itu bahkan tidak di gubris oleh beberapa orang yang sempat menoleh kearah ku, mereka seakan acuh,tidak ada rasa empati nya banget ,deh.
Aku hanya bisa ngusap dada, mencoba untuk tetap bersabar dalam menghadapi ujian dari Allah ini.
Entah sudah berapa toko dan perusahaan yang ku datangi, tapi aku tak jua mendapatkan apa yang ku cari.
Hati ku semakin remuk , rasanya tidak ada lagi harapan untukku.
Bukannya mendapat pekerjaan,
Yang ada aku malah diusir satpam atau bahkan malah dikejar kejar oleh anjing penjaga.
Guk
Guk
Guuuk
si Anjing penjaga itu terus terus mengejarku, sesaat setelah aku mencoba untuk melamar kerja di sebuah toko yang terletak di jalan yang agak sempit.
Segudang pertanyaan seputar 'mengapa takdirku harus berubah 360 derajat secepat ini ?? ' ,dan pertanyaan pertanyaan lain pun kian menggrogoti isi otakku.
rasa lelah dan letih telah benar benar menguasai tubuh ku sepenuhnya.
Kepalaku terasa seperti di tusuk tusuk,
Jantungku bahkan sepertinya berdenyut seribu kali lebih cepat dari biasanya.
"Ya Allah,..kuatkan aku.." lirih ku lemah .
Namun tiba tiba saja aku terkulai lemas.
Bruk!!
Aku ambruk
Pandangan ku Sempat gelap dan kabur seketika.
Kuraba perlahan tekstur trotoar yang kasar dengan jemariku , moncoba menelaah apa yang terjadi.
Aku tersungkur di trotoar yang sepi
Kaki ku terasa begitu perih ,aku bahkan tak mampu untuk berdiri lagi.
' Somebody, please help me!! ' bisikku dengan suara yang hampir hilang
"Kamu gapapa?"
Sebuah tangan tiba tiba muncul dihadapan ku, tangan dengan kulit yang berwarna sawo mateng itu sepertinya tak asing bagiku.
Deg!!
Jantungku seperti berhenti betdetak tuk beberapa detik,
bibir ku pum turut kaku tak dapat mengucap sepatah katapun.
Rasanya seperti Mimpi, namun nyata.
Aku tertegun menatap orang yang baru saja menyapaku
"Ka...??!"
Bersambung...
Thank you !! By the way..aku butuh bgt kritik dan saran nya nih ,😆
Jangan lupa vote ya.. 😔
YOU ARE READING
Rise Up
General Fiction"Aku harus KUAT,." Gadis berusia belia itu mengepalkan jemari nya . Berusaha menguatkan Dirinya sendiri Ia sadar akan kewajibannya sebagai tulang punggung bagi adik adik nya . Gadis berwajah cubby itu mengusap air mata yang mulai membanjiri wajah n...
