"Butuh waktu belasan tahun untuk menemukanmu"
- Nathara Caree
Seorang gadis manis dengan nilai akademis yang bisa dibilang sangat pas-pasan. Menjalani kehidupan remajanya dengan cara yang tidak biasa. Suka berkelahi tapi dikagumi para lelaki. Terla...
Matahari masih sama. Terbit dari timur, tenggelam kearah barat.
Hujan juga. Turun ke tanah dari atas langit.
Jadi apa yang beda? Dunia masih tetap sama saja. Perbedaan yang sangat jelas adalah aku tumbuh dewasa. Bukan hal menakutkan kan?. Tapi bagi Ellan lain hal.
Kadang aku tidak mengerti cara berfikir orang yang sempurna dari lahir. Pikirannya bagai rumus matematika. Susah dipecahkan untuk aku, gadis dengan otak pas-pasan.
- dec 2019
Hujan masih sama derasnya dengan 2 jam lalu. Gadis berambut coklat itu sudah menguap bosan didalam kelas. Ia menutup buku diarynya, mulai berpindah mencari kesibukan lain. Siang ini adalah mata pelajaran Matematika. Dan itu adalah hal yang dibencinya. Ia mendecak sebal menatap kedepan papan tulis. Angka-angka itu membuat kepalanya ingin meledak.
Dia melirik samping kirinya, seorang laki-laki yang nampak fokus mencermati setiap penjelasan yang disampaikan seorang guru paruh baya didepan. Hah, memang beda ya seorang yang genius.
Gadis itu menarik seragam laki-laki itu. Mencoba mendapat perhatiannya. Laki-laki itu menoleh dengan sebelah alis terangkat. "Kurang berapa menit sih? Gue mau cepet-cepet keluar!" Ucap gadis itu lirih.
"Sabar." Jawab laki-laki itu. Gadis itu nampak tidak suka. Ya, alasan kenapa dia disini adalah karena laki-laki satu ini. Kalau bukan dia yang mencengkram lengannya tadi kuat-kuat dia sudah pasti bolos kelas.
"Lo yang ngehalangin gue! Inget! Gue eneg disini sumpah deh!" Seru gadis itu. Kemudian tiba-tiba sebuah spidol melanyang kearahnya. Gadis itu dengan siap menangkapnya sebelum mendarat di wajahnya.
"NATHARA CAREE! SUDAH SAYA BILANG PERHATIKAN PAPAN TULIS!" laki-laki paruh baya menatapnya dengan marah. Hello, cuma dia yang dimarahin?
"JANGAN NGAJARIN SAYA. SAYA TAU KAMU YANG MULAI DULUAN. JADI SEKARANG.."
"KRING! KRING!"
Yeah...Nathara berdiri sambil mengangkat tangannya ke atas. Dia sudah merdeka. Nampak raut wajah tidak suka dari sang lelaki tua itu tetapi Nathara tidak peduli. Ia sangat berterimakasih pada bunyi bel tadi.
Ellan hanya menatap sahabatnya itu dengan malas. Ia sudah tidak kaget lagi dengan ulahnya.
"Lan nanti pulang temenin gue yuk!" Ajak Nathara sambil memakan semangkuk bakso yang dipesannya. Ellan meliriknya, "Kemana?"
Nathara tersenyum misterius. "Ada deh."
🌼🌼
"Serius Nath?!" Ellan menatap kesekelilingnya. Seharusnya dia tidak mengiyakan ajakan Nathara tadi. Gadis disampingnya itu hanya tersenyum sumringah. Tak peduli dengan Ellan yang berwajah kesal.
"Udah ayo!!" Nathara menarik lengan Ellan membuatnya hampir kehilangan keseimbangan.
"Cepet Lan!" Nathara menuruh Ellan untuk mengangkatnya, menjadikan Ellan pijakannya menaiki pohon mangga yang ada dihadapannya kini.
"Gak! Gak mau!" Ellan bersikukuh tak mau membantunya. Ya, saat ini Nathara memakai seragam sekolahnya. Dia mengenakan rok, dan Ellan tidak akan mengijinkan gadis itu memanjat.
"Ih! Rese lo..oke gue bisa sendiri." Gadis itu melepas sepatu dan kaos kakinya. Bersiap ingin memanjat.
"Diem disitu! Biar gue yang manjat." Seru Ellan. Dia segera melepas sepatunya. Rasanya jijik menginjak tanah yang becek sehabis hujan tetapi daripada melihat Nathara yang bergelantungan diatas pohon dia rasa ini cara yang lebih baik.
"Uuu Ellan baik banget deh sama Nathara..cinii pelukk!!" Nathara mendekat, merentangkan kedua tangannya. Ellan dengan refleks mendorong gadis itu, untung saja Nathara tidak terjatuh.
"Yee..biasa aja bang..gak pernah dipeluk gadis cantik ya. Jangan-jangan alergi sama gadis cantik ya? Kaciannn.." Nathara tersenyum mengejek, membuat Ellan memutar matanya. Sudahlah, dia malas berlama-lama dikebun milik orang. Ia ingin segera pulang dan mandi.
Setelah mengumpulkan seplastik buah mangga ranum. Kedua remaja itu bergegas pulang. "Apa imbalannya bantu orang metik mangga dari kebun orang lain. Alisan bantu nyuri mangga orang." Ellan berjalan sambil membersihkan seragamnya yang terlihat kusut sambil menenteng sepatunya. Ia berjalan kaki tanpa alas, parahnya kakinya dipenuhi tanah becek.
Nathara meliriknya sekilas, sesekali mengangguk. Dia sama berantakannya dengan Ellan, berjalan tanpa alas kaki, menenteng kresek buah dan sepatunya."Oke..em..besok lo kan ada pertandingan basket. Gue temenin. Gue jadi tameng lo deh gimana?" Tawar Nathara. Ellan tersenyum menandakan setuju dengan penawaran itu.
"Deal."
"Deal."
××××××××××××××××××××××××××××××××
Mari Kenalan sama Cast "EPIPHANY"
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Zhao lusi as Nathara Casee
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.