Chapter 4 : Scott and the nightmare [edited]

1.2K 137 2
                                    

Chapter 4 : Scott and the nightmare

Ouch!” suara keluhan itu keluar dari bibirnya. Ia menutup lagi matanya yang baru saja dibuka. Cahaya terang dari jendela membuat matanya sakit. Belum lagi badannya dan wajahnya—semalam ibunya sempat mendorongnya lagi dan membuat kepalanya terbentur—yang mulai berdenyut sakit.

Mary mengernyit, menahan rasa sakit di tubuhnya, kedua matanya dibuka kembali hanya untuk menatap langit-langit kamarnya. Desahan lemah keluar dari bibir tipisnya. Memori atas semalam kembali terputar di kepalanya, membuatnya kembali teringat pada rambutnya yang kini tak beraturan dan juga sosok ibunya yang menakutkan.

“Ukh!” keluhnya. Tangannya terangkat untuk memegangi dahinya. Kepalanya berdenyut sakit. Mungkin memang sebaiknya dia tidak mengingat kembali kejadian semalam.

Dengan susah payah gadis itu mengangkat tubuhnya, duduk di atas tempat tidurnya, dengan satu tangan memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Rumahnya terdengar sepi, Ibunya pasti belum bangun. Setelah peristiwa semalam, Mary yakin ibunya kembali menenggelamkan diri dengan alcohol yang entah seberapa banyak lagi dan biasanya wanita itu tidak akan bangun hingga siang nanti.

Umumnya dengan rasa sakit dan kondisi seperti ini, akan jauh lebih baik jika dia istirahat dan tidak berangkat ke sekolah. Mary jelas bukan gadis yang kuat, kondisi sekolah tidak jauh lebih baik dari rumahnya, dia bisa dilukai seperti kemarin. Namun, Mary memutuskan untuk tetap berangkat. Baginya, menjalani hari di sekolah terdengar jauh lebih baik dibandingkan melewatinya di rumah. Ibunya bisa bangun kapan saja dan hanya Tuhan yang tahu apa yang akan dilakukan ibunya itu jika tahu dia bolos dari sekolahnya. Mary tidak mau menambah daftar alasan Ibunya untuk terus menyakitinya. Kadang dia berpikir kapan wanita itu memutuskan untuk membunuhnya.

Dengan susah payah, gadis itu membersihkan tubuhnya, menggunakan kamar mandi dengan cepatdan berganti pakaian. Pilihannya jatuh pada kaos lengan panjang yang juga menutupi lehernya dan jeans panjang, sepatu kets butut dan topi kupluk yang akan digunakannya untuk menutupi rambutnya yang berantakan, dia belum punya waktu untuk merapihkan rambutnya yang dipotong paksa oleh ibunya semalam. Mungkin akan dilakukannya nanti setelah pulang sekolah, sekarang yang harus dipikirkannya adalah bagaimana caranya agar tak ada seorangpun yang menyadari sesuatu yang berbeda dari dirinya hari ini.

Meski beberapa bekas luka masih dapat terlihat (seperti pipinya yang agak memerah), tapi sebagian besar dapat ditutupi dengan sweater panjangnya atau polesan bedak halusnya. Luka di sudut bibirnya akibat tamparan ibunya tidak akan begitu mengundang perhatian selama tak ada yang mendekati wajahnya. Dia yakin tak ada yang akan memperhatikannya. Mendekatinya saja jarang ada yang melakukannya—kecuali mengganggunya—apalagi memperhatikan keadaannya. Satu-satunya orang yang mungkin akan memperhatikannya adalah Ivory. Tapi gadis itu mungkin tidak hadir seperti kemarin. Oh, betapa dia berharap bahwa gadis itu benar-benar tidak hadir, hal terakhir yang diinginkannya adalah bercerita tentang keadaan rumahnya.

Perjalanan tiga puluh menitnya tidak buruk. Dia tak bertemu siapapun dalam perjalanannya. Tapi hal itu wajar mengingat hari masih sangat pagi, dia berangkat pagi sekali sekaligus untuk menghindari berhadapan dengan ibunya.

Sekolah masih agak sepi. Beberapa anak sudah tiba namun tak ada satupun yang memberinya lirikan, membuatnya bernafas lega. Keadaan seperti ini selalu membuatnya nyaman, tak ada gangguan, tak ada usilan, tak ada—

[Old Ver.] The Story of a Living Doll (Discontinued)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang