Seekor Anasie atau Lophius? #1

40 4 3
                                        

Aku terbangun dari tempat tidurku. Tidak terasa, malam begitu cepat berlalu. Aku perlahan membuka mataku. Lalu, aku membuka jendela yang sedikit berdebu. Sinar mentari mengenai diriku.

Pagi hari yang cerah sekali. Aku bergegas mandi. Aku berharap ada keajaiban yang menanti pada hari ini. Tidak lupa aku menyiapkan sarapan untuk diriku sendiri. Ya, itu memang benar bahwa aku tinggal sendiri.

Bagi orang lain, setiap mereka menyambut hari baru, mereka akan sangat antusias. Namun, bagiku, itu seperti membuka lembaran baru di neraka.

Aku begegas pergi ke sebuah restoran dimana tematku bekerja. Dalam perjalanan, aku menerima banyak penghinaan.

"Dasar gadis tidak tahu diri!" ujar seorang wanita muda.

"Sudah jelek, buruk rupa juga. Hidup lagi!" saut teman wanita muda.

"Ah, gimana kalau digabung? gadis buruk rupa! Sepertinya itu seru"

"Hahaha" mereka melepas tawanya dihadapanku. Aku tidak peduli dengan perkataan mereka.

Hinaan seperti itu aku dapatkan setiap hari. Aku tidak bisa membalas mereka. Aku tahu itu menyakitkan, tapi apa boleh buat. Di dunia ini, semua orang selalu menilai penampilan dari luarnya. Meskipun kejam, aku harus bertahan untuk hidup di dunia ini.

Namaku Olivia Currie. Aku seorang steward bagian mencuci piring di salah satu restoran ternama. Memang, pekerjaan ini selalu dipandang sebelah mata. Tapi, aku harus melakukannya agar aku bisa bertahan hidup. Lagi pula, sangat beruntung bagiku bisa mendapat sebuah pekerjaan dengan penampilanku yang bisa dibilang jelek dan buruk rupa seperti perkataan banyak orang.

"Olive, cepat kemari!" teriak Krits, seorang senior yang bertanggung jawab atas masalah di dapur. Aku baru saja mengganti pakaian kerjaku.

"Iya kak Krits. Ada yang bisa saya bantu?"

"Dasar lophius. Kamu tau ini jam berapa?" teriak Krits dengan nada marah.

Beginilah keadaanku. Aku merasa aku datang lebih awal. Entah mengapa senior Krits selalu mencari-cari kesalahanku.

"Kamu tau, kamu itu beruntung bisa diterima kerja disini. Harusnya kamu lebih giat lagi kerjanya. Belum tentu di luar sana ada yang mau menerima seekor lophius sepertimu!"

Kata-kata yang biasa aku dengar. Awalnya memang menyakitkan, tapi karena aku sudah mengalami hal itu setiap hari, sepertinya kata-kata itu sudah terbiasa ditelingaku. Aku juga tidak merasa sakit lagi.

Aku melanjutkan apa yang diperintahkan oleh senior Krits. Terkadang, aku heran mengapa senior Krits hanya berlaku keras kepadaku saja. Kepada steward lain, dia seolah-olah menjadi orang yang berbeda. Namun, aku tidak memperdulikannya. Yang penting bagiku, aku dapat pekerjaan, dari pekerjaan dapat gaji, dimana uang adalah kebutuhan yang penting bagiku untuk bertahan hidup.

Saat istirahat, steward lain salingberkumpul dan berbicara satu sama lain. Terkadang, mereka juga bercanda. Tapiaku, aku hanya sendiri dan merasa diasingkan. Maka dari itu, ketika istirahat,aku selalu pergi ke taman. Di dekat restoran ini, ada sebuah taman kecil yangpengunjungnya tidak begitu banyak. Aku biasa mampir ke sana ketika jamistirahat.

Status IgnotumWhere stories live. Discover now