"Jung
Jungie?
Jungie?"
Jungkook tersentak saat mendengar panggilan kakaknya. Kepalanya menoleh kekanan dimana ia mendengar suara kakaknya. Jungkook tersenyum, diiringi gigi kelincinya yang menyembul lucu dalam senyuman.
Total mengabaikan tatapan sendu seseorang yang memanggilnya. Hatinya tercubit melihat jungkook yang tersenyum menghadap kearah kanan, sedangkan dirinya berada disebelah kiri bocah lucu tersebut.
Kakinya melangkah memutar, posisi berjongkok, berada disebelah kanan bocah lucu yang tak memudarkan senyumannya bahkan sedetik pun. Kedua tangannya menggapai tangan yang lebih muda, melingkupi tangan gempal yang terasa dingin dalam tangan hangatnya.
"Kakak?"
Suara indah khas bocah terdengar dalam bibir mungilnya, netra tajamnya tak lepas dari pahatan wajah menggemaskan bocah didepannya. Matanya bulat besar berwarna hitam, hidungnya mancung bak perosotan, kulit seputih susunya, dan rambut tebal berwarna hitam dengan potongan mangkok yang menggemaskan.
Wajahnya nyaris sempurna padahal dirinya masih bocah. 7 tahun, umur bocah didepannya 7 tahun, tapi ia harus merasakan betapa kejamnya dunia terhadap seseorang yang memiliki kekurangan sepertinya. Adiknya tak bisa melihat keindahan dunia sebab kecelakaan yang dialaminya.
Taehyung tak pernah menyalahkan Tuhan sebab mengambil sesuatu yang sangat berharga bagi adiknya. Malah taehyung bersyukur, Tuhan tak mengambil seluruh anggota keluarganya.
Jungkook masih berumur satu setengah bulan saat itu, berada dalam gendongan ibunya, ibu mereka berdua. Sementara sang ibu duduk berdampingan dengan ayahnya, bersama dengan penumpang dari bus dengan tujuan sekolah menengah atasnya. Hari itu harusnya menjadi hari bahagia untuk dirinya, upacara kelulusannya, ayah, ibu, dan adik menggemaskannya akan datang memberikan selamat untuknya.
Hingga acara kelulusan berakhir, taehyung tak mendapati keluarga kecilnya dimanapun, hingga seokjin -kakak sepupunya menjemputnya dengan penampilan yang bisa dibilang luar biasa berantakan.
Taehyung tak akan marah sebenarnya meski keluarga kecilnya tak bisa datang, mengingat jungkook masih kecil untuk diajak bepergian, taehyung berencana akan mengganggu jungkook hingga menangis nanti, sampai ibunya marah-marah.
Tapi bayangan indah taehyung akan kehangatan keluarganya seketika sirna, seokjin tak membawanya pulang. Seokjin menurunkannya didepan rumah sakit, menuntunnya yang hanya berdiri terbengong didepan ruang jenazah.
Matanya memandang seokjin penuh pertanyaan. Seokjin merangkulnya, menuntunnya perlahan masuk kedalam ruang jenazah. Netra tajamnya membulat saat membaca nama kedua orangtuanya diantara banyaknya ranjang yang tertutup kain putih.
Kakinya bahkan terasa berat meski hanya berjalan, membuka kain putih dimana nama ibunya tertera diujung ranjang. Matanya berembun melihat wajah pucat penuh luka ibunya, beralih menuju ranjang disamping ibunya, membuka kain putih yang kembali menggoreskan hatinya.
Disana, taehyung melihat ibu dan ayahnya yang memejamkan mata dengan wajah penuh goresan luka. Tangisnya pecah, seharusnya tidak seperti ini. Pagi tadi, semua masihlah baik-baik saja, ibunya mengurus adik kecilnya, ayahnya yang berkutat dengan alat dapur untuk membuatkannya sarapan.
Taehyung menangis, dunianya hilang, keluarga kecilnya hilang, impian manisnya hilang. Ibu dan ayahnya pergi, taehyung bahkan belum bisa membahagiakan keduanya. Seokjin merengkuhnya, tangisannya teredam dalam pelukan hangat yang bahkan kini terasa hambar bagi taehyung.
Disela tangisnya, seokjin membawanya keluar, berjalan perlahan menuju salah satu ruangan yang didalamnya terdapat box bayi. Mata membulat saat menemukan adiknya yang tertidur pulas didalamnya. Seokjin berkata perlahan bahwa adiknya selamat, ibu dan ayah taehyung melindungi jungkook dalam kecelakaan yang mereka alami.
YOU ARE READING
Still with you -t.k ✔
FanfictionTujuan taehyung hanya satu, mengembalikan warna dalam hidup adik kecilnya. Short story brothership; Taehyung and jeongguk as main character;
