"Audrey. Bangun yuk, nak." Ucap seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu nya Audrey, Renata.
"Iya, mah." Sahut Audrey sambil mengusap mukanya lalu beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi yang berada di kamarnya.
Sedangkan Renata menuju lantai bawah untuk ke meja makan menyiapkan sarapan untuk buah hati satu - satu nya itu.
Setelah mandi, Audrey mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Tiba - tiba suara seperti piring pecah dari arah dapur rumah Audrey.
Brakk... Prangg...
"Mah. Mamah kenapa?" Teriak Audrey dari kamarnya sambil berlari menuju Renata. Hairdryer yang tadi ia pakai untuk mengeringkan rambut sudah ia lempar entah kemana.
Setelah sampai di lantai bawah, Audrey melihat sesosok laki - laki yang sudah hampir berkepala lima itu.
"Anda siapa datang - datang ke rumah kami hanya untuk merusak kebahagiaan orang?!" Bentak Geisha kepada laki - laki itu yang ternyata adalah ayah kandungnya yang sudah pergi entah kemana sejak ia masih kecil, yaitu Fajar.
"Wah, sepertinya anak ayah sudah besar." Ucap Fajar sambil memegangi kedua pipi Audrey dengan kencang menggunakan tangan kirinya.
"Anak? Anda memanggil saya anak? Cih, saya tidak sudi di panggil anak sama anda!" Balas Audrey dengan tegas tanpa adanya rasa takut.
"Lihat kan. Kau tidak becus merawat seorang anak!" Bentak Fajar kepada Renata sambil berjalan menuju Renata yang sudah terduduk di dekat meja makan dengan pecahan piring yang tadi di lempar oleh Fajar.
"Bukan ibu saya yang tidak becus, tetapi ada orang yang tidak punya hati meninggalkan kami!" Sahut Audrey sambil berusaha melindungi Renata.
"Mana duit dari hasil kerja kamu?" Tanya Fajar kepada Renata.
"Gak ada duit - duit! Silahkan anda keluar!" Ucap Audrey yang tidak menjawab pertanyaan sebelumnya kepada Fajar. Tetapi Fajar malah tidak menghiraukan ucapan Audrey.
"KELUAR!" Teriak Audrey yang kesabarannya sudah habis.
Lalu tanpa mengucapkan apapun lagi, Fajar pun keluar sambil tetap menyeringai.
"Mamah gak apa - apa kan?" Tanya Audrey kepada Renata.
"Gak apa - apa kok, nak. Sekarang kamu sekolah ya, biar mamah yang membereskan semuanya." Ucap Renata sambil berusaha berdiri dengan di bantu Audrey.
"Maaf ya, mah. Audrey gak bisa bantu apa - apa. Kenapa sih orang itu selalu dateng minta duit doang, padahal yang kerja kan mamah." Ucap Audrey sambil memeluk Renata.
Audrey, ia memang anak tunggal. Dari kecil ia hanya tinggal bersama ibunya, karena ayahnya memilih untuk pergi meninggalkan mereka. Tetapi beberapa bulan terakhir, hampir setiap minggu Fajar datang ke rumah Audrey hanya untuk meminta uang kepada Renata. Jika Renata tidak mau memberi uang kepada Fajar, Fajar pasti akan mengobrak - abrik rumah Audrey. Tetapi untung saja hari ini Fajar tidak mengobrak - abrik rumah Audrey.
Padahal Fajar sudah memiliki keluarga baru, tetapi entah mengapa Fajar tetap meminta uang kepada keluarga lamanya dengan cara memaksa.
"Kamu sabar ya, semoga masalah ini cepet selesai." Ucap Renata sambil tersenyum.
"Kamu belajar sekolah yang bener, kamu juga harus janji buat banggain mamah. Janji?" Lanjut Renata sambil mengacungkan jari kelingking nya.
"Audrey janji buat banggain mamah." Ucap Audrey sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Renata.
"Kamu langsung berangkat sekolah aja ya, ini mamah kasih uang lebih buat kamu sarapan disana." Ucap Renata sambil memberikan uang kepada Audrey.
"Ya udah ya mah. Audrey berangkat dulu." Ucap Audrey sambil mengecup punggung tangan Renata.
|My Surprising Boyfriend|
"Aduh pak, biarin saya masuk dong pak." Ucap Audrey kepada guru BK yang sedang bertugas menjaga pintu gerbang ketika sedang jam masuk.
"Kamu tuh emang salah satu siswi berprestasi, tapi kamu kenapa sih sering telat?" Ucap guru BK itu, Pak Dedi.
"Saya tuh lagi ada masalah pribadi pak, masa saya harus ceritain ke bapak sih. Udah ya pak biarin saya masuk." Sahut Audrey sambil berusaha untuk masuk ke kelasnya. Dan lagi - lagi Pak Dedi menghalangi Audrey untuk masuk.
"Ya ampun pak. Kenapa lagi sih pak? Biarin saya masuk dong pak, saya juga belum sarapan. Kalo saya belum sarapan nanti saya pingsan, kalo saya pingsan bapak mau tanggung jawab?" Ucap Audrey kepada Pak Dedi secepat kilat.
"Baik, bapak biarkan kamu masuk. Tapi kamu harus menjalankan hukuman dari bapak." Balas Pak Dedi.
"Hukuman apalagi sih pak? Heran saya sama bapak, kerjaannya ngasih hukuman mulu ke saya." Ucap Audrey sambil memijat pelipisnya.
"Itu kan emang kerjaan saya. Intinya kamu pulang sekolah harus membersihkan lapangan olahraga sekolah." Ucap Pak Dedi.
"Iya iya, masih pulang sekolah ini. Saya masuk ya pak, makasih." Balas Audrey sambil berjalan masuk.
"Heh! Kamu ini, bukannya pamit malah nyelonong aja!" Ucap Pak Dedi setelah melihat Audrey yang berjalan masuk tanpa izin terlebih dahulu dengannya.
Setelah sampai kelas Audrey, yaitu XII IPS 3. Terlihat Bu Leni, guru sejarah sedang menjelaskan materi di depan kelas.
"Maaf bu, saya telat." Ucap Audrey yang langsung berjalan ke arah kursinya lalu ia menduduki kursi itu tanpa salim terlebih dahulu ke Bu Leni.
"Oh, bagus ya kamu. Udah telat gak permisi atau minta maaf sama ibu." Bentak Bu Leni.
"Lah? Saya kan tadi udah bilang maap, trus suruh ngapain lagi? Udah lah bu, saya lagi pusing nih." Balas Audrey dengan santainya.
"Kamu ya, gak ada sopannya sama guru! Di ajarin apa sama ibu kamu?! Atau ibu kamu memang gak becus ngajarin sopan santun ke kamu?!" Bentak Bu Leni lagi.
"Maaf. Anda boleh hina saya, tetapi tidak dengan ibu saya." Balas Audrey dengan suara pelan namun menekan setiap katanya, lalu ia pergi keluar kelas.
"Mau kemana kamu?! Kurang ajar!" Teriak Bu Leni lagi.
"Bukan urusan anda." Balas Audrey tanpa melihat ke arah Bu Leni.
"Cewek gak bener!" Batin seseorang yang tidak sengaja mendengar percakapan Audrey dengan Bu Leni.
|My Surprising Boyfriend|
TBC//
Haii semua.. aku bawa cerita baru nii, semoga kalian suka ya~
Aduhh, siapa ya yg bilang Audrey tuh cewe gak bener. Padahal kan Audrey org nya baik:''
Tq buat semua yg udh mampir dan voment di cerita ini~
Yg blm, jgn lupa buat voment ya💜~
YOU ARE READING
My Surprising Boyfriend
Teen FictionBugg... "Aduh! Sakit banget pantat gue!" Teriak seorang perempuan yang sedang melewati lapangan tiba - tiba ada bola voli yang mengenai bokongnya. "Woi! Bukannya minta maap malah cuma ngeliatin doang!" Teriak perempuan itu lagi kepada seorang ketua...
