prolog

175 19 3
                                        

"Ayah!"

"Ayah! Ih, bangun!"

Suara yang tidak asing terus terdengar, sembari mengguncang tubuh yang masih meringkuk di balik selimut tebalnya. Pemilik tubuh itu jelas mendengar panggilan yang sudah entah berapa kali terulang, namun matanya enggan untuk terbuka, seolah dilem rapat tanpa celah.

"Kak, udah biarin dulu Ayah istirahat. Masih pagi juga, nanti juga Ayah bangun sendiri kok." Wanita berambut sebahu dengan daster Bangkoknya masuk ke kamar sambil menghela nafas kecil melihat tingkah anak semata wayangnya itu.

"Yah, Mama. Ayah kan udah janji mau ajarin kakak sepeda," rengek gadis kecil itu lalu meronta-ronta di atas ranjang. Sesekali itu memukul tubuh besar yang masih tidak merespon itu dengan kepalan tangan kecilnya.

Wanita itu lalu mendekat ke ranjang kemudian menatap putri kecilnya itu, "Tapi kan Ayah gak ada janji jam berapa. Bisa aja maksud Ayah itu nanti siang atau sore. Kakak lihat ini aja masih jam 6 Kak. Kasihan lho Ayah kemaren tidur larut karena nemenin Kakak nonton film Barbie." Tangannya mengusap sedikit air mata yang sempat merembes dari mata polos itu, "Gimana kalau gantinya sekarang Kakak bantu Mama buat sarapan, sekalian nanti Mama buatin salad buah kesukaan Kakak? Deal?"

Mata gadis kecil itu seketika berbinar, tidak perlu waktu lama dia langsung turun dari ranjang kemudian berlari kecil menuju keluar kamar. "Ayo, Mama. Deal!" teriaknya penuh semangat. Bagaimana tidak, salad buah buatan Mamanya tetap kesukaannya sampai kapan pun.

><><><

"Sayang, aku jam 2 nanti mau pergi nemenin Via ke rumah sakit, kamu jagain Zeela dulu ya."

Pria itu menatap istrinya heran seraya dua sendok di atas piring berhenti beradu, "Mau ngapain kalian? Nongkrong?" tanyanya karena jarang sekali istrinya itu punya janji mendadak pergi dengan orang lain. Ya, meskipun dia tahu istrinya dan Via adalah bestie kental yang susah dipisahkan, udah kayak Upin Ipin, bareng terus.

Wanita itu terkekeh kecil sambil memperdekat jarak wajahnya dengan suaminya itu. Padahal jarak mereka tidak ada se-meter di meja makan. "Via kayaknya hamil. Hasil testpack-nya garis 2 tapi dia takut salah, jadi mau dicek aja sekalian di rumah sakit biar meyakinkan," ucapnya antusias namun dengan suara berbisik, seolah takut ada yang mendengar, padahal halnya ada dia, suaminya, dan Zeela—putrinya.

"Terus kok kamu yang nemenin? Gio ke mana?" tanya pria itu seketika, mengingat Gio adalah suami Via. Apakah teman billiard-nya itu tidak bertanggungjawab, tapi rasanya tidak mungkin, melihat bagaimana bucinnya Gio ke istrinya itu sudah jadi legenda di perumahan mereka.

"Via mau buat suprise ke Gio, makanya mau dipastiin dulu. Kita kan tahu mereka juga udah lama nunggu moment ini," kata wanita itu kemudian melirik Zeela dalam, "Kita juga pernah di posisi dia sebelum Zeela ada kan, bagaimana senangnya ternyata aku hamil saat itu masih terasa sampai sekarang."

Senyuman seketika tercetak manis di wajah pria itu. Menatap dua perempuan di keluarga kecilnya itu membuatnya sangat bersyukur di hidup ini. Istri yang baik dan cantik serta putri yang lucu, rasanya hidup sudah sangat sempurna untuk dijalani.

"Eh, tapi kamu jangan bilang ke Gio dulu ya. Ini rahasia." Sinis wanita itu seketika. Dia tahu suaminya itu suka sekali keceplosan, seolah semua isi otaknya itu keluar sendiri tanpa sengaja.

"Iya sayang, enggak lho, janji. Hari ini aja aku bakal sibuk ngajarin Zeela belajar sepeda. Mana ada waktu cepu ke Gio," jawabnya pasrah. Istrinya itu sangat tidak mempercayainya untuk masalah menjaga rahasia. Bukannya tidak bisa menjaga rahasia, namun dia tidak bisa berbohong, sekalinya nanti Gio tiba-tiba muncul lalu menanyakan ke mana para istri mereka, bisa saja dia keceplosan menjawab dengan jujur.

"Kalo gitu aku siap-siap dulu," ucap wanita itu seraya bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan meja makan menuju kamar.

Pria itu menyungging senyum tipis, menatap putri kecilnya yang asik menikmati salad buahnya dan istrinya yang selalu ceria itu sungguh membuatnya bersyukur atas hidupnya. Karir yang baik, keluarga yang harmonis, dan kehidupan yang terasa sangat membahagiakan itu—rasanya dulu tidak pernah bisa dia bayangkan akan terjadi.

Ya, nyatanya ketakutannya dahulu berlalu juga. Memang selalu ada hikmat di atas penderitaan.

><><><

Friday, 11 April 2025

Never AgainStories to obsess over. Discover now