Menyebalkan. Kata yang cocok dinamai untuk hari ini. Bagaimana tidak ?
Oh ayolah, beberapa jadwal workshop yang terlupakan olehku. Dan si boncel menyebalkan itu, ya siapa lagi. Si putih kecil bau ingus itu, tuh kan jadi terbawa rasis.
Chela, perempuan yang sebaya denganku, yang sekarang sebagai researcher salah satu lembaga penelitian ternama di Palembang sekaligus sebagai manager juga sahabatku.
Kami bersahabat kurang lebih 7 tahun, dari semenjak kuliah S1 hingga sekarang kami sama-sama sedang menjalani studi S3.
Karena jadwal korespondensi dan seminar internasional yang cukup padat, membuatku harus merekrut manager sekaligus asisten pribadi. Hoby menulis dan menganalisa kasus yang sudah aku geluti semenjak SMA, sekarang aku bekerja, ah maksudnya aku menjalani hoby-ku tanpa memikirkan apa pun (kadang materi tidak bisa menjanjikan kebahagiaan, klise lama namun ampuh untukku).
Menggeluti hoby sebagai jurnalis salah satu Koran dan menjadi author jurnal di lembaga berita ternama. Tak jarang aku bersama sahabatku Chela, harus terjun langsung ke lokasi kasus, sampai kadang kami harus berurusan dengan pihak kepolisian atau lembaga hukum. Ah, aku benar-benar muak dengan hukum Negara ini.
Baik, sampai situ keluh kesah dan intro-ku. Aku benar-benar kesal sekarang. Beberapa jadwal workshop jurnalis dan pertemuan dengan advokat ditunda karena aku harus memeriksa tulisan junior-junior jurnalis yang sedang menyorot kasus pembantaian antar suku di Lampung. Kenapa selalu saja berita senang sekali menyorot masalah jumlah korban, kerugian yang dialami korban, atau menyorot profil tersangka. Kenapa bukan menyorot latar belakang konflik, kerenggangan sosial akibat konflik, dan solusi misal melalui konsolidasi atau mediasi masalah ?
Lagi-lagi aku harus menghela nafas, banyak coretan merah yang aku garis di draft berita mereka. Aku bukanlah tipikal yang akan menyobek kertas-kertas itu atau membuat lambang silang berwarna merah sebesar-besarnya. Terlalu melelahkan.
“Permisi, Bu Divianda. Saya ingin mengambil draft berita tim observer”, Rita, yang kukenal sebagai junior di tim observer, gadis 23 tahun berambut panjang itu masuk ke ruanganku.
“Ya. Silahkan ambil. Oh iya, jangan lupa untuk segera menyetorkan revisi-nya. Karena deadine berita ini 2 hari lagi”. ucapku.
“Baik Bu, saya permisi”, Rita meninggalkan ruanganku dengan menenteng tumpukan draft berita.
Baru saja aku merenggangkan otot dan menelungkupkan wajah diatas meja. Suara rusuh datang,
“Parah emang ya kamu Divianda Herasti, sumpah deh. Telfon aku gak diangkat, sms gak dibales. Chat WA juga gak dibaca. Segitu sibuknya kamu Vi, sampai hati menelantarkan aku”, Chela datang dengan rusuh dan melontarkan ucapannya yang luar biasa lebay.
Tolong siapapun buang saja dia ke benua Antartika.
Aku masih setia menelungkupkan wajah dan tanganku menutup telinga. Enggan membuka mata barang sebentar, sampai Chela berkata, “Oke fine, kamu udah gak anggep aku sahabat ya? Nyuekin aku sampe segininya. Vi… inget kita udah sahabatan 7 tahun dan harus selalu bersama dalam waktu yang lama lagi. Kamu gak inget kita yang selalu cekikikan tiap nonton drakor Ji Chang-wook? Gak inget kita sampe rela numpang dirumah dosen gara-gara kemaleman pulang bimbingan dan gak punya ongkos naek bis? Gak inget kita yang susah seneng bersama? Sampe satu---“
“Satu kasur berdua, sepiring berdua, bahkan satu baju berdua”, lanjutku malas. “La, aku sampe hapal kamu ngomong gituuuu terus berulang kali”, ucapku datar.
“Hehehe, makanya Vi jangan bikin khawatir ih. Seenggaknya kamu respon pesan aku, aku khawatir kamu belum makan siang”. Aku sampai tidak habis pikir, Chela dengan wajah tanpa dosanya berkata dia khawatir dan tidak ingat dia salah apa. Ah ralat, dia bukan tidak ingat, tapi pasti sedang berlagak pura-pura lupa supaya tidak mendapat death glare dariku.
YOU ARE READING
BAGAIMANA
Romance"Hubungan darah bukan suatu patokan bagi 2 insan memiliki satu logika, 2 insan yang kita akrab sebut 'kakak-adik'. Tak ada yang tahu" Hari ini, semua akan terjawab. Dengan bermacam intrik, macam konflik, sampai masalah yang perlu penyelesaian untuk...
