Halo semua, mohon maaf untuk segala mood yang angin-angin-an membuat beberapa karya yang harusnya selesai, jadi mangkrak.
Ini adalah Bab lama saya bersama @HyugaApria, saya akan up sampai End tanpa ilustrasi🫣
Tapi kalo tiba-tiba saya ada hilal buat ilustrasi mungkin di satu atau dua bab terdapat ilustrasi buat memanjakan mata kalian.
Semua bab di cerita ini akan saya revisi. Terima kasih atas dukungannya ya..
All character belonged to
©Masashi Kishimoto
Naruhina FanCanon
.
.
Enjoy
.
.
Senja turun perlahan, menyuguhkan keindahan singkat yang kerap membuat para pujangga kehabisan kata demi mengabadikan pesonanya. Meski hanya hadir selintas, parade warna di ufuk barat itu selalu berhasil menyusupkan beribu rasa ke dada siapa pun yang menatapnya.
Di bawah leburnya cahaya petang, langkah-langkah kaki terdengar beriringan di atas jalanan Konoha. Anggota Tim 7 baru saja menuntaskan misi mereka. Bayangan panjang mengekor di belakang tatkala mereka melangkah menuju kedai Ichiraku.
Tepat saat tirai kedai tersibak, aroma kuah kaldu yang gurih langsung menyambut indra penciuman. Naruto membelalak berbinar. Tanpa membuang waktu, ia melompat duduk di bangku kayu panjang sembari menepuk meja.
"Paman! Ramen miso jumbo satu, ekstra daging!" Serunya penuh gairah, kakinya bergoyang-goyang tak sabar.
Sakura yang melangkah di belakangnya hanya mampu menepuk jidat, sementara Sai menyunggingkan senyum tipisnya yang khas-keduanya menggeleng pelan menyaksikan tingkah konyol sahabat pirang mereka.
Tak jauh dari tempat duduk mereka, dua orang warga desa tengah berbincang hangat di sudut meja.
"Hei, Kaito, kau tahu tidak?" Aoda memajukan badannya, menopang dagu dengan wajah berseri-seri. "Kemarin aku tak sengaja bertemu dengan Hinata-sama. Astaga... dia benar-benar sangat cantik."
Kaito terkekeh pelan, menyeduh teh hangatnya sebelum membalas, "Hinata-sama memang tiada duanya, Ao. Dari sekian banyak kunoichi di desa ini, beliau yang paling sederhana... tapi justru itu yang membuatnya paling memikat."
"Bukan cuma cantik," timpal Kaito lagi, matanya menerawang membayangkan sosok sang tuan puteri klan Hyuga. "Dia lembut, ramah, dan anggun. Kulitnya yang putih bersih itu... sungguh layak menyandang gelar Byakugan no Hime."
Naruto yang menyimak pembicaraan itu tanpa sengaja, perlahan menghentikan gerak jemarinya yang memainkan sumpit. Sudut bibirnya terangkat, mengukir ukiran senyum yang agak linglung namun hangat. Sama sekali tak ada rasa cemburu. Bagaimana bisa cemburu jika ia sendiri mengamini-nya? Gadis yang beberapa hari lalu ia kecup di bawah benderangnya cahaya Bulan itu memang sungguh mempesona.
Plak!
"Itteii...!" Naruto mengaduh keras, jemarinya cekatan mengelus puncak kepalanya yang baru saja menjadi sasaran empuk tinju Sakura. "Kenapa kau mendadak memukulku, Sakura-chan?!"
Sakura melirik sinis, mendengus pelan sembari menarik sepasang sumpit bambu. "Ekspresi wajahmu itu menjijikkan, Naruto. Kenapa tersenyum-senyum sendiri seperti orang bodoh?" Cetusnya sebelum mulai menyantap mi di mangkuknya.
"Makan ramenmu dulu, Naruto-kun," potong Sai halus. Senyum buatan mengembang di wajah pucatnya, matanya menatap Naruto dengan kerlingan jahat. "Baru setelah kenyang, kau bisa melanjutkan khayalan indahmu tentang Hinata."
YOU ARE READING
Beautiful Mate
Fanfiction©Masashi Kishimoto NaruHina FanCanon Rate M [Lipeuchi dan HyugaApria] Langkah Hinata yang mendadak sejajar dengan sosok lain di sudut jalan desa sore itu menjadi pemantik keraguan yang meletup seketika. "Hinata, kenapa kau mendekati pria lain?" suar...
