Chapter 1

64 2 0
                                        


Kira-kira sudah hampir 1 jam tatapan sepasang mata hazel itu tertuju pada gelapnya sungai Yarra. Orang-orang yang lalu lalang di pinggir sungai tentunya beranggapan bahwa pria ini sedang punya masalah karena pria yang baik-baik saja tentunya tidak akan bersandar di pagar dinding mengarah ke sungai Yarra, pada malam hari, seorang diri, dan di tengah musim dingin.

Beberapa melemparkan pandangan simpati tetapi tidak berani menegur orang asing pada larut malam. Siapa yang tau jika orang ini mabuk dan ternyata seorang kriminal? Melbourne merupakan kota multikultural yang penduduknya sangat beragam. Walaupun termasuk dalam 10 kota teraman di dunia, kejahatan tentu saja tetap terjadi di Melbourne.

Pria itu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku kanan jaket tebalnya lalu merogoh saku celananya untuk mencari lighter. Ia menaruh rokok di mulutnya lalu menyulut ujungnya dengan api dari lighter.

Samar-samar ia merasakan kehangatan dari api lighter yang membuatnya tersenyum masam. Ia berpikir kehangatan tidak cocok untuknya.

Tidak untuk malam ini.

Ponsel di saku jaket pria itu bergetar, tapi pria itu tidak bergeming sama sekali. Mulutnya masih sibuk menghisap rokok yang sedang terbakar, sementara tangan kiri nya berlindung dari angin malam musim dingin di dalam saku celana jeansnya. Getaran ponselnya mati hanya selama beberapa detik, getaran kedua muncu lkemudian. Pria ini merogoh saku jaketnya dengan satu tangan sementara tangan lain memegang rokok yang masih menyala. Nama ayahnya muncul di layar ponsel. Tanpa ragu ia menekan tombol merah, lalu kembali menyimpan ponselnya di saku jaket.

Pria itu melirik jam tangan mewah yang melingkari tangannya. Ia punya waktu 10 menit sebelum bodyguard ayahnya menemukannya untuk menyeretnya ke jamuan makan malam tahunan yang paling ia benci.

"Nevan!"

Ternyata pria yang dipanggil 'Nevan' itu salah perhitungan waktu. Dengan mudah mereka menemukannya. Akan tetapi, alih-alih suara berat para bodyguard, telinganya menangkap suara akrab.

Nevan menoleh ke sisi kanan untuk mencari asal suara itu, lalu menemukan sahabatnya, Adrian Sterling, berdiri sekitar 100 meter darinya. Mantel mewah berwarna hitam legam membungkus tubuh pria dengan tinggi 190 cm itu dengan sangat baik. "Ah sial, sudah kuduga kau ada disini!"

"Aku tidak berpikir ayahku akan menyuruhmu mencariku." Nevan melempar rokok di tangannya ke sungai Yarra lalu menatap Ian yang sudah berdiri disebelahnya. "Apa sekarang kau jadi kacung ayahku?"

"Sialan kau! Tahun lalu kau melewatkan dinner dan bersembunyi entah dimana dan kau tau kan ayahmu sangat marah! "

"Jadi benar, kau datang untuk membawa ke dinner sialan itu?"

"Nev, ayolah. Kau bukan anak kecil lagi." Suara Ian meninggi, menggambarkan rasa frustasinya. "tahun ini kau berumur 22 tahun."

Nevan mengalihkan pandangannya dari Ian kembali ke sungai Yarra.

"Kenapa? Sekarang mau terjun ke sungai?!" teriak Ian jengkel. Ia menatap jam tangan mewah edisi terbatas yang melingkari pergelangan tangan kirinya. "Nevan, kita harus pergi sekarang atau akan sangat terlambat."

"Kau bisa pergi sendiri."

"Kau lebih suka diseret bodyguard daripada pergi dengan sukarela denganku?"

"Mereka belum datang."

"Mereka AKAN SEGERA datang." Ian memberikan penekanan. Tetapi pria yang dikhawatirkannya masih tidak bergeming. Pria keturanan Jerman itu memutuskan untuk mengubah taktiknya. "Dengar bro, kita hanya perlu duduk dan makan selama kurang dari 1 jam, lalu kita pergi ke The Lui. Matt bilang ada The Diamond yang baru datang dari London."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 02, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Yours, AnzelierWhere stories live. Discover now