Prolog

15 2 0
                                        

"Gue pulang dulu." Rayhan berucap sambil beranjak, meninggalkan gadis yang sedang menyedot jus alpukat yang hampir tandas.

Gadis itu hanya terdiam setelah selesai minum, juga beranjak meninggalkan cafe yang selama dua tahun menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka.

Perjalanan cinta yang berubah goyah di dua bulan terakhir ini.

Denara, gadis yang mulai muak dengan ini semua, yang bimbang harus berhenti atau dilanjutkan.

Tentu saja tentang hubungan.

Hubungan yang sudah tak sejalan.

Di dua bulan terakhir yang melelahkan, yang mulai tak peduli, yang mulai pura-pura tuli ketika salah satu sedang ingin berbagi.

Berbagi cerita yang biasa mereka lakukan, harus menggantung di tenggorokan.

Entah apa yang jadi penyebab, yang jelas mereka sudah mulai lepas.

Rayhan yang ketika bertemu selalu memegang ponsel yang dimiringkan, juga tak jarang Denara yang sibuk membuka lembar demi lembar novel yang di genggam.

Memang sudah tak berguna jika masih bersama, tapi kenapa tak ingin mengakhiri juga?

Menunggu salah satu berucap berpisah? Tapi hingga saat ini masih saja tak juga di luncurkan.

Denara menghentikan taksi yang melintas, menyebutkan tujuannya, lalu taksi melaju membelah jalan di kota Jepara.

***

Denara menyembunyikan jarinya di dalam saku hoodie yang dikenakannya. Udara malam ini terasa lebih dingin daripada malam sebelumnya, efek dari hujan tadi siang mungkin saja.

Saat ini ia sedang duduk di bangku yang ada di Pantai Kartini, menikmati ombak yang berderu pelan, menerawang jauh kedepan.

Memikirkan hubungan yang sudah terasa menyebalkan. Jika terus berlanjut ya tidak terurus, diakhiri tapi tak tahu bagaimana caranya berhenti.

Denara mengambil novel di dalam tas gendongnya, ia memang selalu membawa tas berisi novel kemana-mana. Guna menemaninya ketika terluka.

Seperti saat ini misalnya.

Tapi rasanya membaca pun tak membuat pikirannya longgar, malah makin melebar.

Denara menghentikan kegiatan membacanya, memikirkan karena apa Rayhan berubah, yang semula tak pernah begitu sebelumnya.

Apa karena Denara yang terlihat kampungan seperti yang dibilang teman-temannya?

Yang selalu membawa barang tak wajar di mata teman-temannya?

Bukan seperti mereka yang membawa peralatan kosmetik dan sanak saudaranya.

Bukankah itu tergantung masing-masing orangnya?

Semua orang berhak memilih sesuatu yang disukai, yang memberi kenyamanan, dan menurut Denara, ia nyaman dengan dirinya yang seperti itu.

Itu artinya ia sudah menjadi diri sendiri.

Diluaran sana masih banyak yang meninggikan gengsi, melakukan apapun yang mungkin tak memberikan kenyamanan untuk diri mereka sendiri.

Tapi terserah mereka saja, itu memang yang sudah dipilihnya.

Malam sudah semakin larut. Denara beranjak, berjalan menuju pintu keluar, berdiri di sisi jalan sambil mengotak-atik ponselnya.

Memesan ojek online, yang kini driver nya sudah menuju ke tempatnya berdiri saat ini.

Mungkin sampai dalam waktu 15 menit lagi.

Entah bagaimana nasibnya setelah sampai rumah nanti.


***

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 08, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

MengambangWhere stories live. Discover now