15/05/2020
One shoot
__________###_____
Aku hanya seorang gadis biasa, semua hal tentangku selalu 'biasa'. Tetapi, ada satu hal dariku yang sedikit berbeda dari orang lain, dan itu adalah
-
-
-
-
-
-
-
-
Mimpi
Mimpi yang kalian sebut dengan Lucid Dream. Akan aku ceritakan untuk kalian, tetapi ini bukan kisahku. Ini tentang mereka, dua sejoli yang tengah dimabuk asmara. Miyo dan Han.
Han yang begitu mencintai Miyo. Pria itu rela melakukan apapun untuk kekasihnya. Han memberikan rasa percaya seutuhnya kepada Miyo. Ia benar benar mengabdikan diri untuk wanitanya. Budak cinta yang setia. Kurasa sebutan itu pantas untuknya.
Miyo punya dua teman. Mereka adalah wanita terhormat yang lebih cantik dari Miyo. Keduanya berasal dari keluarga yang berada, sangat berbanding terbalik dengan Miyo yang jelata, mereka mempunyai segalanya. Kecuali satu, cinta dari Han.
Paras Han yang menawan memikat begitu banyak hati. Seperti setangkai bunga yang dikerubungi sekawanan lebah. Tapi, mata pemuda itu hanya terpaku pada satu gadis, Miyo si gadis jelata.
Miyo gadis yang cukup manis sebenarnya, kalau saja bukan karena statusnya dan desas desus yang simpang siur tentang latar belakangnya, Miyo pasti sudah jadi rebutan para pemuda yang haus akan cinta. Ia adalah gadis yang baik hati, periang dan begitu mencintai Han. Sangat mencintai Han.
Tak ada yang janggal dari dirinya kecuali kebiasaannya membawa tas selempang kemana mana. Itu akan jadi hal biasa jika tas itu tidak tampak penuh dan berat. Bahkan ada rumor aneh tentang tas itu. Tapi Han tak pernah mempersoalkannya, tentang garis keturunan Miyo yang misterius pun Han tidak keberatan, sungguh budak cinta sejati.
Suatu hari, Miyo mengajak Han masuk ke sebuah goa yang tak sengaja mereka lewati ketika tengah berjalan jalan di tepi hutan. Han mengiyakan tanpa rasa curiga. Yang Han tidak ketahui, goa itu tidak punya jalan keluar bagi siapapun yang masuk. Pintu goa tertutup begitu mereka sampai di dalam.
Han panik, ia memeluk Miyo dalam kegelapan. Berusaha melindungi wanitanya, miliknya dari apapun. Tapi sesuatu membentur perut Han, pelukan mereka terlepas. Han memegangi perutnya yang terasa sakit. Miyo mengeluarkan lilin dan pematik dari tas lalu menciptakan cahaya untuk mereka berdua. Gadis itu meraba sesuatu lagi dari dalam tasnya, benda paling besar yang berada disana. Ia berjalan menuju sudut dinding dalam goa yang terdapat batu lumayan besar, pas untuk diduduki.
"Maafkan ayahku, dia sedikit benci kepadamu. Tapi dia baik." Miyo tersenyum tipis sambil mengelus bagian atas benda itu.
Yang Han lihat sekarang adalah boneka Daruma, persis seperti rumor yang beredar. Tapi, tak pernah ada kesaksian yang jelas, seolah saksi mata terbungkam. Menghilang. Tak ada yang pernah mencoba membuktikan langsung. Mereka terlalu takut.
Warna boneka itu merah menyala, sangat kontras dengan kegelapan didalam goa itu. Boneka itu menatap Han dengan raut garang. Ia jelas terlihat sangat membenci Han. Han ketakutan tapi ia mencoba terlihat berani, setidaknya di depan wanitanya.
"Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?" Han berjalan mendekat, menatap Miyo dengan lembut.
Miyo menunduk sedih, "Aku khawatir kamu menjauhiku karena takut."
Han tersenyum tipis, berjalan perlahan ia mendekat lalu berlutut dan menggenggam tangan kiri Miyo, "Itu hal terakhir yang akan terjadi selama bumi masih berputar. Aku memutuskan menerima semua tentangmu. Tanpa terkecuali." Han tersenyum lalu kembali mencoba mengamati sekeliling.
Goa tampak lebih jelas dengan cahaya lilin. Dinding, langit langit, bahkan ujung gua terlihat. Memang tidak terlalu dalam hanya paling jauh sekitar dua puluh meter. Akan tetapi tidak ada sedikitpun celah untuk keluar dari sini. Tak ada bias cahaya yang bisa masuk. Han terduduk lemas, tenaganya benar benar terkuras untuk mengelilingi goa ini.
Melirik ke arah Miyo yang sedang berbincang dengan ayahnya-boneka daruma-yah mungkin tidak dapat disebut perbincangan karena Miyo hanya berbicara sendiri kepada boneka yang jelas tidak mungkin dibalas.
Mengetahui fakta mengejutkan tentang "Ayah" Miyo, Han teringat ibunya. Beliau single parent, sibuk bekerja dan tidak punya waktu untuk putranya. Sibuk dengan dunianya sendiri. Berbincang bahkan dapat dihitung dengan jari. Sejauh yang Han ingat, mereka tidak punya kenangan menyenangkan. Tak pernah benar benar ada waktu khusus keluarga untuk mereka. Yang ia ingat hanyalah kebencian sang Ibu untuknya.
Terutama ketika Han masih kanak kanak, ia sering menjadi pelampiasan stress Ibunya. Han bahkan belum bisa berhitung saat itu. Ia diseret seret, dipukul, dibentak dan diperlakukan layaknya samsak. Ia juga pernah dikurung di dalam gudang seharian. Mungkin karena wajahnya mirip dengan sang ayah yang melarikan diri dengan wanita lain. Han tidak tahu.
Tapi Han tetap tidak bisa membenci sang Ibu. Ia wanita yang membuat Han dapat melihat dunia. Ia wanita yang membesarkan Han. Walaupun sedikit rasa kasih sayang yang ia perlihatkan, bahkan jika itu hanya kurang dari satu persen, Han yakin sang Ibu mencintainya. Ibulah cahaya harapannya, walaupun sang Ibu juga mimpi buruk yang membuatnya tak berdaya. Seperti pisau bermata dua. Disatu sisi ibunya yang menjadi alasan ia ada, disisi lain ibunya yang menghancurkan tubuh ringkihnya. Han merasa sekecil semut di depan sang ibu. Ya...Eksistensinya hanya sekecil itu.
####
Miyo memandangi Han yang kelelahan mencari jalan keluar, bibir tipisnya tersenyum simpul. Tangan kanannya sibuk mengelus bagian atas boneka, tatapannya tak pernah terlepas dari sang kekasih. Ah, Han kekasihnya.
Kekasih yang tampan
Kekasih yang baik
Kekasih yang setia
Kekasih yang begitu mencintainya,
Han,
Hanya pemuda itu seorang yang mau menerima semua tentangnya. Tentang Miyo si rakyat jelata, tentang Miyo yang tidak jelas asal usulnya, Tentang Miyo dengan segala desas desus tak mengenakkan yang ada. Tapi sikap Han hanya membuat lalat lalat itu semakin menyukainya. Han seperti gula manis yang dikepung sekawanan semut. Miyo benci itu, Han hanya miliknya, hanya boleh ia miliki. Ia sangat ingin menghancurkan serangga sialan yang berani mendekati miliknya.
Serangga tak tahu malu bermimpi ingin bersanding dengan Han nya? Miliknya? Cih, sampah. Enyah saja kalian ke neraka. Miyo ingin Han dinikmati oleh dirinya sendiri.
Han miliknya.. harus jauh dari para lalat kotor itu.
Dan ia akan melakukannya. Pasti.
####
Mata boneka Daruma melirik Han dan Miyo bergantian. Kemudian memelototi Han. Seperti ingin meyampaikan sesuatu. Han yang merasa diperhatikan menoleh, pandangannya tepat jatuh pada dua bola mata boneka Daruma yang menyala.
Seketika Han merasa sesak, keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Badannya seperti dililit tali panas. Miyo dan boneka itu tampak membesar baginya tapi kemudian ia sadar, ia menjadi kecil .
....Ia menjadi semut.
"Itulah yang kau bayangkan tentang dirimu." suara berat khas laki laki itu menggema di kepala Han.
Miyo menatap Han lalu tersenyum manis. Tak ada raut terkejut di wajah cantiknya.
"Ah, Han ku, kamu milikku seutuhnya,"
The Lucid Dream - End
YOU ARE READING
Flowers Hallucination
RandomSeries ini berisi tentang kumpulan one shoot yang dari berbagai kisah dengan genre horor. [Original Story] Penulis : @Kyliixp @Broke_Sp @Rara_qa Start 15/5/20
