Aku pernah berteman dengan ragu. Hitungan waktu menjelaskan selama dan sedekat apa aku dengan ragu. Rasanya ragu seperti mengalahkan mimpiku. Aku yang saat itu jatuh, benar-benar jatuh karena memuja percaya diri yang utuh. Kecewa yang sangat dalam datang dalam hidupku bersama tangisanku yang serasa gagal.
Aku merasa tidak tahu harus bagaimana dan sama sekali tidak memihak percaya diri lagi kala itu. Aku cukup berdiam saja, bisa menangis ketika teringat bahwa aku yang terlalu memihak percaya diri kala itu namun sekarang mengecewakanku.
Setidaknya ada beberapa orang yang masih memberiku asupan dukungan yang tiada henti sehingga membuatku bangkit kembali. Salah satunya dia, teman lelakiku. teman lelaki satu-satunya yang kala itu selalu ada bersamaku ketika aku sedang mencoba menerima segala harap yang jatuh, segala kecewa yang menyerang, segala kebimbangan yang tak berarah, dan segala kepercayadirian ku yang belum tumbuh sama sekali.
Dia teman sekaligus orang yang tercipta datang untukku dengan segala tawa yang ia bawa. Tawa yang terbungkus sederhana namun selalu membuatku merasa luar biasa.
Waktu yang berlalu semakin membuat percaya diriku kembali tumbuh namun tetap tak terlalu utuh. Karena takut kecewa kembali mengadu dengan membawa tangis yang nantinya lebih syahdu.
Aku berjuang kembali demi orang-orang terkasihku yang selalu mendukungku entah keluarga, teman dan sahabatku. Hari semakin terasa istimewa saja, padahal tidak ada yang luar biasa. Namun sudah terlalu banyak hal sederhana yang membuatku luar biasa dari dia. Entahlah, aku rasa energi positif dari dia selalu sampai kepadaku. Dia mau menerima keluh kesah ku, dia mau menerima cerita yang kadang tidak penting dariku, dia mau mendengar cerita paling sederhana dariku, bahkan dia mau mendengar cerita mimpi-mimpiku yang tak semua orang mau menghargai adanya mimpiku.
Aku tidak menyangka bahwa berteman akrab dengan dia membuatku senyaman itu, sampai aku bisa menceritakan segala mimpiku yang hampir langka ku ceritakan kepada siapapun.
Sampailah pada waktu perjuanganku akan ditentukan. Malam sebelum hari itu, dia sudah pasti ada dengan memberiku setumpuk tawa yang katanya bisa membuatku sedikit rileks sebelum tempur. Rasanya energi positif itu lagi dan lagi kembali sampai padaku dengan apa yang dia lakukan untukku meskipun sesederhana itu.
Hingga sampai pada waktuku bertempur kembali dan aku mengerjakan dengan hati yang tenang tanpa berpikir bagaimana hasil akhirnya nanti terlebih dahulu.
Mengikuti alur waktu sambil menunggu hasil tempur yang semakin lama membuatku lebih lagi mengenal dia. Mudah sekali aku bercerita dengannya, mudah sekali aku mengeluh kepadanya, mudah sekali aku bercanda tawa dengannya.
Hampir waktu menunggu hasil tidak membuatku terlalu kepikiran dengan bagaimana nanti. Tak lepas dari itu, rekam jejak otakku masih mengingat jelas bagaimana dia melantunkan doa untukku agar aku bisa menggapai mimpi-mimpiku satu persatu. Sungguh tak bisa hilang dari rekaman otakku ini.
Waktu berjalan cepat dan sampai pada hasil tempurku yang sudah keluar. Tanganku gemetar ketika aku akan melihatnya, tapi karena rasa takutku dirundung kecewa sampai aku tak sanggup mengotak-atik gawai ku. Sehingga kakak ku yang melihat hasil tempurku pertama kali dan dibacakan dengan keras yang membuatku langsung menangis sambil dirangkul oleh ibuku yang menangis haru pula. Rasanya saat itu lega sekali, tak ada sesak yang mengganjal, seperti semesta memihakku dengan memilihku menjadi salah satu orang yang berhak bahagia di hari itu.
Senyum sumringah dari hati dan wajahku belum sirna jika harus mengingat waktu itu. Sungguh Tuhan memberi kesedihan tak lain bersama kebahagiaan.
Hari yang sama setelah perjuangan itu berhasil. Termasuk orang-orang yang sama pula, dia. Sejak beberapa waktu itu, aku merasa bahwa aku bersahabat dengan keraguan. Tidak berani mengakui sesuatu padahal untuk diri sendiri. Tapi semua hari hampir selalu tentang dia, dan aku memutuskan persahabatan dengan keraguan.
ESTÁS LEYENDO
Titik Kepergian - Kumpulan Cerita Pendek
Historia CortaKumpulan cerita pendek Titik Kepergian akan selalu ada dalam hidup. Entah kita maupun orang lain yang harus saling pergi meski terpaksa atau tidak. Namun, kepergian itu akan terasa berat untuk merasakan kehilangan dan semua hal yang telah terbiasa j...
