"Arsy........" teriak seorang perempuan paruh baya membuat seluruh yang orang mendengarnya menjadi merah padam.
Apalagi seseorang yang di panggil perempuan paruh baya tadi sudah menggigil, eh salah! Maksudnya gemeteran, menutup telinganya rapat-rapat.
"Arsy!!! Kenapa handukmu ada diatas kompor!" teriak wanita paruh baya itu lagi.
"OMEGAT!" Seorang gadis berambut hitam legam yang berantakan dengan kulit putih, dan juga iris mata yang kecoklatan. Jangan lupakan dengan lesung pipit di pipi kirinya. Manis!.
Ia langsung membelalakkan matanya mendengar teriakan ibunya.
Sontak ia berjalan kearah dapur dengan malas. Langkahnya bergontai seperti orang yang tak mempunyai semangat hidup.
"Arsy! Kenapa handuk bisa mampir di kompor sih!"
"Iya Umi, tadi Arsy habis mandi terus buru-buru mau tidur,"
"Iya Arsy, tapi apa hubunganya sama handuk diatas kompor? Mau di jadikan sate? Atau ayam panggang?" Racau perempuan paruh baya sembari menatap ke seorang gadis bermata coklat itu. Berkali-kali ia mendapati putri sulungnya bertindak ceroboh.
"Sate aja Mi!"
Tampa basa basi Arsy langsung mengambil handuknya yang sedang bertengger diatas kompor dengan raut mukanya yang khas. Lesu dan tak bergairah. Lantas pergi begitu saja meninggalkan ibundanya menuju halaman belakang rumah.
"Arsy!!! Kangen sama tampolan maha dahsyat Umi yaa!" lagi-lagi wanita paruh baya tadi meneriakinya.
Arsy kembali dari halaman belakang rumah untuk menjemur handuk. Lagi-lagi ia harus berpapasan dengan ibundanya yang super cerewet tingkat piala dunia.
Ya! Namanya Maryam, lengkapnya Maryam binti Haji Khoirul. Seorang saudagar kaya pada zamannya. Namun, kekayaan Haji Khoirul tidak bisa di wariskan kepada Maryam, karna hartanya habis untuk bayar hutang.
Arsy menatap ibundanya sejenak, ia sepertinya mendengar teriakan ibundanya sewaktu menjemur handuk.
"Yang Maha dahsyat itu Allah Umi"
Arsy tetap dengan wajah datarnya, sesekali menguap karna mengantuk.
Lalu pergi meneruskan langkah malasnya menuju kamar, tampa memperdulikan reaksi ibunya akibat perkataanya. 'Bisa-bisanya ia sempat mengajak bercanda ya!
Tapi! Ia sempat yakin, bahwa Amarah ibundanya kini sudah mencapai level 15. Tingkat kepedasan tertinggi saat dia makan mie setan kemarin di warung Mang Oji. Dan ternyata itu benar! Sesuai dengan prediksinya.
"ARSY!!!!"
Suara Menggelegar menyambut telinga Arsy. Gendang telinganya seakan hampir tak berfungsi, karna insiden teriakan ibundanya yang sangat memekakkan.
Dan percayalah! Suara retakan dinding di dapur mulai bernyanyi, begitu juga sebuah piring yang sedang berseluncur diatas lantai. Mengejutkan bukan? Seakan mereka adalah iringan musik amarah Maryam yang membahana dan bohay.
PRAAANK!!!!
Langkah Arsy terhenti. Bukan karna kaget, dia sudah terbiasa dengan pecahan piring karna ulahnya, bahkan setiap hari harus ada piring yang rela gugur demi kedamaian dirinya dan ibunya. Sepiring untuk satu hari, selusin untuk seminggu. Hebat bukan?.
Sejenak menatap ibundanya lagi dari kejauhan.
"Iya Umi, Arsy gak ceroboh lagi."
"Cewek kok ceroboh! Gak payu rabi engko kowe!( Tidak laku nikah nanti kamu!)"
"Hush Umi, jangan gitu ah, Arsy takut! Ucapan itu doa lho,"
YOU ARE READING
Aku, Kamu, Dan Sebuah Kopi.
RomanceREVISI SETELAH TAMAT. »KALO ADA TYPO BILANG YAA😊«
